Penjelasan Lengkap Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua, Ulama & Orang yang Dihormati

Hukum Mencium Tangan

Pecihitam.org – Salah satu topik yang sangat perlu dijelaskan kepada umat hari ini adalah bagaimana Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua, Ulama atau terhadap Orang yang Dihormati, karena Masih banyak orang yang keliru memahami kata ta’zhim (penghormatan tinggi) dan kata ibadah.

Kekeliruan ini mengakibatkan pencampuradukan antara dua kata tersebut. Sehingga menarik kesimpulan pengagungan (ketundukan) berarti penyembahan.

Berdasarkan pengertian yang salah ini, mereka berpendapat bahwa bersikap khidmat dan bersikap rendah diri di depan pusara Rasulallah Saw, pusara orang-orang saleh, mencium tangan orang-orang saleh atau para wali, para penguasa maupun orang kaya yang saleh, dianggap juga sebagai sikap berlebih-lebihan (ghuluw), yang dapat menyeret orang pada sesembahan selain Allah Swt. (syirik).

Begitu pula adat istiadat dan tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa. Pada tiap hari Raya pada umumnya orang Jawa–juga yang beragama Islam–berjongkok (bersungkem) didepan ayah ibunya masing-masing.

Sebenarnya, semua ini sama sekali tidak bisa diartikan penyembahan. Bahkan, tidak terlintas sama sekali dalam hati serta pikiran untuk menyembah orang-orang saleh atau wali, yang dicium tangannya, sebagaimana menyembah Tuhan. Semua itu hanyalah bentuk ta’zhim atau tabaruk (mencari keberkahan).

Hadits Hukum Mencium Tangan dan Kaki

Hadis-hadis Rasulallah S.a.w dan atsar para sahabat yang berkaitan dengan hukum mencium tangan dan kaki:

  1. Kisah dua orang Yahudi yang bertanya kepada Nabi Saw. berkenaan sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa a.s. Rasulallah Saw. menjawabnya secara rinci tidak kurang satu pun. Kemudian kedua orang Yahudi tersebut mencium tangan dan kaki baginda Nabi Saw. (HR An-Nasa’i no. 4078, Ibnu Majah 3705 dan Tirmidzi berkata hadis hasan sahih 2733 & 3144 serta di sahihkan juga oleh Imam al-Hakim).
  2. Abu asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab Ibnu Malik bahwa ia berkata, “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubatku, aku mendatangi Rasulallah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya.”
  3. Dari Buraidah r.a., “Sesungguhnya seorang lelaki datang kepada Nabi Saw. lantas mencium tangan dan kaki beliau Saw” (HR al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan mensahihkannya).
  4. Dari Zari (salah satu delegasi suku Abdil Qais) berkata, “Sewaktu kami tiba di Madinah, kami segera turun dari kendaraan kemudian mencium tangan Nabi Saw.”(HR. Imam al-Bukhari dan Abu Daud 5225).
  5. Imam al-Bukhari dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad, imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu al-Arabi dalam Juzu-nya serta imam al-Baghawi dalam Mu’jam-nya, meriwayatkan bahwa ketika utusan Abdul Qais tiba di Madinah, mereka mencium tangan dan kaki baginda Saw.. Dalil ini, telah diuraikan lagi oleh Ibnu Abdul Bar, dikuatkan dengan dalil lain oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dan di keluarkan juga oleh imam Abu Ya’la, Thabarani serta al-Baihaqi dengan sanad yang bagus (jayid).
  6. Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Kami menghampiri Nabi Saw., kemudian mencium tangannya”.(HR. Abu Daud 5223).
  7. Diriwayatkan oleh imam Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari As-Saddi, berkenaan dengan firman Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya (kepada Nabi Saw.) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu. (QS.Al-Maidah [5]:101). Setelah mendengar ayat ini, Sayidina Umar r.a. bangun menuju kepada Nabi Saw. dan mencium kaki baginda Rasulallah Saw.”
  8. Didalam kitab Sharim al-Maslul oleh Ibnu Taimiyah yang mengambil riwayat hadis dari Ibnu al-Arabi dan al-Bazar, “Sesungguhnya seorang lelaki menyaksikan mukjizat sebatang pohon datang kepada Rasulallah Saw., kemudian kembali ke tempatnya semula. Lelaki itu berkata sambil berdiri kemudian terus mencium kepala, tangan dan kaki Rasulallah Saw.” Menurut riwayat Ibnu al-Arabi, “Lelaki tersebut meminta izin kepada Nabi Saw. untuk mencium beliau, Nabi Saw. pun mengizinkan. Lalu lelaki tersebut mencium kepala dan kaki baginda Saw..”
Baca Juga:  Hukum Mencium Tangan Orang yang Lebih Tua dan Pejabat Negara

Ada sebagian orang mengatakan, kalau hukum mencium tangan dan kaki Nabi Saw. dibolehkan karena beliau adalah Rasulallah Saw., tetapi kalau selain beliau Saw. hukumnya haram.

Pikiran semacam itu, adalah perkiraan mereka sendiri. Dan sangat jauh sekali dari kenyataan, karena kalau hukum mencium tangan dan kaki itu dilarang oleh syariat Islam, Rasulallah Saw. adalah orang yang pertama kali melarang perlakuan para sahabat terhadap Nabi Saw.. Karena Rasulallah Saw. adalah pembawa syariat Islam dan sudah tentu sebagai contoh bagi umatnya. Bila hal itu, khusus untuk beliau Saw., beliau juga akan menjelaskannya.

Sahabat Saling Cium Tangan dan Kaki di Antara Mereka

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad (hadis no.976) dengan sanad sahih bahwa sahabat Ali Ibnu Abi Thalib mencium tangan dan kaki Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Padahal, Sayidina Ali juga seorang sahabat yang mulia. Karena Sayidina Abbas selain pamannya juga seorang yang saleh.

Dari Shuhaib, ia berkata, “Saya melihat sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas dan kakinya.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Jad’an, ia berkata kepada Anas bin Malik, “Apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tanganmu ini?” Sahabat Anas berkata, Ya.” Lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Abdullah bin Abbas setelah wafatnya Rasulallah pergi kepada seorang sahabat Rasulallah untuk menuntut ilmu. Suatu ketika, beliau pergi kepada Zaid bin Tsabit, salah seorang sahabat senior yang paling banyak menulis wahyu. Saat itu, Zaid bin Tsabit sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu, dengan cepat Abdullah bin Abbas memegang tempat pijakan kaki pelana hewan tunggangan Zaid bin Tsabit. Abdullah bin Abbas menyongsong Zaid untuk menaiki hewan tunggangannya tersebut. Namun, tiba-tiba Zaid bin Tsabit mencium tangan Abdullah bin Abbas, karena dia adalah keluarga Rasulallah. Zaid bin Tsabit berkata, “Seperti inilah, kami memperlakukan keluarga Rasulallah.” Padahal, Zaid Ibnu Tsabit jauh lebih tua dari Abdullah bin Abbas. Atsar ini, diriwayatkan juga oleh al-Hafidh Abu Bakar bin al-Muqri dalam Juz Taqbil al-Yad. Juga dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya al-Isabah dan as-Sya’bi.

Ibnu Sa’d dalam kitab Thabaqat meriwayatkan dengan sanad dari Abdurrahman bin Zaid al-Iraqi yang berkata, “Kami telah mendatangi Salamah Ibnu al-Akwa di ar-Rabdzah. Lalu, ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta, kemudian dia berkata: ‘Dengan tanganku ini, aku telah membaiat Rasulallah’. Maka, kami meraih tangan beliau dan menciumnya”

Dalam at-Talkhish al-Habir, al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani menuliskan sebagai berikut, “Tentang masalah mencium tangan ada banyak hadis yang dikumpulkan oleh Abu Bakar bin al-Muqri, beliau mengumpulkannya dalam satu juz penuh. Diantaranya, hadis Abdullah Ibnu Umar yang menceritakan suatu peristiwa di masa Rasulallah, beliau berkata, ‘Maka kami mendekat kepada Rasulallah lalu kami cium tangan dan kakinya.’” (HR. Abu Dawud). Hadis ini, juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, Imam Ibnu Majah dan Imam Abu Dawud dengan sanad yang kuat.

Dikeluarkan oleh imam Ibnu al-Arabi dan Ibnu al-Maqri di dalam Juzu mereka, Abdul Razak di dalam kitabnya al-Musannaf, al-Kharaeti di dalam al-Makarim, al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dengan isnad berdasarkan syarat Imam Muslim (sanad tersebut berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim), “Sesungguhnya Abu Ubaidah r.a mencium tangan sayidina Umar r.a. ketika kedatangannya dari Syam.” Tamim bin Salamah menganggap mencium tangan ahli al-Fadl (orang-orang yang mendapat kemuliaan) adalah sunnah.

Baca Juga:  Hukum Menunda Punya Anak Menurut Pandangan Fiqih

Hukum Mencium Tangan dan Kaki Ulama

Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Imam Muslim mencium tangan Imam al-Bukhari. Imam Muslim berkata kepadanya, “Seandainya anda mengizinkan, pasti aku cium kaki anda.” Jelas, dalam riwayat ini, imam Muslim mengetahui bahwa mencium tangan dan kaki seorang ulama mustahab.

Dinukil oleh As-Syeikh al-Ansari bahwa Imam Muslim bin al-Hajaj mencium antara dua mata Imam Bukhari. Beliau juga mencoba untuk mencium kakinya. Bertujuan sebagai menghormati ilmu, kemuliaan dan kebaikan gurunya.(Imam Nawawi dalam Tahzhib al-Asma [88/1] ).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyitir pendapat Imam Nawawi yang berkata, “Mencium tangan seseorang karena zuhud, kebaikan, ilmu, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan.” Pendapat ini, juga didukung oleh Imam al-Bajuri dalam kitab Hasyiah, jilid 2, hal.116.

Imam al-Zaila’i berkata, “Dibolehkan mencium tangan seorang ulama dan orang yang wara karena mengharap barakahnya.

Dari Abi Malik al-Asyja’i berkata, “Saya berkata kepada Ibnu Abi Aufa r.a, Ulurkan tanganmu yang engkau gunakan untuk membaiat Rasul, ia mengulurkannya kemudian aku menciumnya.” (HR. Ibnu al-Muqarri).

Yahya bin al-Harith berkata, “Aku bertemu Watsilah bin al-Asqa, aku berkata, ‘Kau membaiat tanganmu ini pada Rasulallah Saw?’ Watsilah berkata, ‘Ya.’ Aku berkata, ‘Berikan tanganmu itu, aku ingin menciumnya.’ Beliau pun memberikan tangannya kepadaku, kemudan aku menciumnya.” Maksud mencium tangan disini, adalah untuk memperoleh keberkahan dari baiat Watsilah kepada Rasulallah Saw. secara bersalaman dan mencium tangan beliau Saw.. Begitu juga mencium tangan orang-orang saleh dan ulama. (HR. at-Thabarani di dalam kitab al-Kabir 22/94, no. 226).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa mencium tangan di antara para sahabat dan para ulama selain Rasulallah Saw. adalah sunnah, sebagai dalil bagi orang yang meniadakan dan menganggap sebagai bid’ah munkar perbuatan tersebut.

Ciuman Orang Tua dan Anak

Diriwayatkan oleh Abu Daud (hadis no. 5222), Sayidina Abu Bakar r.a. mencium anaknya Sayidatina Aisyah r.a. ketika beliau mendapati anaknya demam. Dengan demikian, ciuman bukan khusus untuk anak-anak lelaki saja.

Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasai) dari Aisyah, yang berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun lebih mirip dengan Rasulallah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Rasulallah, Rasulallah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, kemudian Rasulallah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulallah Saw. datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulallah, kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya.” Demikian penjelasan al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab at-Talkhish al-Habir. Abu Daud juga mencatatnya pada hadis no. 5217.

Menurut riwayat Imam Tirmizi (hadis no. 3872), apabila Fatimah r.a. masuk bertemu Rasulallah Saw., baginda Rasul Saw. terus berdiri dan mengambil tangan puterinya dan menciumnya serta duduk bersamanya di dalam satu majlis. Ciuman anak pada kedua tangan ibu-bapak adalah karena penghormatan mereka terhadap kemuliaan derajat orang tua. Sedangkan, ciuman ibu-bapak kepada anak-anaknya adalah kasih sayang terhadap mereka. Ini semua merupakan sunnah Nabi Saw.

Dalam suatu hadis diriwayatkan, seorang lelaki bercerita di dalam satu majlis Nabi Saw. bahwa dia tidak pernah mencium anak-anaknya. Lalu, Rasulallah Saw. bersabda, “Apa yang dapat saya nyatakan bahwa Allah Swt. telah melenyapkan rahmat dari hati kamu.”(HR.Imam Bukhari no. 5998).

Baca Juga:  Penilaian Hadits Dari Al Bani Membingungkan Umat, Ini Buktinya

Mencium Wajah Orang yang Telah Wafat

Nabi Saw. mencium Sayidina Usman bin Maz’un setelah wafatnya. (HR.Imam Ahmad [56/6], Abu Daud [3163], Tirmizi [989] berkata, hadis hasan sahih, Ibnu Majah [1456], dan hadis ini juga disandarkan kepada Imam Bukhari).

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Arabi dari Jabir, sesungguhnya ayahnya wafat syahid ketika perang Uhud, ketika tersingkap wajahnya, beliau menciumnya.

Sayidina Abu Bakar mencium wajah Nabi Saw. setelah baginda Saw. wafat. (HR.imam Ahmad dan Bukhari (no. 1241).

Hadis yang Dijadikan Dasar Hukum Mencium Tangan Sebagai Haram

Seorang bertanya kepada Rasulallah Saw., “Wahai Rasulallah haruskah seseorang membungkuk kepada saudaranya? Baginda menjawab, ‘Tidak.’ Lelaki itu berkata lagi, Haruskah seseorang memeluk dan menciumnya? Nabi Saw. menjawab, ‘Tidak’. Dia bertanya lagi, ‘Cukupkah seseorang mengambil tangan saudara- nya dan bersalaman dengannya?’ Nabi Saw. menjawab, ‘Ya.’’’ (HR.Tirmidzi no.2728, dan berkata bahwa hadis ini hasan).

Hadis ini, disamping berlawanan dengan hadis sahih juga telah dilemahkan oleh imam Ahmad dan al-Baihaqi seperti yang dinukil oleh al-Iraqi di dalam kitabnya al-Mughni. Di dalam sanad- nya ada seorang perawi yang bernama Hanzhalah. Imam Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Ma’in telah menetapkan bahwa lelaki tersebut dha’if (lemah). Imam Ahmad menambah dengan perkataannya, “Sesungguhnya (Hanzhalah) meriwayatkan banyak hadis yang mungkar maka jangan beramal dengan hadisnya.” Maka gugur lah hadis ini.

Hadis imam at-Thabarani dan Abu Ya’la dan Ibnu Addi, “Sesungguhnya Nabi Saw. menarik tangannya bagi orang yang ingin menciumnya.” Hadis ini dinukil juga oleh Ibnu al-Jauzi di dalam kitabnya al-Maudhu’at. Hadis ini sangat lemah menurut ahli hadis.

Sangat aneh sekali bila seseorang lebih memilih hadis dha’if yang melarang mencium tangan dan kaki daripada sekian banyak hadis sahih yang membolehkannya. Hadis-hadis tersebut sangat bertentangan dan terbantahkan dengan hadis-hadis sahih dan fatwa para pakar hadis yang telah dikemukan sebelumnya. Oleh karena itu, hadis yang melarang cium tangan ini tidak dapat di jadikan dalil.

Riwayat-riwayat diatas berkenaan dengan cium tangan dan lain sebagainya sebagai pelajaran untuk memperoleh keberkahan. Selain itu bertujuan untuk melatih diri bersikap tawadhu dan untuk mendapat keridhaan Allah Swt. Begitu juga sering mencium kepala antara satu dengan yang lain adalah sebagai tanda kasih dan hormat. Riwayat-riwayat sahih tadi menunjukkan pula mencium tangan ibu-bapak untuk penghormatan kepada mereka sebagai hak mereka adalah sunnah.

Hukum Mencium tangan syeikh (guru), ulama, para salihin dan para waliyullah adalah Disunnahkan dan tujuannya adalah mencari berkah kemuliaan dan kebajikan amal mereka.
Begitu juga, sebagai salah satu sifat kasih sayang, menguatkan keakraban dan pertemuan yang diakui sebagai sebaik-baik cara dalam bersikap santun dan menghormati mereka. Dengan cara ini, dapat melenyapkan perasaan dengki, mengeratkan ukhwah Islam, menambah pahala dan menyempurnakan qudwah hasanah (teladan yang baik).

Adapun, cium tangan yang merendahkan diri (tadzallul) terhadap orang munafik, kafir (baik yang kaya maupun yang miskin), menyanjung orang yang berkuasa dan memiliki kedudukan tetapi perbuatan mereka curang, zalim dan lain sebagainya, inilah yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

Wallahua’lam.
Source

Redaksi

Redaksi at Pecihitam.org
Suka Menulis? Silahkan kirimkan tulisan dengan topik seputar Keislaman ke email redaksi di portalpecihitam@gmail.com
Redaksi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG