Makna Kalimat Inalillahi Wainailaihi Rojiun dan Anjuran Pengucapannya

Makna Kalimat Inalillahi Wainailaihi Rojiun dan Anjuran Pengucapannya

PeciHitam.org Sikap terbaik seorang muslim dalam menghadapi musibah atau cobaan dengan mengucapkan Inalillahi wainailaihi Rojiun, karena Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dengan musibah atau anugerah. Jika hidup mendapat anugerah baik besar atau kecil, hati akan sangat senang dan gembira.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Luapan kegembiraan identik dengan raut muka bersemi, semaian senyum selalu terkembang atau tertawa riang. Tuntunan Islam dalam menghadapi kebahagiaan adalah mengucapkan syukur Alhamdulillah.

Akan tetapi adakalanya kehidupan manusia mendapat musibah atau kesedihan. Tidak ada kebahagiaan yang abadi berlangsung di dunia, karena sifat dasar Dunia adalah ketidak-kekalan.

Istilah Kalimat Inalillahi wainailaihi Rojiun

Hakikatnya musibah atau cobaan merupakan terputusnya Nikmat pemberian Allah SWT. Kesehatan misalnya, Allah SWT saat ini masih memberi kesehatan kepada kita semua, akan tetapi terkadang Allah mencabut nikmat sehat dengan memberi sakit baik ringan atau berat seperti Covid-19.

Kesehatan bukanlah sesuatu keadaan atau mode dasar manusia, dia diberikan Allah kepada manusia melalui sunnatullah. Kesatuan sistem kesehatan yang ada ditubuh dan alam merupakan penciptaan Allah yang mana jika terganggu sedikit keseimbangannya akan menyebabkan sakit.

Maka dalam keadaan sakit tertimpa musibah, cobaan atau lainnya perlu dikembalikan kepada Allah SWT dalam bentuk ucapan ISTIRJA atau Inalillahi wainailaihi Rojiun. Tulisannya dalam bahasa Arab adalah,

كَلِمَةُ اِسْتِرْجَعِ

إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raajiuun/ Inalilahi wainailaihi Rojiun

Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali

Ucapan Inalillahi wainailaihi rojiun atau Istirja merupakan ungkapan pengembalian segala sesuatu kepada Allah SWT. Disisi lainnya, pengembalian ini mengandung pengakuan bahwa segala sesuatu tidak abadi dan bukan milik kita.

Dasar Ayat dan Logika Ketuhanan Kalimat Istirja

Perintah untuk mengembalikan segala sesuatu kepada Allah atas segala yang menimpa kita berasal dari surat Al-Baqarah;

Baca Juga:  Ramadhan: Definisi, Sejarah Pra Islam, Perintah Puasa dan Serba-Serbinya

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦

Simbol kekuasaan Allah yakni menguasai segala sesuatu baik di langit dan bumi, tidak ada yang menyamaiNya bahkan dalam memberikan musibah cobaan kepada manusia. Bencana besar akan sangat mudah Allah datangkan kepada mereka yang dikehendakiNya.

Kata (الَّذِينَ) adalah kata rujukan kepada Orang-orang beriman yang disebutkan dalam ayat sebelumnya yakni Al-baqarah 153. Maka arti lengkapnya adalah;

Artinya; “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Qs. Al—Baqarah: 156)

Selain dinamakan kalimat Istirja’, Inna Lillahi wainalilaihi Rojiun juga biasa disebut dengan kata Tarji’. Dasar kata Istirja’ dan tarji’ adalah Raja’a yang bermakna pulang atau berpulang.

Mesti kita renungkan bahwa kita semuanya adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah akan kembali segala sesuatu. Sikap mengembalikan segala sesuatu kepada Allah merupakan sikap pasrah kepadaNya. Jelas terlihat bahwa Dia menunjukan kekuasaanNya tanpa ada yang mampu menghalanginya.

Allah pernah menghinakan Raja Mesir kuno yakni Fir’aun yang terkenal sebagai orang yang mengaku Tuhan yang dapat mematikan dan menghidupkan. Kekuasaan Fir’aun diklaim sangat besar dan tidak menisbatkan kepada Allah.

Dengan congkaknya Dia menantang Allah SWT dan kemudian ia mati dalam keadaan dirinya tenggelam air laut merah. Pengakuan tuhan oleh fir’aun tidak lebih hebat dari sekedar air yang mampu mematikannya.

