Surah Asy-Syura Ayat 25-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 25-28

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 25-28 ini, Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menerima tobat hamba-Nya, memaafkan perbuatan dosa dan kejahatan. Allah itu Maha Mengampuni segala dosa dan mengetahui segala apa yang dikerjakan hamba-Nya baik berupa kebaikan maupun berupa kejahatan, lalu mereka dibalas dengan pahala dan siksa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lalu diterangkan ia yang memberi berkah hujan itu dan mendatangkan manfaat yang banyak serta menjadikan tanah subur. Dia-lah yang menguasai urusan hamba-Nya, memberikan mereka maslahat. Dia-lah yang wajib dipuji atas rahmat yang telah dikaruniakan kepada mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 25-28

Surah Asy-Syura Ayat 25
وَهُوَ ٱلَّذِى يَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَيَعۡفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ

Terjemahan: Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

Tafsir Jalalain: وَهُوَ ٱلَّذِى يَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ (Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya) dari sebagian di antara mereka وَيَعۡفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ (dan memaafkan kesalahan-kesalahan) yang para pelakunya telah bertobat daripadanya وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ (dan mengetahui apa yang kalian kerjakan) dapat dibaca Taf’aluuna atau Yaf’aluuna; kalau dibaca Yaf’aluuna artinya, mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman tentang karunia-Nya yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dengan diterimanya taubat mereka jika mereka bertaubat dan kembali kepada-Nya. Dan di antara kemuliaan dan kemurahan-Nya adalah memaafkan, menghapuskan, menutupi dan mengampuni, seperti firman Allah yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah [adalah] Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (an-Nisaa’: 10)

Tercantum dalam shahih Muslim –semoga rahmat Allah untuknya, dia berkata: Muhammad bin ash-Shabah dan Zubair bin Harb berkata: Umar bin Yunus meriwAyatkan kepada kami, dari ‘Ikrimah bin ‘Ammar, dari Ishaq bin Abi Thalhah, bahwa pamannya, yaitu Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Allah Ta’ala amat bergembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat [melebihi] dibanding dengan [kegembiraan] seseorang di antara kalian yang sedang mengendarai binatang tunggangan di tengah padang pasir. Lalu binatang tunggangannya itu tiba-tiba lenyap, padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya.

Saat ia berputus asa mencarinya, lalu iapun mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawahnya. Tiba-tiba binatang kendaraannya itu berada di sisinya, lalu iapun mengambil tali pengikatnya. Kemudian ia berkata karena amat gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu,’ dia salah berkata karena gembiranya.” Tercantum juga dalam sebuah kitab shahih, dalam riwAyat ‘Abdullah bin Mas’ud dengan redaksi serupa.

Firman Allah: وَيَعۡفُواْ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ (“dan memaafkan kesalahan-kesalahan.”) yaitu menerima taubat pada masa yang akan datang dan memaafkan kesalahan-kesalahan di masa lalu. وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ (“dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yaitu Dia Mahamengetahui seluruh apa yang kalian kerjakan, lakukan dan katakan. Di samping itu, Dia pun menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menerima tobat hamba-Nya, memaafkan perbuatan dosa dan kejahatan. Sayyidina ‘Ali pernah ditanya tentang tobat. Beliau menjawab, “Tobat itu ada enam syarat.”

  1. Menyesali perbuatan maksiat yang telah dikerjakan pada masa yang lalu.
  2. Mengerjakan ibadah wajib yang telah ditinggalkan.
  3. Mengembalikan hak orang yang telah diambilnya secara zalim.
  4. Memaksakan diri merasakan pahitnya ketaatan sebagaimana dia merasakan manisnya maksiat.
  5. Menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan sebagaimana ia telah memanjakannya dengan berbuat kemaksiatan.
  6. Menangis sebagai ganti gelak tawa yang pernah dilakukannya.

Ayat ini ditutup dengan penjelasan bahwa Allah itu Maha Mengampuni segala dosa dan mengetahui segala apa yang dikerjakan hamba-Nya baik berupa kebaikan maupun berupa kejahatan, lalu mereka dibalas dengan pahala dan siksa.

Tafsir Quraish Shihab: Hanya Allah yang menerima pertobatan hamba-hamba-Nya yang taat, mengampuni–atas dasar kebaikan dan kasih sayang–semua dosa selain syirik, dan mengetahui semua perbuatan baik dan buruk yang kalian lakukan.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 47-48; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syura Ayat 26
وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦ وَٱلۡكَٰفِرُونَ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ

Terjemahan: dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.

Tafsir Jalalain: وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ (Dan Dia memperkenankan doa orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh) maksudnya, Dia mengabulkan apa yang mereka minta وَيَزِيدُهُم (dan menambah kepada mereka) maksudnya, Allah menambah kepada mereka مِّن فَضۡلِهِۦ وَٱلۡكَٰفِرُونَ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ (dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ (“Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih.”) as-Suddi berkata: “Yaitu mengabulkan bagi mereka.” Begitu pula Ibnu Jarir berkata:

“Maknanya adalah mengabulkan doa mereka untuk mereka sendiri, shahabat-shahabat mereka dan saudara-saudara mereka. Dia menceritakan dari sebagian ahli nahwu, yang menjadikannya seperti firman Allah: فَٱسۡتَجَابَ لَهُمۡ رَبُّهُمۡ (“Lalu Rabb mereka memperkenankan bagi mereka.”)(Ali ‘Imraan: 195)

Ibnu Jarir menceritakan dari sebagian ahli bahasa Arab yang menjadikan firman Allah: ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ (“orang-orang yang mendengarkan perkataan.”)(az-Zumar: 18). Yaitu mereka menerima kebenaran dan mengikutinya, seperti firman Allah:

“Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi [seruan Allah], dan orang-orang yang meninggal akan dibangkitkan oleh Allah.” (al-An’am: 36). Makna yang pertama lebih jelas berdasarkan firman Allah:

وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦ (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”) yaitu, Dia memperkenankan doa-doa mereka dan memberikan tambahan lagi mereka di atas semua itu.

Untuk itu, Ibnu Abi Hatim meriwAyatkan dari ‘Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang firman Allah: وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦ (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”): “Syafaat [itu] bagi orang yang harus masuk api neraka di antara orang yang telah melakukan kebaikan kepada mereka di dunia.”

Qatadah bekata bahwa Ibrahim an-Nakha’i berkata tentang firman Allah: وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ (“Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih.”) yakni mereka memberi syafaat kepada saudara-saudara mereka. وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦ (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”) yakni mereka memberikan syafaat kepada para saudaranya saudara-saudara mereka.”

Firman Allah: وَٱلۡكَٰفِرُونَ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ (“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka adzab yang sangat keras.”) setelah Dia menyebutkan orang-orang beriman dan pahala yang melimpah yang mereka dapatkan, Dia pun menyebutkan orang-orang kafir dan adzab yang pedih yang menyakitkan yang mereka peroleh pada hari kiamat, yaitu hari kembali dan hari perhitungan mereka.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia senantiasa memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan menambah bagi mereka pahala dan karunia, sebagaimana firman Allah:

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Gafir/40: 60)

Allah berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. (al-Baqarah/2: 186).

Tafsir Quraish Shihab: Allah, kemudian, memenuhi permohonan orang-orang Mukmin dan berbuat baik, lalu menambahnya melebihi apa yang mereka mohon. Sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan azab yang sangat kejam dan menyakitkan.

Surah Asy-Syura Ayat 27
وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ

Terjemahan: Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Baca Juga:  Surah Ali Imran Ayat 10-15; Tafsir dan Terjemahannya

Tafsir Jalalain: وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ (Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya) semuanya لَبَغَوۡاْ (tentulah mereka akan melampaui batas) semuanya akan melampaui batas; tentulah mereka akan berlaku sewenang-wenang فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ (di muka bumi, tetapi Allah menurunkan) dapat dibaca Yunazzilu atau Yunzilu, yakni menurunkan rezeki-Nya بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ (apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran) maka Dia melapangkan rezeki itu kepada sebagian hamba-hamba-Nya, sedangkan yang lainnya tidak; dan timbulnya sikap melampaui batas ini dari melimpahnya rezeki.

إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ (Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Dan jikalau Allah melapangkan rizky kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”) seandainya Dia memberikan kepada mereka rizky di atas kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan membawa mereka berlaku sewenang-wenang dan saling mendhalimi satu dengan yang lainnya karena angkuh dan sombong.

Qatadah berkata: “Ada ungkapan: kehidupan yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dan tidak menjadikanmu melampaui batas.”

Firman Allah: وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ (“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui [keadaan] hamba-hamba-Nya lagi Mahamelihat.”) yaitu, akan tetapi Dia memberikan rizky kepada mereka sesuatu yang dipilih-Nya untuk kemashlahatan mereka. Dia mengetahui tentang hal tersebut. Dia menjadikan kaya orang yang berhak menerima kekayaan dan menjadikan fakir kepada orang yang berhak menerima kefakiran.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia tidak akan memberi hamba-Nya rezeki yang berlimpah-limpah, jika pemberian itu bisa membawa mereka kepada keangkuhan dan ketakaburan, sebagaimana firman Allah: Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. (al-‘Alaq/96: 6-7)

Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan kadar tertentu, sesuai dengan kehendak dan selaras dengan kebijaksanaan-Nya. Dengan sifat rahman Allah, Dia tetap memberikan rezeki meskipun orang itu tidak beriman bahkan ketika manusia melupakan Tuhannya, saat itulah Allah melimpahkan lebih banyak lagi rezekinya. Apabila mereka tetap tidak bersyukur, dan larut dalam kesenangan, barulah Allah menjatuhkan azabnya sebagaimana firman Allah:

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (al-An’am/6: 44)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kekayaan seseorang bukan indikator bahwa Allah sayang kepadanya, tetapi kekayaan justru menjadi batu ujian bagi keimanan seseorang. Contoh bagaimana sikap seseorang terhadap kekayaannya, dapat dilihat apakah dia menggunakannya untuk memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain, karena keterlibatan hak orang lain pada kekayaannya dan sebagai tanda bersyukur kepada sang pemberi kekayaan, atau dia menggunakan kekayaan itu hanya untuk kesenangan dirinya dan mengklaim bahwa kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri, sehingga lupa kepada Allah yang memberi kekayaan. Allah berfirman:

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (al-Anfal/8: 28)

Dalam hal ini, Karun dan Fir’aun menjadi contoh nyata, karena kekayaan dan kejayaannya menyebabkan keduanya sombong kepada Allah.

Abu Hani’ al-Khaulani berkata, “Saya mendengar ‘Amr bin Khurait dan lainnya mengatakan bahwasanya Ayat ini (Ayat 27 ini) diturunkan kepada ahlusuffah (penghuni beranda masjid Nabi di Medinah); mereka berangan-angan memiliki harta benda (yang bertumpuk-tumpuk), mereka mengangankan kemegahan dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Kalau saja Allah meluaskan rezeki semua hamba-Nya, sebagaimana mereka harapkan, niscaya mereka akan menjadi sewenang-wenang dan berbuat zalim di bumi. Tetapi Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 36-39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah benar-benar mengetahui urusan semua hamba-Nya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Kemudian, dengan kebijaksanaan- Nya pula, Dia menentukan segala sesuatu yang bisa membawa kebaikan kepada urusan-urusan mereka itu.

Surah Asy-Syura Ayat 28
وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ وَهُوَ ٱلۡوَلِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

Terjemahan: Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ (Dan Dialah Yang menurunkan hujan) yakni air hujan مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ (sesudah mereka berputus asa) putus harapan dari turunnya hujan وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ (dan menyebarkan rahmat-Nya) maksudnya, menyebarkan hujan yang diturunkan-Nya.

وَهُوَ ٱلۡوَلِىُّ (Dan Dialah Yang Maha Pelindung) yang berbuat baik kepada orang-orang Mukmin ٱلۡحَمِيدُ (lagi Maha Terpuji) di kalangan orang-orang beriman.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ (“dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa.”) yaitu setelah manusia berputus asa akan turunnya hujan, dengan menurunkannya di saat mereka membutuhkannya dan amat menghajatkannya, seperti firman Allah: “Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar berputus asa.” (ar-Ruum: 49)

Firman Allah: وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ (“Dan menyebarkan rahmat-Nya.”) yaitu menyamakan keberadaannya untuk penduduk dan wilayah itu.
Qatadah berkata: Telah diceritakan kepada kami, bahwa seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab: “Hai Amirul Mukminin, hujan tidak turun dan manusia mulai berputus asa.” Umar berkata: “Kalian akan ditimpa hujan.” Lalu ia membaca:

وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ وَهُوَ ٱلۡوَلِىُّ ٱلۡحَمِيدُ (“Dan menyebarkan rahmat-Nya.”) (“dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahamelindungi lagi Mahaterpuji.”)

Dia-lah Yang mengatur urusan makhluk-Nya dengan sesuatu yang memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat mereka. Dia-lah Mahaterpuji kesudahannya dalam seluruh apa yang ditentukan dan diperbuat-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit, membantu mereka yang telah berputus asa karena air yang diharapkan datang dari langit tak kunjung datang. Dia-lah yang memberi berkah hujan itu dan mendatangkan manfaat yang banyak serta menjadikan tanah subur. Dia-lah yang menguasai urusan hamba-Nya, memberikan mereka maslahat. Dia-lah yang wajib dipuji atas rahmat yang telah dikaruniakan kepada mereka.

Qatadah berkata, “Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab, “Hujan tidak turun, manusia sudah putus asa wahai Amirul Mukminin.” Umar menjawab, “Engkau sekalian akan dikaruniai hujan,” lalu beliau membaca Ayat ini.

Tafsir Quraish Shihab: Allah sematalah yang menurunkan air hujan yang dapat menyelamatkan mereka dari rasa putus asa akibat kekeringan dan tanah yang tandus, sebagai perwujudan kasih sayang kepada hamba-Nya. Manfaat air hujan itu Dia bagi-bagikan kepada tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, hewan, dataran rendah dan pegunungan. Hanya Dia yang mengatur urusan hamba-hamba-Nya. Dia Maha Terpuji karena pemberian nikmat dan semua perbuatan-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 25-28 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S