Ini Tanggapan Atas Tuduhan Syiah Terhadap Prof Quraish Shihab

Tanggapan Atas Tuduhan Syiah Terhadap Prof Quraish Shihab

Pecihitam.org – Pasca diundang menjadi Khatib Idul Fitri di Istiqlal, ada perang opini yang menurut saya demikian jorok di media sosial, yang mengarah pada mobilisasi kebencian terhadap Prof Dr Quraish Shihab.

Quraish Shihab adalah ulama Kontemporer dengan sejumlah karya besar (magnum opus), salah satunya adalah “Tafsir Al-Misbah”. Namun belakangan, nama Quraish Shihab kerap kali menjadi bahan bully dan propaganda negatif dari sebagian kelompok.

Hal tersebut dilatar-belakangi oleh pendapat-pendapat beliau yang relatif kontroversial, diantaranya:

  • Prof Quraish berpendapat bahwa jilbab tidak wajib,
  • Prof Quraish berpendapat bahwa Rasul tidak dijamin masuk surga,
  • Prof Quraish dianggap sering memberikan pembelaan terhadap Syi’ah.

Atas dasar fatwa-fatwa kontroversial tersebut, Quraish Shihab acap kali menerima auto-judge sebagai ulama liberal, agen barat, ulamaa suu`, bahkan agen syi’ah.

Baca juga: Kenapa Kaum Khawarij Membenci Ali bin Abi Tholib? Ini Alasannya

Menanggapi tudingan-tudingan tersebut, penulis merasa penting untuk memberikan pembelaan-pembelaan sebagai berikut:

  1. Upaya yang dilakukan Quraish Shihab dalam konteks Sunni dan Syi’ah adalah upaya At-Taqriib Baynal Madzhabayn. At-Taqriib adalah bahasa Arab dari akar kata qaruba-yaqrabu, yang artinya dekat. Maka at-taqriib baynal madzhabayn maksudnya adalah mendekatkan dua madzhab besar yakni Sunnisme dan Syi’isme.
  2. Karena misi yang ingin dicapai adalah at-taqriib, maka metode yang beliau gunakan adalah mencari titik temu, bukan titik tolak, atau titik bentur, dan titik-titik perbedaan lain yang sudah barang tentu sangatlah banyak. Lahir lah dari pemikiran dan hasil kontempasi beliau, sebuah buku bagus judulnya “Mungkinkah Sunni dan Syi’ah bergandengan tangan?”.
  3. Dalam pengantar buku beliau cetakan ke sekian, dengan tegas beliau menyampaikan bahwa beliau ahlussunnah. Jadi agak aneh rasanya kalau kemudian kita malah menuduh beliau sebagai Syi’ah.
    Ilustrasi sederhananya, saya sedari kecil adalah fans AC Milan. Tapi karena yang masuk final piala champion kemarin adalah Juventus dan Real Madrid, maka atas nama solidaritas fans klub Italia, saya lalu mendukung Juventus. Apakah lantas bisa disimpulkan bahwa saya Juventini? Tentu itu kesimpulan terburu-buru, karena rekam jejak keberpihakan saya mencatat bahwa saya adalah Milanisti.
  4. Mobilisasi kebencian yang mengarah kepada Prof Quraish terlihat luar biasa massif, sampai ada berita hoax bahwa Shalat Id di masjid Istiqlal sepi jamaah, padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Tentu ini kontradiktif dengan apa yang hari ini diteriakkan oleh umat atas nama persatuan. Kita teriak-teriak Islam harus satu, kenapa kita malah memainkan politik pecah belah? Kita komitmen untuk bela Ulama, kenapa malah justru kita yang mencaci maki Ulama?
  5. Al-hikmatu dhaallatul mu’min. Hikmah adalah milik orang mukmin yang tercecer. Dalam redaksi yang lain; khudzil hikmata walaw min fammil kalb. Pungutlah hikmah meski dari mulut seekor anjing. Ini lah yang menjadi pegangan Prof Quraish. Kalau ada hikmah dari orang Nasrani, maka ambil lah. Jika terdapat hikmah dari seorang Yahudi, maka pungut lah. Apalagi jika cuma dari seorang Syi’ah yang notabene masih saudara sesama muslim

Sunni dan Syi’ah adalah dua sayap Islam untuk terbang. Jika kita patahkan satu, ini lah yang menyebabkan umat ini jalan di tempat tak kunjung terbang. Alih-alih bicara persatuan, alih-alih bicara kebersamaan, kita punya ulama dengan kaliber dunia, seorang guru besar dengan karya tulis puluhan buku, punya Tafsir Al-Misbah 15 jilid dengan referensi kian kaya, malah dicaci dan dihina, dan dijauhkan dari umat.

Yang kita dengar malah orang yang meraup pundi-pundi rupiah dari pekerjaan fitnah-fitnah dan propaganda murahan. Sebegitu kerdil kah pola pikir kita?

Auto-Judge Syi’ah Bukan Islam

Secara factual, “jonru-effect” di media sosial harus diakui punya pengaruh yang tidak sedikit, ditambah dengan menjamurnya paham-paham radikal yang meracuni pola pikir anak bangsa.

Inilah yang kemudian menyebabkan pola interaksi kita menjadi hitam putih dan anti dialog. Asal beda sedikit, langsung spontan keluar auto-judgement; Liberal!, Komunis!, Kafir!, Thaghut!, Agen Yahudi, Laknatullah, dan Syiah Bukan Islam.
Kalimat-kalimat vonis tersebut menjadi hal yang jamak di linimasa lantaran persebaran paham radikalisme yang kian massif.

Sebagai contoh, penulis pernah menyampaikan sebuah pembelaan terhadap Prof Quraish di media sosial terkait tuduhan Syi’ah yang dialamatkan kepada beliau. Tanpa tedeng aling-aling, dalam waktu sekian menit, penulis diserbu oleh ribuan komentar dengan redaksi yang sama; Syiah bukan Islam. Bahkan tanpa proses dialog dan tabayyun (klarifikasi), penulis dituduh Kafir, Syi’ah, tidak waras, dan vonis-vonis lainnya yang sejatinya jauh dari akhlak Islam.

Rasulullah bahkan mewanti-wanti dalam sebuah hadits yang popular; man kafara musliman faqad kafara. Siapa yang menuduh kafir seorang muslim, dialah yang sesungguhnya kafir.

Hal ini lah yang sejatinya pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali ketika menanggapi orang-orang yang menolak proses tahkim (arbitrase) di era sahabat. Mereka bicara akidah, bicara iman dan kufur, namun kata Sayyidina Ali; Kalimatu haqq uriida bihaa al baathil, kalimatnya benar, namun mengandung maksud kebatilan di dalamnya.

Baca juga: Waspada Generasi Baru Ibnu Muljam, Saat Qur’an Jadi Dasar “Menumpahkan Darah”

Semoga kita bisa mengambil ibrah, di kelompok mana sejatinya kaki kita berpijak.

Oleh: Khairi Fuady, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta asal Amuntai Banjarmasin

Tulisan ini terbit pertama kali di kalsel.prokal.co dengan judul “Menyoal Tudingan Syi’ah Terhadap Quraish Shihab”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *