Gus Dur dan Ketertarikannya dengan Kebudayaan Perancis

Gus Dur dan Kebudayaan Perancis

Pecihitam.org – Semasa hidup Gus Dur, periode Kairo dan Baghdad merupakan salah satu fase hidup yang sangat penting dalam mmembentuk kematangan intelektual Gus Dur. Di dua kota legendaris di Timur Tengah itu, Gus Dur mengeksplorasi hampir semua khazanah pemikiran dan kebudayaan dunia.

Di kedua kota penting dalam sejarah Islam itu, Gus Dur semakin matang memahami khazanah intelektualisme Islam. Sebab, Kairo dan Baghdad merupakan jantung dari masa keemasan peradaban Islam.

Tak hanya puas dengan khazanah pemikiran dan kebudayaan Islam, Gus Dur juga melahap khazanah pemikiran dan kebudayaan Barat. Bagi seorang Muslim yang lahir pasca masa kolonialisme Barat terhadap masyarakat muslim di Indonesia dan Timur Tengah, membaca khazanah pemikiran dan kebudayaan sang penjajah sungguhlah amat penting.

Salah satu kebudayaan Barat yang sangat intens digeluti oleh Gus Dur adalah kebudayaan Perancis. Greg Barton, seorang penulis Biografi Gus Dur (2016) berulangkali menuturkan perihal kegemaran Gus Dur dengan berbagai pernak-pernik kebudayaan Perancis selama ia di Kairo dan Baghdad.

Semasa di Kairo misalnya, selain mengunjungi Perpustakaan Universitas Amerika di Kairo yang terkenal memiliki banyak koleksi buku yang bagus, Gus Dur juga mengunjungi Perpustakaan Perancis yang ada di sana.

Baca Juga:  Habib Abdullah bin Alawi al Haddad, Pembaharu Tarekat Alawwiyah

Greg Barton juga menuturkan bahwa diantara bacaan sastra Gus Dur, seorang sastrawan Perancis bernama Andre Gide (1869-1950) menjadi salah satu list novelis yang disukai oleh Gus Dur. Konon, salah satu tokoh dalam novel Andre Gide itulah yang mengilhami nama puteri sulungnya, yakni Alissa.

Gus Dur tak hanya membaca novel-novel Perancis. Ia juga mengonsumsi dengan sangat lahap berbagai film Perancis. Saksinya adalah Gus Mus, sahabat Gus Dur dan teman selama tinggal di Kairo. Suatu waktu Gus Mus diajak Gus Dur untuk membolos kuliah demi menontong film Perancis di salah satu Bioskop di Kairo.

Kebiasaan Gus Dur menonton film Perancis itu ternyata masih berlanjut di Baghdad. Di kota itu, Gus Dur tetap rajin menonton film-film Perancis di Bioskop kota Baghdad. Mengingat, pada periode Baghdad ini keuangan Gus Dur semakin stabil karena bekerja di salah satu perusahaan import barang-barang dari Eropa dan Amerika.

Ketertarikan Gus Dur dengan kebudayaan Perancis tak hanya berhenti di sana. Selama kuliah di Baghdad, Gus Dur ternyata sempat mendalami bahasa Perancis di Kedutaan Besar Perancis. Di sana Gus Dur kursus bahasa Perancis selama tiga bulan.

Baca Juga:  Tuanku Imam Bonjol; Biografi Hingga Sejarah Perang Padri

Jika dilihat dari berbagai cerita tentang konsumsi Gus Dur dengan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan Perancis, sepertinya ada hal khusus yang melatarbelakanginya. Namun, sayangnya sampai saat ini belum terungkap judul film Perancis apa yang menjadi favorit Gus Dur.

Informasi perihal judul-judul film Perancis yang digemari Gus Dur penting untuk melihat secara lebih gamblang lagi apa sebenarnya yang disenangi Gus Dur dari khazanah kebudayaan Perancis.

Jika kita telisik, kebudayaan Perancis dalam sejarah kebudayaan Islam memiliki keterkaitan yang cukup penting. Perancis merupakan salah satu penjajah negeri Mesir pada era Napoleon Bonaparte. Pada masa itu, Napoleon menguasai Mesir dari sisi politik hingga kebudayaan.

Pada masa Napoleon-lah, salah satu proyek Orientalisme Barat dilakukan terhadap Islam. Masyarakat Arab diteliti kebudayaan, pemikiran dan keislamannya secara akademis dengan tujuan untuk menguasai dan menjajahnya.

Atau juga mungkin ada alasan lain kenapa Gus Dur tertarik dengan kebudayaan Perancis. Mungkin karena Gus Dur sangat kagum dengan prosesi pembentukan kebudayaan modern Perancis yang kokoh setelah melakukan revolusi dan menumbangkan kekuasaan feodal di Perancis.

Baca Juga:  Gus Dur dan Kisah Kepala Ikan untuk Makan Anjing di Baghdad

Setelah menumbangkan kekuasaan dan kebudayaan feodal Perancis, Perancis modern lahir dengan membawa spirit kemanusiaan dan kesetaraan untuk dunia. Adapun jargon revolusi yang menggambarkan spirit itu adalah Egalite (kesetaraan), Liberte (Pembebasan), dan Fraternite (Persaudaraan).

Meskipun demikian, alasan dan motivasi apa yang mendorong Gus Dur sehingga menyukai kebudayaan Perancis tetaplah menjadi misteri bagi kita semua. Semoga saja kedepannya akan ada informasi yang memperjelas perihal masalah ini.

Demikianlah sekelumit cerita perihal kedekatan Gus Dur dengan kebudayaan Perancis selama periode Kairo dan Baghdad. Ketertarikan Gus Dur dengan kebudayaan Perancis meliputi: menonton filmnya, membaca karya sastranya, dan memelajari bahasanya. Wallahua’lam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG