Fakta Tentang Islam Blangkon di Banyumas

Fakta Tentang Islam Blangkon di Banyumas

Pecihitam.org – Kawasan Jawa Tengah bagian selatan merupakan sebuah komunitas yang sangat kental dengan tradisi Jawa yang diadopsi dari tradisi kerajaan Hindu-Budha yang penuh dengan mitologi yang bersumber dari keyakinan animisme dan dinamisme salah satunya adalah Islam Blangkon.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kekentalan tradisi masyarakat Jawa bagian selatan khususnya Kabupaten Banyumas dan Cilacap yang begitu kuat, menjadikan proses Islamisasi di daerah ini menampilkan corak dan langgam dari sistem keyakinan dan berbagai ekspresi keagamaan yang unik pula.

Pada uraian terdahulu dijelaskan bahwa ketika Islam datang di daerah ini dan terjadi proses dialog dengan budaya lokal Jawa maka akan melahirkan model keberagamaan yang ‘sinkretis’ dengan menampilkan Islam yang berwatak dan bergaya Jawa yang sering disebut dengan Islam Abangan. Hal ini berbeda dengan watak Islam dari komunitas Jawa Tengah bagian utara (Pantura) yang dikenal dengan Islam Santri (Geertz, 1976: 14).

Salah satu produk dialog antara Islam dengan budaya lokal Jawa di Jawa Tengah bagian selatan adalah adanya komunitas Islam Blangkon yang hingga sekarang eksistensinya masih kuat di Desa Pekuncen, Kecamatan Adipala dan Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.

Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap merupakan dua kabupaten yang dulu adalah eks karesidenan Banyumas. Secara geografis, posisi Kecamatan Jatilawang, Kecamatan Adipala dan Kecamatan Kroya merupakan daerah kecamatan yang jauh dari ibukota Kabupaten Banyumas maupun Cilacap.

Tokoh leluhur yang menjadi panutan dan tempat mereka meminta sesuatu adalah Kiai Bonokeling yang makamnya menjadi sentral kegiatan ketika ritual Nyadran dilaksanakan. Aktivitas ritual lain adalah kegiatan selametan yang biasanya dilaksanakan pada setiap Jemuah Pon yang dilaksanakan di sebuah tempat yang bernama Pasemuan.

Baca Juga:  Gus Yusuf Chudlori: Sikap Toleransi dan Kisah Masjid vs Gamelan

Menurut penuturan informan kunci yang bernama Ki Wiryatpada, dalam (Ridhwan, 2008: 7) sistem rekruitmen keanggotaannya bersifat kekerabatan yang dibaiat sejak masih kanak-kanak oleh salah satu dari Kiai Kunci. Model kepemimpinan kelompok Islam Kejawen ini bersifat turun temurun atas dasar kekerabatan.

Sedangkan struktur kepemimpinan kelompok ini adalah dengan mengikuti model kepemimpinan struktur lurah (kepala desa) jaman dulu. Dalam hal relasi sosial antara kelompok ini dengan kelompok luar selama ini terjalin secara baik dengan mengedepankan sikap toleransi yang tinggi.

Salah satu simbol identitas dari kelompok ini dapat dilihat dari segi pakaian yang berbeda dengan masyarakat lainnya yang biasanya dipakai ketika berlangsung aktivitas ritual.

Bagi pengikut laki-laki berpakaian sarung hitam dan jas/baju hitam dengan Blangkon sebagai penutup kepala. Sedangkan untuk para ibu dengan menggunakan kebaya atau kemben model pakaian Jawa kuno.

Pandangan keagamaan komunitas Islam Blangkon sangat kental dengan tradisi agama orang Jawa. Sistem keyakinan mereka sangat jelas tergambar dari penuturan salah seorang tokoh (kesepuhan) aliran ini yakni Bapak Mulyareja dalam (Ridhwan, 2008: 10) yang menyatakan:

“Menungso urip teng dunya niku nek mboten nyantri nggih nyandi”.

Pernyataan diatas berarti bahwa, manusia hidup di alam dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu nyantri dan nyandi. Dua istilah ini digunakan untuk memilah antara kelompok yang notabene muslim dengan pengamalan rukun Islamnya yang lima secara utuh yang sering mereka sebut dengan Islam lima waktu dan kelompok muslim yang pengamalan rukun Islamnya hanya tiga (syahadat, puasa dan zakat), tanpa melakukan shalat lima waktu.

Baca Juga:  Kaedah Nahwu Islam Nusantara ala Santri Pondok Pesantren As'adiyah Wajo

Karena itu istilah nyantri sama dengan “Islam lima waktu”, sedangkan istilah nyandi lebih identik dengan “Islam tanpa shalat lima waktu”. Nyandi berarti poros keyakinannya mendasarkan pada Punden yaitu tempat-tempat suci. Tempat yang paling dianggap suci adalah makam Kiai Bonokeling.

Seorang wakil Kiai Kunci, Wiryatpada menuturkan, “Kula niki nggih Islam, sanes Hindu sanes Budha”. Ia percaya akan adanya Gusti Allah sebagai Tuhan, tempat di mana manusia meminta pertolongan. Ia juga percaya bahwa Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah.

Dengan jelas ia melafadkan shalawat Nabi Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Ali Sayyidina Muhammadin. Semua umat Islam hakikatnya bergerak pada tujuan dan muara yang sama yaitu mencapai kebenaran hakikat yaitu kebenaran yang hanya milik Allah.

Perbedaan dalam beribadah tidak lebih perbedaan dalam hal cara mencapai tujuan. Dalam beribadah seseorang perlu perantara antara lain dengan menyalakan dupa dan kemudian diberi pengantar doa oleh Kiai Kunci/wakil Kiai Kunci agar dapat dikabul oleh Yang Maha Kuasa.

Baca Juga:  Sikap Nahdlatul Ulama Tentang Hubungan Antara Muslim dengan Non Muslim - Bagian 3

Syahadat atau “sadat” menurut lisan komunitas muslim kejawen hanya diucapkan pada saat melakukan perkawinan di depan penghulu (Petugas Pencatat Perkawinan dari Kantor Urusan Agama/KUA).

Adapun puasa, sebagaimana puasa yang dilakukan kelompok santri, dilakukan pada bulan Ramadhan dengan mengikuti aturan waktu sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah.

Namun demikian, sebagian para kesepuhan aliran ini masih mempercayai puasa sirrih yaitu “Ne srengenge lingsir lan wetenge kerasa perih” (kalau matahari sudah tergelincir dan perut terasa perih) maka ketika itu boleh berbuka puasa.

Relasi sosial komunitas Islam Kejawen dengan masyarakat lainnya berjalan secara alamiyah dengan mendasarkan pada tata nilai lokal masyarakat desa pada umumnya dengan ciri masyarakat yang guyub dan rukun. Keyakinan agama diposisikan sebagai hak yang dimiliki oleh setiap manusia dan ia bersifat pribadi. Semangat hidup berdampingan (co-existence) menjadi nilai yang sudah melembaga.

Mochamad Ari Irawan