Kalimat Istirja’ inilah sebagai bukti bahwa dunia, orang yang disayang, materi, harta, istri cantik, anak dan lain sebagainya tidaklah kekal sebagaimana Allah. Dia-lah yang menciptakan dan mendatangkan untuk kita dan Dia pula yang akan mengambil.

Inti sari kalimat Istirja’ inilah yang sering disebut sebagai Logika Ketuhanan yang tidak terbantahkan. Tidak seorang-pun manusia mampu menyebutkan benda atau materi yang tidak bisa sirna atau hilang. Dan tidak ada seorang manusia-pun yang tidak meninggal dunia.

Ajaran Rasulullah SAW yang berasal dari Allah tidaklah bisa terbantahkan bahkan dari segi logika modern sekalipun. Penemuan sains modern saja tidak ada yang mampu menciptakan sebiji materi baru tanpa menggunakan bahan.

Baca Juga:  Ajaran Akhlak Islami Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha

Akan tetapi Allah menciptakan segala sesuatu dari ketidak-adaan atau kenihilan. Allah menjelaskan dalam ayat;

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (١١٧

Pengetauan Sains Modern yang dianggap paling maju saja tidak akan mampu mencipatakan sesuatu materi dari ketidak-adaan. Bukti bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat lemah, tidak berdaya. Lain halnya dzat Allah yang sangat berkuasa sebagaimana arti ayat di atas;

Artinya; “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” lalu jadilah ia” (Qs. Al-Baqarah: 117)

Kesimpulannya adalah manusia tidak berkuasa penuh atas dirinya sendiri, dia diciptakan oleh Allah dan PASTI akan kembali kepadaNya. Kembali dalam keadaan baik atau buruk tergantung hasil pengujian Allah selama didunia berbuat sesuai dengan ketentuanNya atau malah tidak mengindahkanNya.

Anjuran Membaca Inalillahi wainailaihi Rojiun

Mengucapkan kalimat Istirja’ merupakan sunnah yang jika dilaksanakan akan mendapat pahalaNya. Kabar duka yang datang kepada kita harus dibalas dengan kata kalimat Istirja’  sebagai pepeling/ pengingat bahwa suatu masa kita juga akan kembali kepada Allah Ta’ala.

Umat Islam meyakini bahwa Allah adalah Esa yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Sama dengan ujian dalam dunia manusia, Ujian Allah bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas keimanan dan ketakwaan seorang manusia jika tertimpa hal yang kurang baik.

Jika lulus dengan baik ujiannya maka akan menghantarkannya kepada derajat yang lebih tinggi, naik kelas. Nah, ungkapan Istirja’ adalah bentuk dasar peneriamaan terhadap takdir, Qadla, Qadar Allah SWT.

Oleh karenanya, umat Islam menyerahkan diri kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang mereka terima. Pada masa yang sama, mereka bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah.

Baca Juga:  Syawal; Bulan Lahirnya Imam Bukhari, Sang Maestro Hadits Sepanjang Masa

Bukan hanya manusia biasa seperti kita yang akan diuji dengan kesedihan dan kepedihan hidup. Bahkan Nabi-nabi terdahulu diuji dengan tingkat ujian yang sangat besar.

Contoh Nabi-nabi yang mendapat Ujian sangat besar adalah Nabi Nuh, beliau melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Kan’an, tenggelam dalam banjir bandang. Kan’an adalah anak lelaki Nabi Nuh yang menolak ajaran ayahnya sendiri.

Nabi lainnya adalah Nabi Ayyub yang menderita sakit menahun tidak kunjung sembuh. Kewajiban sebagai Nabi dan kondisi fisik sakit parah menjadikan beliau berhenti bekerja.

Sampai-sampai suatu ketika istrinya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan rumah tangga. Akan tetapi para Nabi ini tetap bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Terakhir adalah Nabi Muhammad SAW yang sejak dalam kandungan sudah ditinggal ayah kandungnya Abdullah bin Abdul Muthallib. Disusul ibunya meninggal pada saat beliau masih sangat kecil belum baligh.

Kesedihan-kesedihan lain berturut-turut beliau alami dalam perjalanan dakwahnya. Keseluruhan Nabi harus kuat terhadap cobaan Allah dan berucap Inalillahi wainailaihi Rojiun.

Nabi bersabda dalam hadits Riwayat Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, buyut dari Rasulullah SAW sebagai berikut;

ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها

Artinya; “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan