Hari Ini Ulang Tahun Presiden Joko Widodo, Inilah Riwayat Hidup Beliau

Joko Widodo

Pecihitam.org– Hari ini di satu sisi merupakan hari duka bagi bangsa Indonesia, karena pada 50 tahun silam merupakan hari wafat Bung Karno, Presiden RI pertama. Tapi hari ini juga merupakan hari istimewa, karena 59 tahun lalu, pada tanggal 21 Juni merupakan hari lahir Joko Widodo, Presiden Indonesia saat ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Joko Widodo akrab disapa Pak Jokowi merupakan Presiden Indonesia ke-7. Di periode kedua kepemimpinannya ini, beliau didampingi KH. Ma’ruf Amin sebagai wakilnya.

Pmimpin sederhana, bersih, dan merakyat. Itulah hal yang banyak melekat pada sosok Presiden Indonesia ketujuh ini, Joko Widodo.

Mulai menjadi Presiden Indonesia sejak 20 Oktober 2014 menggantikan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Lelaki yang akhir-akhir ini identik dengan kemeja putih ini selalu tampak kesan sederhananya baik ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI, bahkan ketika menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Tulisan ini semoga menjadi kado ulang tahun di hari lahir beliau. Dan berikut semua tentang perjalanan hidupnya, mulai dari rakyat biasa, pengusaha hingga menjadi presiden.

Daftar Pembahasan:

Masa Kecil: Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Dasar

Joko Widodo dilahirkan pada hari Rabu, 21 Juni 1961 di Surakarta, Jawa Tengah dari pasangan Noto Wihardjo dan Ibu Sudjiatmi. Berasal dari keluarga sederhana menyebabkan Jokowi kecil merasakan hidup yang sulit dan keras.

Sejak mulai bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 111 Tirtoyoso, menjadi seorang kuli panggul, ojek payung dan berdagang sudah ia lakoni sejak untuk membiayai kebutuhan sekolah hingga makan sehari-hari.

Ketika masih berusia 12 tahun, Jokowi sudah bekerja sebagai tukang gergaji. Di masa itulah, ia merasakan pahitnya penggusuran sebab rumahnya tiga kali terkena penggusuran.

Dari situ, cara pikirnya tentang kepemimpinan dibentuk. Jokowi menjadi tahu apa yang harus ia lakukan ketika harus menertibkan pemukiman warga.

Lulus SD, ia kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surakarta. Lulus dari sana, ia melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 6 Surakarta.

Masa Muda: Pendidikan Alnjutan dan Penempaan Diri

Selepas tamat dari SMA, Jokowi kemudian mencoba kuliah di perguruan tinggi. Ia kemudian diterima di Jurusan Kehutanan Universitas Gajah Mada.

Di sana, ia belajar sangat giat mengenai kayu, teknologi pengolahannya serta pemanfaatnnya, hingga ia kemudian banyak dikenal sebagai Juragan Mebel. Jokowi pun merampungkan kuliahnya tahun 1985.

Baca Juga:  Biografi Imam Haromain Abu Maali Al Juwaini

Masa Dewasa: Organisasi dan Karier

Setelah selesai kuliah pada tahun 1985, Jokowi mulai bekerja di perusahaan kertas BUMN bernama PT. Kraft Aceh. Namun, di sana ia merasa tidak betah, sehingga memilih mengundurkan diri dan mencoba untuk berbisnis kayu di Solo.

Awalnya, ia bekerja di perusahaan milik pamannya, di CV Roda Jati. Kemudian setelah banyak pengalaman yang didapat, ia memberanikan diri untuk membuka usaha kayu sendiri dengan membuat badan usaha bernamaCV. Rakabu pada tahun 1988.

Nama Rakabu terinspirasi dari nama anak pertamanya, yaituGibran Rakabuming.
Bisnis kayu Jokowi dibawah naungan CV. Rakabu mengalami pasang surut bahkan hampir kolaps atau bangkrut.

Namun, pada tahun 1990 berkat suntikan pinjaman sebesar 30 juta rupiah dari ibunya, Jokowi kemudian mencoba bangkit kembali.

Dari usaha kayunya itulah, kemudian ia dikenal dengan sapaan ‘Jokowi’. Nama Jokowi diberikan oleh salah seorang pelanggannya yang berkebangsaan Jerman yang bernama Mikl Romaknan.

Nama Joko Widodo terkesan sulit diucapkan oleh Mikl Romaknan, hingga ia kemudian menyingkat menjadi ‘Jokowi’ saja. Kemudian, Joko Widodo terkenal dengan sapaan Jokowi sampai sekarang ini.

Lewat Mikl Romaknan ini pula, Jokowi  kemudian banyak menerima orderan mebel dari luar negeri, selain karena kejujuran dan kerja kerasnya.

Kemudian tahun 2005, Jokowi dicalonkan untuk menjadi Walikota Solo oleh Partai Kebangkitan Bangsa dan PDI Perjuangan. Meskipun ia tidak memiliki pengalaman politik yang cukup, ia berhasil keluar sebagai pemenang dan menjadi Walikota Solo.

