Apa Itu Feminis Liberal? Ini Makna dan Cara Berpikirnya

Apa Itu Feminis Liberal? Ini Makna dan Cara Berpikirnya

Pecihitam.org- Feminis Liberal memberikan perhatian utama kepada individu, rasionalitas, pembedaan publik dan privat, dan reformasi institusi (Marsh and Stoker, 2012: 131).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perempuan dan laki-laki memiliki tingkat rasionalitas dan nalar yang sama, oleh karenanya perempuan dan laki-laki seharusnya diperlakukan dengan cara yang sama.

Perempuan yang berada pada posisi yang tidak sama dengan laki-laki, tidak memiliki hak yang sama sebagai warga negara, berdampak kepada diskriminasi, marginalisasi, kekerasan, subordinasi.

Jika perempuan mendapatkan pendidikan, kedudukan, kesempaatan politik, serta penjaminan hak perempuan sebagai hak asasi manusia yang sama antara laki-laki dan perempuan, maka perempuan tidak akan tersubordinasi lagi.

Feminis liberal percaya bahwa kesetaraan lakilaki dan perempuan serta partisipasi politik yang sama dan dijamin secara legal oleh sistem, akan mampu membebaskan perempuan dari ketertindasan (McLaren, 2002: 6).

Feminisme merupakan ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakdilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002: 158).

Teori feminis mencakup prinsip-prinsip kontekstualitas, prinsip pelaku aktif dan pertanggungjawaban, prinsip sebab akibat dari pemikiran-pemikiran dan prinsip keanekaragaman.

Baca Juga:  Terlanjur Berhubungan Badan saat Haid, Apa yang Harus Dilakukan?

Feminis berkaitan dengan pengalaman perempuan, mengungkapkan aspek-aspek kehidupan perempuan yang menggugah kesadaran (Humm, 2002: xii).

Feminisme menawarkan metodologi yang berbeda dengan metodologi yang mainstream. Bagi feminis, pengalaman semua manusia adalah valid dan penting bagi pembangunan ilmu pengetahuan.

Sedangkan ilmu pengetahuan patriarkis, yang selama ini diklaim sebagai sesuatu yang ilmiah, berdasarkan pada premis bahwa pengalaman dan pengetahuan laki-laki yang dianggap mewakili keseluruhan manusia, laki-laki dan perempuan, dan versi pengetahuan yang diproduksi bisa diterapkan untuk semua orang (Spender, 1985: 5-6).

Metodologi feminis berfokus pada perempuan dan posisinya di masyarakat, sedangkan metodologi lain berfokus kepada laki-laki. Penelitian feminis melihat realitas dari sudut pandang perempuan, dan menolak gagasan yang menyamakan laki-laki dan maskulinitas sebagai hal yang ‘universal’, dengan tidak lagi menempatkan laki-laki sebagai sentral (Spender, 1985: 67).

Feminis liberal cenderung memakai kerangka yang telah ada tentang institusi pemerintah. Negara dapat difungsikan sebagai institusi yang bisa memperbaiki kehidupan perempuan dengan menjamin hak-haknya secara sama sebagai manusia, melalui aturan dan perangkat hukum yang adil dan tidak bias gender.

Baca Juga:  Apakah Air Ketuban Najis? Ayah dan Bunda Wajib Tahu!

Dengan menggunakan standar maskulinitas sebagai sesuatu yang positif dan sebagai prasyarat utama untuk memasuki wilayah publik, feminis liberal nampak elitis, karena hanya perempuan yang telah mencapai standar itulah yang bisa mendapatkan kesetaraan (Marsh dan Stoker, 2012: 131).

Elstain mencatat kegagalan feminis liberal yang tidak bisa menyelesaikan dualisme hierarki ranah publik dan ranah privat. Ranah publik dianggap lebih baik dan lebih berharga dibandingkan dengan ranah privat. Sehingga untuk menjadi berharga, maka ranah privat disetarakan dengan ranah publik, dengan hegemoni maskulinitas.

Hal ini akhirnya memunculkan gugatan dari kalangan perempuan sendiri yang merasa kecewa dengan tidak diakuinya keberadaan perempuan dengan femininitasnya di ruang publik, dan suara perempuan juga tidak serta merta diakui sebagai aksi politik (Lee, 2007: 170).

Feminis Liberal menjadi jalan yang membebaskan perempuan-perempuan dari kelompok menengah keatas. Perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi, kemampuan life skill tinggi, kemampuan ekonomi tertentu, juga kemandirian yang membuatnya mampu bersaing dengan laki-laki di dunia yang maskulin.

Baca Juga:  Ini Hukum Khitan dalam Islam dan Ragam Manfaatnya

Namun demikian hal ini tidak mengubah kondisi perempuan tingkat bawah yang tidak mampu mengakses sumber-sumber ekonomi, tingkat pendidikan rendah dan kelompok perempuan yang tersubordinasi dalam keluarga.

Feminis Liberal yang memfokuskan diri pada upaya perbaikan institusi formal dan legal, tidak akan bisa mengungkapkan bahwa perempuan memiliki cara pandang yang berbeda karena pengalaman hidup dan ketertindasan yang dialaminya.

Demikian pula dengan penekanan kaum feminis liberal kepada partisipasi perempuan dalam institusi-institusi formal dan legal tidak akan menjangkau objek yang akan diteliti oleh peneliti umum.

Mochamad Ari Irawan