Biografi Imam An Nawawi Ulama Besar Yang Bergelar Muhyiddin

imam an nawawi

Pecihitam.org – Imam An-Nawawi adalah seorang ulama besar di bidang fiqih dan hadits. Karyanya yang ia beri nama “Riyadhu As-Shalihin” adalah salah satu kitab hadits yang terkenal dan sering digunakan dalam berbagai pendidikan dan pengajaran, terutama di Indonesia. Beliau adalah seorang ulama besar ber-madzhab Syafi’i.

Kelahiran Imam An-Nawawi

Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa, di sebuah dusun bernama Hauran, Suriah, dua perjalanan dari Kota Damaskus pada 631 H pada bulan Muharram dengan nama lengkap al-Imam al-‘Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي). Nama beliau dinisbatkan pada nama an-Nawawi dan ad-Dimasyqi karena kota kelahiran beliau tersebut.

Sifat dan Kemuliaan Imam An-Nawawi

Imam an-Nawawi terkenal akan ketakwaannya yang begitu tinggi. Beliau adalah seseorang yang sangat menjaga dan membatasi diri dari perkara haram dan syubhat. Bahkan beliau pun sangat menjaga diri dari perkara yang mubah. Hal ini dikarenakan rasa takut yang begitu besar dalam dirinya akan rasa tamak datang kepadanya jika melakukan perkara yang mubah. Perkara mubah ini dikhawatirkan akan menjalar menjadi perkara yang syubhat dan akhirnya menjalar menjadi haram. Beliau sangat menjaga hal ini semata-mata karena rasa takut yang sangat besar akan murka Allah.

Dalam diri beliau terkumpul keluasan ilmu, terutama dalam bidang fiqih dan hadits. Di antaranya beliau meriwayatkan kitab-kitab hadits yang muktabar dengan sanad yang tinggi kepada para imam yang menulis kitab-kitab tersebut. Ibnu aththar menyebutkan Imam an-Nawawi adalah seorang penghafal hadits-hadits Nabi SAW, dan sangat memahami kategori hadits seperti shahih, cacat, dan gharibnya.

Karena keluasan ilmunya beliau mendapat gelar Muhyiddin yang berarti yang menghidupkan agama. Padahal beliau tidak menyukai pemberian gelar ini karena sifat tawadhu’nya. Beliau pernah berkata, “Aku tidak memperbolehkan orang memberikan gelar “Muhyiddin” kepadaku.” Walaupun begitu beliau tetap pantas mendapatkan gelar tersebut karena perannya dalam menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar

Riwayat Pendidikan dan Keilmuan

Pada saat berumur 18 tahun, sekitar tahun 649 H, beliau pergi ke kota Baghdad dan tinggal di sebuah madrasah bernama Ar-Rawaahiyyah yang berada di pojok timur Masjid Al-Umawi, Damaskus. Hal ini bermula ketika Imam An-Nawawi masih kecil, ada seorang ulama bernama Syaikh Yasin bin Yusuf Al-Zarkaisyi yang melihat beliau tidak suka bermain seperti layaknya anak-anak sebayanya. Bahkan beliau menangis ketika suatu saat diajak bermain dengan paksa oleh teman-temannya dan pergi menghindar. An-Nawawi kecil lebih menyukai membaca Al-Quran daripada bermain. Beliau sudah hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh. Melihat hal itu Syaikh Yasin datang kepada orang tua An-Nawawi dan menyarankan agar orang tuanya lebih memperhatikan pendidikannya.

Menginjak usia 18 tahun ayahnya mengajak beliau pindah ke Damaskus karena kampung Nawa sudah tidak kondusif lagi untuk belajar akibat kondisi perang. Di Damaskus beliau bertemu dengan Imam Masjid Al-Umawy, Syeikh Jamaluddin Abdul Kafi bin Abdul Malik al-Dimasyqi. Sang imam masjid menyarankannya agar belajar pada seorang Mufti Syam, Syeikh Farkah. Atas petunjuk Syeikh Farkah inilah beliau belajar di Ar-Rawaahiyyah.

Beliau mengenyam pendidikan selama kurang lebih dua tahun di madrasah ini. Selama menyelesaikan pelajarannya di madrasah ini beliau mampu menghafal kitab at-Tanbiih hanya dalam jangka waktu empat setengah bulan. Dan menghafal kitab at-Tahdzib pada sisa-sisa tahun setelah nya. Hal ini membuat kagum gurunya, Syaikh Kamal Ishaq bin Ahmad, dan selanjutnya membimbing beliau termasuk mengoreksi hafalan beliau. Pada saat menuntut ilmu itu beliau hanya makan dengan sedikit roti jatah yang dibagikan dari sekolahnya. Beliau tidak pernah benar-benar tidur. Ketika tertidur selalu dalam keadaan bersama buku.

Baca Juga:  Profil Lengkap Habib Umar bin Hafidz, Nasab Hingga Dakwahnya ke Seluruh Dunia

Dalam satu riwayat tertulis bahwa beliau pernah berkata, “ Kurang lebih dua tahun saya tinggal di madrasah Ar-Rawaahiyyah dan selama itu pula saya tidak pernah tidur berbaring”. Karena hari-harinya dipergunakan dengan membaca, belajar dan menulis. Ketika terpaksa tidur karena tidak mampu menahannya maka tidurnya pun bersandar pada buku-buku dan kemudian akan terbangun.

Beliau lebih banyak terjaga daripada tertidur. Setiap harinya beliau membaca dua belas materi pelajaran dengan men-syarah dan men-tashhih-nya di hadapan guru-gurunya. Ke dua belas materi tersebut adalah dua materi dari kitab al-Wasith (Fiqih), satu materi dari kitab al-Muhadzdzab (Fiqih), satu materi dari kitab al-Jam’u baina Shahihain (Metodologi hadits), satu materi dari kitab Shahih Muslim (Hadits), satu materi dari kitab al-Luma’ karya Ibnu Jinni (Nahwu), satu materi tentang Ishlahul Mantiq (etimologi) satu materi di bidang Shorof, satu materi di bidang Ushl Fiqih (terkadang membaca kitab Al-Luma’ karya Abu Ishaq atau terkadang membaca kitab al-Muntakhab karya Fakhruddin ar-Razy), satu materi di bidang Asma’ul Rijal (Kitab yang menerangkan perawi hadits), satu materi tentang teologi, dan satu materi lagi tentang Nahwu.

Imam as-Nawawi menambahkan, “Semua yang dibacanya tadi, saya komentari, terkadang men-syarah kalimat-kalimat yang sulit, menjelaskan beberapa makna, atau mengoreksi susunan bahasanya. Semoga Allah selalu memberkahi waktuku”.

Abu al-Atthar mengatakan bahwa guru Imam an-Nawawi pernah bercerita kepadanya tentang beliau yang tidak pernah menyia-siakan waktunya sekejap pun. Waktunya dihabiskan untuk selalu membaca dan hal ini berlangsung selama enam tahun. Selain itu beliau juga mengarang, mengajar dan memberikan nasihat-nasihat dalam kebaikan. Sehari semalam beliau hanya makan sekali saja pada akhir ‘Isya atau menjelang sahur, begitu pun dengan minum. Hal ini disebabkan karena kesibukannya mengarang, menyebarkan ilmu, beribadah, berdzikir dan berpuasa. Beliau tidak memperhatikan kehidupannya yang pas-pasan, baik itu dalam hal sandang maupun pangan. Pakaian beliau pun hanya terbuat dari kulit.

Guru-Guru Imam An-Nawawi

Imam an-Nawawi adalah seseorang yang haus akan ilmu. Pendidikan awalnya beliau dapatkan dari bimbingan langsung ayahnya yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya. Seperti yang telah diceritakan bahwa Imam an-Nawawi kecil sudah menampakkan ketertarikan yang begitu besar pada ilmu. Melihat hal ini, atas saran seorang Syeikh, ayahnya membimbingnya dalam belajar dan memasukkan beliau ke sebuah sekolah untuk mempelajari lebih banyak ilmu. Selama menuntut ilmu ini beliau tidak pernah menyia-siakan waktunya. Tampaknya beliau memahami betul keutamaan ilmu yang salah satunya apabila seseorang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, maka ilmu itu pun akan memberikan sebagian dari padanya kepada orang tersebut. Hal ini terbukti dengan keluhuran ilmu dan pekerti yang dimiliki oleh sang imam.

Diketahui semasa hidupnya beliau berguru pada banyak guru yang terkenal. Di antaranya guru beliau antara lain:

  1. Kahlid bin Yusuf al-Maqdisy an-Nabalusiy
  2. Abdul Aziz bin Muhammad al-Ashari
  3. Zainuddin bin Abdud Daim
  4. Imaduddin bin Abdul Karim al-Harastani
  5. Zainuddin Abul Baqa’
  6. Jamaluddin Ibn ash-Shairafi
  7. Taqiyuddin bin Abul yusri
  8. Syamsuddin bin Abu Umar

Beliau belajar ilmu fiqih hadits (pemahaman hadits) kepada Syaikh al-Mhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusi. Dan belajar ilmu fiqih kepada Abul Faraj Ibnu Qudamah al-Maqdisy, Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, dan Al-Farkah.

Murid-Murid Imam An-Nawawi

Karena keluhuran ilmunya, beliau amat terkenal dan disegani oleh banyak orang. Banyak orang yang berguru kepada Imam an-Nawawi. Bahkan di antara murid-muridnya tersebut adalah seorang ulama. Diantaranya adalah:

  1. Al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari
  2. Syihabuddin al-Arbabi
  3. Shihabuddin bin Ja’wan
  4. Alauddin al-Aththar

Dari gemblengan beliau, bermunculanlah para ulama besar seperti:

  1. Sulaiman bin Hilal al-ja’fari
  2. Ahmad Ibnu Farah al-Isybili
  3. Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah
  4. Alauddin ‘Ali Ibnu Ibrahim (Ibnul ‘Aththar)
  5. Syamsuddin bin an-naqib, dll.
Baca Juga:  Imam Nawawi Tidak Pernah Menikah, Bagaimana dengan Maksud Hadis "An-Nikahu Sunnati?

Karya-Karya Imam An-Nawawi

Hasil dari ketekunan dalam menuntut ilmu, beliau tuangkan dalam banyak kitab yang dikarangnya. Jumlahnya sekitar 40 kitab. Beliau menulis di berbagai bidang ilmu seperti fiqih, hadits syarah hadits, musthalah hadits, bahasa dan akhlak. Di antaranya adalah:

Dalam bidang hadits:

  1. Al-Arba’in An-Nawawiyah. Merupakan sebuah buku kecil yang menghimpun 40 hadits Nabi.
  2. Riyadhu Ash-Shalihin. Kitab ini merupakan himpunan hadits shahih yang berkaitan dengan akhlak, adab, dan pembersihan jiwa.
  3. At-Taqrib wa at-Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir
  4. Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj). Beliau menulis buku ini pada tahun 674 H, atau dua tahun sebelum kematiannya. Buku ini merupakan buku terakhir yang ditulisnya dan memiliki 11 jilid.

Dalam bidang Fiqih:

  1. Minhaj At-Thalibin. Kitab ini selesai ditulis pada 669 H.
  2. Raudhatu At-Thalibin. Kitab ini merupakan ringkasan dari Syarah Al-Kabir karya Al-Rafi’i dan menjadi kitab fiqih terkemuka dalam madzhab Syafi’i. Imam an-Nawawi mulai menulis kitab ini pada 25 Ramadhan 666 H dan selesai pada 669 H dengan 8 jilid.
  3. Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Al-muhadzdzab karangan Imam Abi Ishaq Al-Syairazi. Imam An-Nawawi sendiri menulisnya hingga bab riba yang terdiri atas sembilan bab, lantas dilanjutkan oleh Taqi As-Subki dalam tiga jilid. Kitab ini juga diselesaikan syarahnya oleh syeikh Al-Muti’i, mufti Mesir.
  4. Matn Al-Idhah fi Al-Manasik. Kitab ini berisi tata cara mengerjakan haji dan umrah. Telah disyarahkan oleh Ali bin Abdullah bin Ahmad (m. 911 H) dan dikomentari oleh Ibnu hajar Al-Haitami (m. 974 H).

Dalam bidang bahasa:

  1. Tahdzib Al-Asma’ wa al-Lughat. Kitab ini mengenai bahasa dan penggunaan istilah yang tepat. Namun Imam an-Nawawi meninggal dunia tanpa sempat menyelesaikan kitab ini, namun demikian penulisan kitab ini sudah hampir selesai.
  2. At-Tahrir fi alfazh At-Tanbih. Buku ini merangkum penjelasan lafadz-lafadz dan istilah fiqih

Dalam bidang akhlak:

  1. At-Thibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an. Berisi hal-hal yang berkaitan dengan adab-adab ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
  2. Bustan Al-Arifin. Kitab ini berisi uraian tentang kezuhudan, keikhlasan dan sifat menjauhi perkara dunia.
  3. Al-Adzkar. Kitab ini berisi himpunan dzikir, doa-doa dan amalan bagi setiap muslim pada siang dan malam hari. Selesai ditulis pada 667 H.

Kitab-kitab yang diutarakan di atas merupakan sebagian karya yang dihasilkan oleh Imam an-Nawawi. Karena keberkahan yang Allah berikan dalam hidupnya, banyak buku karangan beliau yang terus dimanfaatkan oleh para penuntut ilmu di berbagai belahan dunia hingga saat ini.

Menjadi Syeikh di Dar Al-Hadits Al-Asyrafiyah

Adz-Dzahabi pernah mengatakan bahwa Imam an-Nawawi adalah seseorang yang memiliki pola hidup yang sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah seseorang yang bertaqwa, qana’ah, wara’ dan memiliki muraqabatullah, baik dalam keadaan sepi maupun ramai.

Pada tahun 651 H, beliau menunaikan ibadah haji bersama ayahandanya, kemudian pergi ke Madinah dan menetap di sana selama satu setengah bulan baru setelah itu kembali ke Damsyiq untuk belajar dan juga mengajar di Dar al-Hadits al-Asyrafiyah.

Di madrasah tersebut terdapat sebuah aturan tentang seseorang yang boleh menduduki kedudukan syeikh. Yaitu apabila seseorang tersebut memiliki kumpulan riwayat dan kumpulan dirayat maka akan didahulukan kumpulan riwayatnya. Dan tentu saja apabila memiliki keduanya itu lebih diutamakan untuk bisa menduduki posisi syeikh di madrasah tersebut. Beliau menjadi syeikh pada tahun 665 H dan sejak saat itu mengajar hingga wafat. Selama mengajar di Dar al-Hadits tersebut beliau tidak pernah mengambil sepersen pun dari gajinya kecuali untuk membeli kitab baru. Selebihnya gajinya beliau wakafkan.

Seorang Penasehat yang Alim

Semasa hidupnya beliau suka memberikan nasihat kepada siapa pun. Beliau tidak pernah melihat siapa orang yang dinasehatinya, bahkan kepada pemimpin sekali pun. Beliau tidak pernah takut akan celaan orang, selama nasehatinya adalah benar dan selalu menegakkan kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar.

Baca Juga:  Biografi Syekh Zainuddin Al Malibari Pengarang Fathul Muin

Dalam menghadapi berbagai persoalan yang pelik, orang-orang selalu datang kepadanya untuk meminta fatwa sebagai solusi atas persoalan tersebut. Suatu kali pernah Imam an-Nawawi menyelesaikan permasalahan penyitaan tanah yang merupakan hak warga Damsyiq oleh penguasa di tempat tersebut. Pada saat itu Damsyiq kedatangan penguasa dari Mesir, Raja Bibiris. Para wakil (pejabat) baitul maal menyangka bahwa kebanyakan taman yang ada di Syam adalam milik negara, sehingga raja memerintahkan untuk memagari dan menyita taman tersebut. Atas kejadian ini orang-orang melapor kepada Imam an-Nawawi di Dar Al-Hadits. Lantas beliau mengirimkan surat kepada sang penguasa, sebagaimana berikut:

“Kaum muslimin merasa dirugikan dengan adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama pun dari kalangan kaum muslimin. Karena barang siapa yang di tangannya sesuatu maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”

Setelah menerima surat ini sang raja marah dan memerintahkan untuk mencabut gaji sang Imam. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa Imam an-Nawawi tidak mendapat gaji dan tidak pula memiliki jabatan. Karena merasa bahwa dengan surat-menyurat tidak mendatangkan manfaat, maka sang raja memutuskan untuk menemui langsung sang imam dengan niat hendak mencaci-makinya. Namun Allah memalingkan hati penguasa tersebut dari berbuat seperti itu dan tidak jadi mencaci-makinya. Bahkan sang penguasa mencabut penyitaan tersebut.

Abul abbas bin Faraj berkata, “Syeikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang untuk mencapai satu tingkatannya saja pun sangat sulit didapatkan oleh orang lain. Namun Imam an-Nawawi mampu memiliki tiga tingkatan tersebut. Tingkatan tersebut adalah ilmu yang dalam dan luas, zuhud yang sangat, dan keberanian juga kepiawan dalam beramar ma’ruf nahi munkar.

Wafatnya Imam An-Nawawi

Pada tahun 676 H beliau kembali ke kampung halamannya di Nawa setelah mengembalikan berbagai kitab yang dipinjamnya dari sebuah badan wakaf. Beliau juga menziarahi makam para gurunya dan bersilaturahim kepada para sahabat beliau yang masih hidup. Pada hari keberangkatan beliau ke Nawa, para jama’ah yang beliau bina melepas kepergiannya di pinggiran kota Damsyiq (Damaskus). Mereka bertanya bilamana mereka dapat bertemu kembali. Namun Imam an-Nawawi menjawab bahwa mereka akan bertemu setelah 200 tahun. Awalnya mereka tidak mengerti perkataan sang Imam, namun akhirnya mereka faham bahwa yang dimaksud sang imam adalah setelah hari kiamat.

Pada saat wafatnya, kabarnya menyebar luas hingga Damaskus. Semua orang bersedih dan kehilangan atas wafatnya sang imam. Penguasa saat itu, ‘Izzuddin Muhammad bin Sha’igh datang dan menyolatkannya.

Beliau wafat pada 24 Rajab 676 H di Nawa dan dimakamkan di sana. Salah satu wasiat beliau adalah beliau tidak menginginkan kuburan beliau ditembok dan diberi kubah. Wasiat ini datang melalui mimpi seorang wanita ahli keluarganya yang didatangi oleh Imam an-Nawawi yang melarang penembokan atas kuburnya.

Penjaga kubur beliau mengatakan bahwa telah tumbuh sebuah pohon di atas makam beliau. Menurutnya semasa pohon itu tumbuh subur di setiap helai daunnya terdapat kalimat Allah di dahan-dahannya. Saat ini pohon itu tidak lagi mengeluarkan daun namun masih ada dahan yang bertuliskan kalimat Allah. Semoga keberkahan Allah selalu tercurah kepada Imam An-Nawawi. Aamiin Yarabbal’alamin

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *