Hukum Onani Saat Puasa, Apakah Puasanya Batal dan Wajib Membayar Kafarat?

hukum onani saat puasa

Pecihitam.org – Ketika berpuasa kita tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga untuk mengendalikan semua hawa nafsu, seperti misalnya melakukan hubungan suami istri. Sehingga seseorang orang yang melakukan hubungan inti saat berpuasa maka puasanya batal dan wajib membayar denda berupa kafarat. Namun, bagaimana hukum onani saat puasa ? Apakah Onani termasuk dalam hal yang membatalkan puasa dan wajib membayar denda (Kafarat)?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Diantara hal-hal yang dapat mebatalkan yaitu apabila memasukkan sesuatu ke dalam lobang (hidung, telinga dan lain-lain), melakukan hubungan badan dengan sengaja, muntah disengaja, pengobatan dengan memasukkan sesuatu ke kemaluan maupun dhubur, keluar air mani sebab bersentuhan, haidh, nifas, gila, dan murtad.

Menurut Syaikh Nawawi dalam kitabnya Nihayatuz Zain, menjelaskan sebagai berikut :

(واستمناء) أى طلب خروج المني وهو مبطل للصوم مطلقا سواء كان بيده أو بيد حليلته أو غيرهما بحائل أولا بشهوة أولا

Jadi, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :

  1. Adakah Maksud atau sengaja ingin mengeluarkan air mani ataukah tidak. ?
  2. Adakah persentuhan (an mubasyaratin) dalam proses keluarnya air mani itu atau tidak?

Apabila seseorang memang tidak dapat menahan diri saat berpuasa, lalu muncul hasrat untuk melakukan onani dengan cara-cara tertentu (mengosok/meremas kelamin, atau menonton gambar porno atau sengaja (ngelamun jorok) dan sampai menyebabkan keluarnya air mani, maka tentu saja hal tersebut dapat membatalkan puasanya.

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Khalwat dan Ikhtilat dan Apa Perbedaan Keduanya

Sama halnya apabila tidak ada niat untuk mengeluarkan mani, tetapi keluar karena adanya kontak langsung atau bersentuhan antar kulit, misalnya mencium, menggenggam tangan atau alat kelamin menempel pada sesuatu sehingga keluar air mani, maka hal itu juga membatalkan puasa.

Sedangkan jika proses keluarnya air mani itu terjadi begitu saja dengan sendirinya, tanpa ada hasrat dan tidak ada proses an mubasyaratin persentuhan langsung, seperti ketika mimpi basah atau tidak sengaja melihat pemandangan yang seronok maka hal ini tidak membatalkan puasa.

Adapun menurut Syekh Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin menjelaskan bahwa melakukan onani saat puasa itu termasuk hal yang membatalkan puasa sebagaimana keterengan berikut.

ويفطر باستمناء، وهو استخراج المني بغير جماع – حراما كان كإخراجه بيده، أو مباحا كإخراجه بيد حليلته أو بلمس لما ينقض لمسه بلا حائل

Baca Juga:  Hukum Menyantuni Anak Yatim di Bulan Suro

“Puasa itu batal sebab melakukan onani, yaitu upaya mengeluarkan mani tanpa melalui jimak atau hubungan intim, baik onani yang haram, seperti mengeluarkan mani dengan cara menggerakkan kemaluan dengan tangannya sendiri, atau onani yang mubah, seperti meminta tolong istri melakukan onani dengan tangannya, atau menyentuh kulit seseorang yang membatalkan wudu bila persentuhannya tanpa penghalang.”

وأما إذا كان الإنزال بلمس ما يشتهى طبعا: فتارة يكون محرما، وتارة يكون غير محرم، فإن كان محرما، وكان بشهوة وبدون حائل، أفطر، وإلا فلا. وأما إذا كان غير محرم – كزوجته – فيفطر الإنزال بلمسه مطلقا، بشهوة أو لا، بشرط عدم الحائل. وأما إذا كان بحائل، فلا فطر به مطلقا، بشهوة أو لا.

Ketika keluar mani sebab menyentuh kulit seseorang itu tanpa adanya niat untuk mengeluarkan mani itu terdapat dua perincian.

  • Pertama, jika yang disentuh itu tidak ada kemungkinan dapat membangkitkan birahi menurut kebanyakan psikologis orang normal, seperti menyentuh anak lelaki yang kemayu (kecewek-cewekan) atau organ kemaluan yang terpisah dari badan, kemudian keluar air mani maka hal itu tidak membatalkan puasa, baik terdapat syahwat atau tidak, baik terdapat penghalang saat menyentuh atau tidak.
  • Kedua, apabila mani itu keluar disebabkan karena menyentuh sesuatu yang membangkitkan birahi secara psikologis orang normal. Jika terdapat syahwat dan tanpa kain penghalang, maka hal ini diharamkan serta dapat membatalkan puasa. Namun, apabila tidak terdapat syawat dan menggunakan kain penghalang, maka keluar mani itu tidak membatalkan.
Baca Juga:  Tentang Kebiasaan Jamaah Haji Naik ke Jabal Rahmah dan Berdoa, Apakah Ada Anjurannya?

Jadi, hukum Onani saat puasa itu haram jjika dilakukan dengan syahwat dan tanpa penghalanag. Selain itu, orang yang batal puasa karena melakukan onani hingga keluar mani itu hanya wajib menyesali perbuatannya dan diwajibkan mengqadha puasanya di selain bulan Ramadhan, tanpa harus membayar denda (kafarat) sebagaimana denda hubungan suami istri di siang Ramdahan.

Lukman Hakim Hidayat