Islam Tradisional, Pesantren dan Tantangan Masa Depan

islam tradisional

Pecihitam.org – Kelahiran organisasi Islam di Indonesia dapat dimaknai sebagai kebangkitan umat muslim Indonesia saat ini. Akan tetapi, juga dapat diartikan sebagai tantangan besar terhadap kondisi umat islam sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beragam corak ormas yang memiliki serta menjadi kekhasan tersendiri dalam membangun relasi kelompok yang lebih besar. Setiap organisasi masyarakat yang lahir dan tumbuh berkembang di Indonesia tentu saja memiliki maksud perjuangan ideologis dan syarat akan politis.

Akan tetapi, meskipun kelahiran itu diwarnai dengan berbagai maksud politis dan basis perjuangan ideologis, dapat menjadi bumerang. Untuk mengawal pergerakan ini tentu saja banyak, saat ini setiap ormas memiliki sikap yang berbeda dalam memandang isu maupun kondisi saat ini di Indonesia.

Sebetulnya, untuk berbicara ormas di Indonesia memiliki kekuatan besar dalam melakukan pembentukan narasi Islam ke-Indonesiaan.

Narasi keislaman di Indonesia merupakan narasi yang bagus untuk mengawal dan mempertahankan kondisi negara saat ini. Ormas islam tentu saja memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan pemahaman dalam bingkai ke-Indonesian.

Selama ini, di Indonesia yang dapat dikatakan istiqomah dalam memberikan narasi besar Islam ala Indonesia ini adalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Baca Juga:  Fenomena Netizen Muslim yang "Beragama" Medsos

Kategorisasi santri modern dan tradisional yang dilakukan oleh Deliar Noer (1980) dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1990-1942 yang pada awalnya terkategorisasi pada Muhammadiyah dan NU.

Hingga saat ini, kategori ini masih berlaku untuk membedakan antara basis gerakan kultural dan modern. Kategorisasi ini tentu saja tidak terlepas dari lembaga pendidikan yang diantaranya berdiri dan lahir dari kedua ormas besar itu.

Kajian kepesantrenan yang dilakukan oleh Prof. Johns melalui artikelnya yang berjudul “From Coastel to Islamic Schools and City (states)”. Prof. Jhons menggunakan istilah pesantren dengan Islamic School yang merujuk pada lembaga pendidikan Islam abad ke-13.

Dalam tulisan tersebut, menegaskan bahwa lembaga pendidikan islam yang biasa disebut pesantren ini sangat menentukan watak ke-Islaman di sejumlah wilayah di Indonesia. Artinya pondok pesantren memiliki peranan penting dalam melakukan islamisasi yang ada di wilayah pedesaan.

Tantangan lain muncul dari berbagai pihak, dalam melihat isu kedepan terkait dengan tantangan moderenitas dalam kaitannya peran ormas Islam. Organisasi masyarakat Islam memiliki basis kelompok dan anggota yang banyak.

Sehingga ada keterkaitan erat dengan basis kelompok untuk saling memberikan ruang untuk belajar dalam pondok pesantren. Ormas Islam sebagai elemen penting untuk membantu melebarkan sayap visi-misi pesantren.

Baca Juga:  Berhijab yang Destruktif dan Kebebasan dalam Berbusana

Pesantren yang di yakini sebagai tempat untuk mencari ilmu ini memberikan banyak sumbangsih terbesar terhadap perkembangan ormas besar.

Hubungan ormas dan pesantren ini memiliki hubungan yang bersifat mutual saling memberikan keuntungan. Jika kita melihat Indoensia sebagai rumah Islam Ramah bagi umat muslim di dunia, pondok pesantren pun menjadi sarana dalam membantu menyebarkan paham-paham atau narasi yang moderat.

Islam moderat pun menjadi visi dan misi dalam menggenalkan serta memberikan gambaran tentang islam ke-Indonesiaan. Islam tradisional ini tidak terjebak dengan istilah yang di pegang sebagai tradisionalisme.

Meskipun begitu islam tetap menjadi pegangan utama dan dengan melakukan serta mengakomodasi kebudayaan yang ada. Melihat indonesia yang kaya budaya ini menjadi corak dan cara berislam yang khas. Corak berislam ini selalu dibangun dengan narasi islam yang ramah dan tidak marah, tidak kaku.

Corak berislam yang selalu ditawarkan berbagai kelompok tidak bertanggung jawab seringkali tidak bisa memberikan penjelasan yang utuh terhadap pertanyaan mengapa kita harus berislam cara ini.

Baca Juga:  KH. Hamdani Mu’in dan Urgensi Thariqah di Kalangan Mahasiswa Indonesia

Dengan ketidak utuhan pemahaman dalam berislam ini bisa jadi timbul yang namanya istilah psikologis deindivisuasi yang merasa anonim terhadap cara berislam. Nah, terjadinya deindividuasi ini menjadi semakin membuat orang gagap secara psikologis dalam menanggapi perbadaan yang ada di dunia ini.

Banyak orang mengira bahwa dengan berislam ala tradisional itu menjadi tertinggal. Hal ini malah justru membalik stigma dengan menggunakan istilah tradisional ini upaya untuk melakukan akomodasi budaya yang ada menjadi corak khas dalam Islam di Indonesia.

Akhirnya memang istilah akan selalu melakukan berkembangan atau melakukan akomodasi yang ada di dalamnya. Munculnya istilah berislam kemajuan dan berislam tradisionalisme ini menjadi penting adanya untuk melakukan counter terhadap pamahaman islam yang sesuai dengan budaya indonesia. Wallahu’alam

Arief Azizy

Leave a Reply

Your email address will not be published.