Kemenangan Jokowi sebagai Walikota Solo menjadi pijakan awal menuju kursi Presiden Indonesia.

Kepemimpinan serta gebrakannya sebagai Walikota Solo banyak mengubah wajah Kota Solo sebagai Spirit Of Java. Kota Solo menjadi kota yang nyaman.

Penataan kota, relokasi pedagang tanpa menimbulkan kerusuhan membuat Solo menjadi sebagai kota tuan rumah di acara Internasional. Itu adalah sebagian dari prestasi Jokowi.

Baca Juga:  Mengenal Syekh Mahfudz al-Tarmasi dan Karya-karyanya

Terbukti pula ia terpilih menjadi Walikota Solo pada kali kedua tahun 2010. Dari situlah, ia kemudian mulai dikenal rakyat karena kesederhanaannya serta prestasi yang ditorehkannya.

Keberhasilan memimpin Kota Solo, kemudian membuat Jusuf Kalla meminta Jokowi untuk maju di Pilgub DKI. Sempat menolak, Jokowi akhirnya menerima dan kemudian didukung juga oleh PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.
PDI Perjuangan dan Partai Gerindra resmi mengusungnya pada tahun 2012 sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok.

Banyak pihak yang berpendapat pasangan Jokowi-Ahok sebagai paslon gubernur yang tidak diunggulkan, bahkan survei pun mengatakan demikian.

Namun, yang terjadi pasangan Jokowi-Ahok berhasil mengumpulkan suara yang mengimbangi pasangan incumbent, Fauzi Bowo dengan selisih suara yang tipis, hingga akhirnya diadakan putaran kedua.

Akhirnya pilkada putaran kedua berhasil membuat Jokowi-Ahok memenangkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Banyak pihak yang menganggap bahwa strategi kampanye politik cerdas  Jokowi sebagai keberhasilan Jokowi dalam memenangkan kursi gubernur.

Menjadi Presiden: Sosok Pemimpin Sederhana

Belum lama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, PDI Perjuangan melalui mandat dari Megawati Soekarno Putri memberikan perintah agar Jokowi maju sebagai calon presiden bersama Jusuf Kalla sebagai wakil presiden pada tahun 2014.

Hal itu kemudian ia laksanakan. Pengumuman Jokowi sebagai calon presiden dilaksanakan di rumah Si Pitung dengan mencium Bendera Merah Putih.

Kemudian deklarasi resmi Jokowi sebagai calon presiden dilakukan di Gedung Juang 45. Majunya ia sebagai calon presiden didukung oleh empat partai pengusungnya, yaitu PDIP, NasDem, PKB dan Hanura.

Kemudian pada bulan Juli 2014, hasil perhitungan suara oleh KPU Indonesia menyatakan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang pada Pemilihan Presiden tahun 2014 dengan perolehan suara sebesar 53,15% atau 70.997.833 dengan mengalahkan lawannya pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dengan perolehan suara 46,85% atau 62.576.444 suara. Adapun selisih suara antara Jokowi dan Prabowo sebesar 8.421.389 suara.

Kemudian pada tahun 2019, Jokowi kembali maju sebagai calon presiden berpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin dan mengalahkan pasangan lainnya, yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dengan selisih suara 55,50 % dan 44.50 %.

Baca Juga:  Sultan Malik As-Saleh; Raja Pasai Pertama Penyebar Islam di Nusantara

Walau awalnya terjadi penolakan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Joko Widodo akhirnya resmi ditetapkan sebagai pemenang oleh KPU pada 21 Mei dan dilantik sebagai presiden untuk periode 2019 – 2024 pada 20 Oktober 2019.

Sejak priode pertama telah banyak kebijakan yang dijalankan dalam kepemimpinannya.

Jokowi memulai sepak terjangnya sebagai Presiden Republik Indonesia dengan mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar.

Di bidang maritim, ia memberi instruksi keras terhadap pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia untuk ditenggelamkan kapalnya. Ini banyak diapresiasi oleh banyak kalangan.

Kendati begitu, sebagai pemimpin, tentulah Jokowi tidak lepas dari kontroversi.

Kebijakan lain yang ia keluarkan juga banyak diprotes oleh banyak kalangan, misalnya menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik dan lain sebagainya.

Begitulah Jokowi. Penampilan dan kesan sederhana tidak pernah lepas dari dirinya. Mulai dari baju kota-kotak sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta hingga kemeja putih yang hampir selalu ia kenakan ketika menjadi presiden.

Kesederhaan itu juga tampak pada cara bicaranya. Tutur katanya mengalir sederhana, sesderhana penampilannya. Kesederhanaan Jokowi perlu kita teladani. Jabatannya sebagai orang nomor satu tak membuatnya berubah menjadi glamor.

Baik kita sebagai orang tua, guru, politisi dan sebagai anak muda mesti bisa menampilkan keserhanaan, layaknya beliau Karena tiadalah keserhanaan menghiasi diri seseorang melainkan akan disukai oleh banyak orang.

Faisol Abdurrahman