Surah Asy-Syu’ara Ayat 23-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 23-28

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 23-28 ini, menerangkan jawaban Musa atas cercaan dan penghinaan Fir’aun terhadapnya, setelah kekakuan pada lidahnya hilang. Allah menerangkan bahwa setelah Fir’aun mendengar kata-kata Musa dan melihat sikapnya yang meyakinkan serta kesungguhannya menyampaikan dakwah terutama yang berhubungan dengan ketauhidan, yaitu supaya Fir’aun dan kaumnya menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan mereka, maka Fir’aun bangkit menentang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

dijelaskan tentang reaksi Fir’aun atas jawaban Musa di atas. Setelah mendengar jawaban Musa, ia cepat-cepat menoleh kepada kaumnya yang ada di sekelilingnya, dan menampakkan keheranannya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 23-28

Surah Asy-Syu’ara Ayat 23
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

Tafsir Jalalain: قَالَ فِرْعَوْنُ (Berkata Firaun) kepada Nabi Musa, وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (“Siapakah Rabb semesta alam itu?”) sebagaimana yang telah kamu katakan itu, bahwa kamu adalah Rasul-Nya? Maksudnya, siapakah Dia itu? Karena mengingat bahwa tiada jalan bagi makhluk untuk mengetahui hakikat Allah swt. melainkan hanya melalui sifat-sifat-Nya. Nabi Musa a.s. mengemukakan jawabannya kepada Firaun dengan ungkapan berikut.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman tentang perkataan Fir’aun: وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (“Siapa Rabb semesta alam itu?”) hal itu karena Fir’aun berkata kepada kaumnya: مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي (“Aku tidak tahu ada Ilah selainku untukmu.”)(al-Qashash: 38). Saat itu mereka mengingkari Rabb Maha pencipta, serta berkeyakinan bahwa tidak ada Rabb lain bagi mereka selain Fir’aun.

Maka tatkala Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku adalah utusan Rabbul ‘Aalamiin.” Fir’aun berkata kepadanya: “Siapakah yang engkau anggap Rabb semesta alam selain diriku ini?”

Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama salaf dan imam-imam Khalaf, hingga as-Suddi berkata tentang ayat ini, seperti firman Allah yang artinya: “Berkata Fir’aun: ‘Maka siapakah Rabb-mu berdua, hai Musa?’ Musa berkata: ‘Rabb kami adalah [Rabb] yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (ThaaHaa: 49-50).

“Barangsiapa di antara para ahli mantiq [ahli fikir] dan ahli-ahli lainnya yang menyangka bahwa pertanyaan ini menyangkut Dzat [Rabb], hal itu merupakan kekeliruan. Karena Fir’aun bukanlah orang yang mengakui adanya Rabb Mahapencipta hingga ia harus bertanya tentang Dzat-Nya, akan tetapi ia mengingkarinya secara menyeluruh sesuai kenyataan, sekalipun dalil-dalil dan bukti-bukti nyata telah diajukan kepadanya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan jawaban Musa atas cercaan dan penghinaan Fir’aun terhadapnya, setelah kekakuan pada lidahnya hilang. Musa menjelaskan bahwa pembunuhan yang dilakukannya terhadap tukang roti Fir’aun yang bertengkar dengan seorang dari Bani Israil adalah suatu ketidaksengajaan dan tidak direncanakan.

Dia hanya ingin melerai dan memberi pelajaran kepada tukang roti itu agar tidak berlaku kasar dan menghina Bani Israil. Dia memang memukulnya tetapi tidak bermaksud untuk membunuh, karena tidak tahan melihat tukang roti itu begitu sombong dan menghina kaumnya, Bani Israil. Kalau itu dianggap kesalahan, maka Musa mengakui bahwa waktu itu dia betul-betul khilaf.

Sekarang dia sudah berubah, Musa telah menjadi rasul yang diberi tugas oleh Allah untuk mengajak Fir’aun dan kaumnya kepada kehidupan beragama yang benar. Musa juga diberi tugas untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan yang tidak benar, yaitu perbudakan manusia oleh manusia.

Jika Fir’aun menyebut-nyebut jasa baiknya yang telah mengasuh Musa dan mendidiknya di istana, hal itu disebabkan kebijaksanaan Fir’aun atas keinginan istrinya untuk menyelamatkannya ketika ia dibuang ibunya ke Sungai Nil. Keluarga Fir’aun kemudian mengambilnya dan memelihara serta membesarkannya. Di sisi lain, Fir’aun telah mengeksploitasi Bani Israil dengan memperlakukan mereka sebagai budak.

Tafsir Quraish Shihab: Fir’aun berkata, “Lalu, bagaimana sebenarnya sifat Tuhan semesta alam yang selalu kamu sebut-sebut dan kamu katakan telah mengutusmu itu? Cobalah jelaskan, karena kami tidak mengenalnya sama sekali!”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 24
قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 49-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.

Tafsir Jalalain: قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (Musa menjawab, “Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya) yakni Dialah yang menciptakan kesemuanya itu إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ (jika kamu sekalian orang-orang yang mempercayai.”) bahwa Dia adalah yang menciptakan semuanya, maka berimanlah kalian kepada-Nya dan esakanlah Dia.

Tafsir Ibnu Katsir: Di saat dipertanyakan tentang siapa Rabb semesta alam itu, maka Musa menjawab: قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (“Rabb pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya.”) yaitu Mahapencipta, Pemilik dan Pengatur segala sesuatu, serta Ilah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Rabb yang menciptakan sesuatu seluruhnya, semua itu adalah hamba Allah yang tunduk dan patuh kepada-Nya.

إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ (“Jika kamu sekalian mempercayainya.”) yaitu jika kalian memiliki hati yang yakin dan wawasan yang luas.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah Fir’aun mendengar kata-kata Musa dan melihat sikapnya yang meyakinkan serta kesungguhannya menyampaikan dakwah terutama yang berhubungan dengan ketauhidan, yaitu supaya Fir’aun dan kaumnya menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan mereka, maka Fir’aun bangkit menentang.

Ia bertanya dengan nada marah, “Wahai Musa, engkau mengaku sebagai rasul Tuhan semesta alam. Apakah Tuhan semesta alam itu?” Fir’aun sangat heran dan merasa tersinggung atas pengakuan Musa tentang kekuasaan dan keesaan Allah karena ia telah memproklamirkan kepada kaumnya bahwa dia satu-satunya tuhan, tiada tuhan selain dia,

sebagaimana yang dijelaskan Allah di dalam firman-Nya: Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. (al-Qasas/28: 38)

(24) Pada ayat ini, Allah menerangkan jawaban Musa atas pertanyaan Fir’aun tentang Tuhan yang diakui Musa itu sebagai Tuhan yang mengutusnya. Untuk memudahkan pengertian Fir’aun tentang yang ditanyakan itu, maka Musa menjelaskan sebagian sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan Tuhan seru sekalian alam, sesuai dengan maksud pertanyaan Fir’aun.

Musa mengatakan bahwa Tuhan yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya dengan sebaik-baiknya. Tuhan yang menjadikan matahari, bulan, bintang-bintang yang gemerlapan di langit, sungai-sungai, lautan, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan di bumi, angin, hawa, dan lain-lain yang ada di antara langit dan bumi. Kalau memang Fir’aun dan kaumnya adalah orang-orang yang berkepala dingin, berpikiran sehat, dan memiliki hati yang terbuka, maka dengan jawaban Musa itu, tentu ia akan percaya dan meyakini keesaan Allah yang mengutus Musa.

Tafsir Quraish Shihab: Musa menjawab, “Dialah Penguasa langit dan bumi beserta isinya. Jika kalian meyakini jawabanku ini, maka kalian akan mendapatkan kebaikan dan petunjuk. Kalian pun akan tahu bahwa kerajaan Fir’aun yang dibangga-banggakan ini, yang hanya terbatas dalam satu wilayah saja di muka bumi, sangat tak pantas disejajarkan dengan kerajaan Tuhan.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 25
قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ

Terjemahan: Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berkata) Firaun لِمَنْ حَوْلَهُ (kepada orang-orang sekelilingnya,) dari kalangan orang-orang terpandang kaumnya أَلَا تَسْتَمِعُونَ (“Apakah kaian tidak mendengarkan?”) jawabannya yang tidak sesuai dengan pertanyaannya itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Di saat itulah Fir’aun berpaling ke sekelilingnya, memandang para tokoh dan pembesar negerinya dengan berkata kepada mereka sambil mengejek, mencela dan mendustakan tentang apa yang dikatakan Musa: أَلَا تَسْتَمِعُونَ (Apakah kamu tidak mendengarkan?”) yakni apakah kalian tidak merasa heran dengan apa yang disangkanya bahwa ada ilah untuk kalian selain aku?

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan tentang reaksi Fir’aun atas jawaban Musa di atas. Setelah mendengar jawaban Musa, ia cepat-cepat menoleh kepada kaumnya yang ada di sekelilingnya, dan menampakkan keheranannya.

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 53-54; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Fir’aun berkata kepada mereka dengan nada menyindir dan mengejek, “Wahai kaumku, kamu sekalian telah mendengar ucapan-ucapan Musa yang mengatakan bahwa ada Tuhan selain aku? Apakah itu bukan suatu hal yang aneh dan suatu hal yang merupakan penyelewengan?” Hal ini dilakukan oleh Fir’aun karena ia khawatir kalau-kalau kaumnya terpengaruh oleh jawaban Musa. Kalau begitu, mereka akan berbalik tidak mempercayai dan mengakuinya lagi sebagai Tuhan.

Tafsir Quraish Shihab: Fir’aun merasa heran mendengar adanya Tuhan selain dirinya dan bahwa kerajaannya tidak pantas dibandingkan dengan kerajaan Tuhan. Dengan sikap meremehkan, Fir’aun mengungkapkan keheranannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Bagaimana tanggapan kalian mendengar ucapan Musa ini?”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 26
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

Terjemahan: Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berkata pula) Musa, وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ (“Rabb kalian dan Rabb nenek moyang kalian yang dahulu”) jawaban Nabi Musa kali ini sekali pun isinya telah terkandung pada jawaban yang pertama tadi tetapi membuat Firaun naik pitam. Oleh sebab itu,.

Tafsir Ibnu Katsir: Maka Musa berkata kepada mereka: رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ (“Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu yang terdahulu.”) yaitu Dia lah Pencipta kalian dan pencipta nenek moyang kalian yang terdahulu sebelum Fir’aun dan masanya.

Tafsir Kemenag: Musa melihat Fir’aun dengan kaumnya belum juga puas atas jawabannya, sehingga mereka belum mau mengakui dan mempercayai bahwa yang mengutus Musa itu, Tuhan seru sekalian alam. Musa lalu menambah penjelasannya dengan harapan semoga dengan penjelasan tambahan ini, mereka menyadari dan menginsyafi pendirian mereka yang sesat itu.

Musa mengatakan bahwa Tuhan yang mengutusnya ialah Tuhan Fir’aun dan nenek moyangnya dahulu. Musa mengalihkan pandangan mereka kepada hal penting, yaitu bahwa Tuhan yang sebenarnya ialah Tuhan yang menciptakan mereka, nenek moyang mereka, dan Fir’aun.

Dengan kejadian tersebut, mereka akan berpikir bahwa mereka dan alam ini ada karena ada Pencipta dan ada yang mengaturnya, kuasa berbuat menurut kehendak-Nya. Tuhan alam semesta itulah yang mengaturnya, yaitu Tuhan yang hakiki dan tetap ada, sekali pun semua makhluk-Nya sudah tidak ada lagi dan Dia Qadim tidak bermula. Dia juga Tuhan yang mengutus Musa.

Tafsir Quraish Shihab: Tanpa mempedulikan kegeraman dan cemoohan Fir’aun, Musa melanjutkan lagi, “Tuhan semesta alam adalah Penciptamu dan para nenek moyangmu. Di antara nenek moyangmu itu ada yang mengaku Tuhan sebagaimana halnya kamu. Mereka semua telah binasa, dan kamu pun akan binasa pula. Dengan demikian, anggapan dirimu sebagai Tuhan sama sekali tidak dapat dibenarkan.
Sebab, Tuhan yang hakiki tidak akan pernah mati.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 27
قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ

Terjemahan: Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”.

Tafsir Jalalain: قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ (Firaun berkata, “Sesungguhnya Rasul kalian yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”).

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ (“Berkata Fir’aun kepada kaumnya”): إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ (“Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.”) yaitu dia tidak memiliki akal dalam pengakuannya yang menyatakan bahwa di sana ada Rabb selainku.

Tafsir Kemenag: Setelah Musa menjelaskan bukti-bukti atas ketuhanan Allah yang mengutusnya, Fir’aun bungkam seribu bahasa, tidak dapat memberi jawaban. Ia lalu mengeluarkan kata-kata yang ditujukan kepada kaumnya untuk meragukan mereka terhadap alasan dan bukti-bukti yang telah dikemukakan Nabi Musa.

Fir’aun berkata, “Wahai kaumku. Sesungguhnya rasul yang mengaku bahwa ia diutus kepada kamu sekalian, sebenarnya adalah orang gila. Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dipahami dan dimengerti sama sekali karena mengatakan bahwa ada Tuhan selain aku.”.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 81-84; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Untuk membangkitkan kemarahan kaumnya, Fir’aun berkata kepada mereka. Dikatakannyalah sesuatu yang tidak benar mengenai kerasulan Musa dengan menganggapnya sebagai orang gila. Karena, menurutnya, ia menjawab sesuatu yang tidak ditanyakan dan menyematkan Tuhan dengan sifat-sifat yang aneh. Demikianlah, Fir’aun telah menghasut kaumnya untuk mendustakan Musa.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 28
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

Terjemahan: Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berkata) Musa, رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ (“Rabb yang menguasai Timur dan Barat dan apa yang di antara keduanya -itulah Rabb kalian, jika kalian mempergunakan akal”) maka berimanlah kepada-Nya, dan esakanlah Dia.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ (“Berkata Musa”) kepada mereka yang ditanamkan pemikiran syubhat oleh Fir’aun dimana Musa menjawabnya dengan kata-kata: رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ (“Rabb yang menguasai Timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu menggunakan akal”) yaitu Dia lah yang telah menjadikan timur sebagai tempat munculnya bintang-bintang, dan menjadikan barat sebagai barat tempat surufnya bintang-bintang dalam garis edarnya bersama sistem yang diberlakukan dan ditetapkan bagi semua itu.

Maka jika yang dia sangka bahwa dia adalah Rabb dan Ilahkalian itu benar maka dia pasti bisa membalikkan semua perkara tersebut dimana timur menjadi barat dan barat menjadi timur, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.

Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 258)

Untuk itu ketika Fir’aun merasa telah terkalahkan dan mulai digugurkan dalil-dalilnya, maka ia mulai mengandalkan kesombongan, kekuatan dan kekuasaannya. Ia berkeyakinan bahwa hal itu bisa bermanfaat bagi dirinya dan dapat mengalahkan Musa as.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Musa mengemukakan lagi sifat-sifat Tuhan seru sekalian alam yang mengutusnya. Dia adalah Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya. Dia adalah Tuhan yang menjadikan timur tempat matahari terbit, dan barat tempat matahari terbenam. Dia juga yang menjadikan perjalanan bintang-bintang itu dalam peredaran yang teratur.

Bagi orang yang mau mempergunakan akalnya tentu dapat mengerti bahwa kejadian-kejadian yang demikian itu adalah bukti nyata yang menunjukkan adanya Tuhan yang mengatur segala-galanya dengan rapi dan baik sekali. Musa pada mulanya menghadapi dan menjawab pertanyaan Fir’aun itu dengan nada lembut dan ucapan yang mantap: “jika kamu mempergunakan akal”. Ucapan itulah yang sesuai untuk menolak tuduhan Fir’aun kepadanya bahwa ia orang gila.

Tafsir Quraish Shihab: Musa berkata, “Jika memang kalian berpikir, berimanlah kepada risalahku ini. Karena sesungguhnya terbit dan terbenamnya matahari dengan suatu ketetapan yang sangat teliti merupakan bukti yang jelas akan adanya Sang Pencipta. Dengan demikian, kalianlah yang berhak dikatakan tidak waras.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 23-28 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S