Macam-Macam Hadits Nabi dan Definisinya

Macam-Macam Hadits Nabi dan Definisinya

PeciHitam.org – Sebagai seorang Muslim, mengenal hadits adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu, perlu kiranya bagi kita mengetahui pengertian dan apa saja macam-macam hadits.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hadits adalah semua hal yang pernah dikatakan, segala tindakan yang dilakukan dan keputusan yang pernah ditetapkan oleh Nabi. Jadi bisa disimpulkan, definisi Hadits meliputi:

Perkataan Nabi

Tanda bahwa itu adalah sebuah perkataan Nabi, dalam sebuah matan hadits di sebutkan oleh perowi dengan “nabi mengatakan” (Qola An-Nabi). Apabila terdapat hadits yang diawali atau terdapat kalimat tersebut sudah bisa dipastikan itu adalah sebuah perkataan Nabi.

Tindakan Nabi

Perlu diketahui, tidak hanya perkataan Nabi yang digunakan sebagai pondasi hukum, melainkan juga tindakannya. Dalam sebuah Matan Hadits biasanya hal ini ditandai dengan aktifitas Nabi sepert halnya “saya pernah melihat Nabi melakukan…”

Ketetapan Nabi

Dalam beberapa kasus, Nabi mengisyaratkan sebuah ketetapan dengan tanpa meakukan apapun seperti mendiamkan seseorang melakukan sebuah hal, yang mana mengindikasikan kesetujuan Nabi terhadapnya.

Setelah mengetahui Hadits secara definitif, tugas kita selanjutnya adalah mengetahui keaslian hadits-hadits tersebut. Apakah benar hal tersebut sebuah Hadits? Karena tidak sedikit juga hadits palsu yang membumi. Dari sini kita akan membahas tentang macam-macam Hadits, yang mana yang paling terkuat, mana yang kuat saja, dan mana yang tidak kuat sama sekali.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 3 - Kitab Permulaan Wahyu

Secara garis besar macam-macam Hadits dapat diklasifikasikan menjadi tiga:

Hadits Shahih

Hadits shahih tergolong hadits yang terkuat dari semua hadits, karena Hadits Shahih adalah hadits yang paling bisa pertanggung jawabkan dari sisi sanad dan matanya.

Hal ini ditandai dengan matan yang tidak terdapat Syadz (pertentangan dengan hadits yang lebih Shahih dan Al-Qur’an), dan dari sisi sanadnya di bawakan oleh seorang perawi yang Dhabith (seorang perawi yang memiliki ingatan sangat kuat), dan memiliki rantai perawi yang tersambung langsung dengan Nabi.

Sesuai dengan definisi yang Hadits Shohih dalam kitab Taisir Mushtholahil Hadits:

ما اتصل سنده بنقل العدل الظابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

Artinya: “Setiap hadits yang rangkaian sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat di dalamnya syadz dan ‘illah.”

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 482-483 – Kitab Shalat

Hadits Hasan

Hadits Hasan adalah hadits yang masih bisa digunakan sebagai sumber hukum karena secara sanad dan matan sudah bisa dipertanggung jawabkan, hadits ini hampir sama dengan Hadits Shahih, hanya saja yang membedakan adalah yang membawa hadits ini atau dalam kata lain perawinya dinilai kurang kuat hafalannya.

Mengutip definisi Hadits Hasan dari kitab yang sama yakni Taisir Mushtholahil Hadits, Hadits Hasan adalah:

هو ما اتصل سنده بنقل العدل الذي خف ضبطه عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

Artinya: “Hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi adil, namun kualitas hafalannya tidak seperti hadits shahih, tidak terdapat syadz dan ‘illah.”

Hadits Dhaif

Kategori terakhir adalah Hadits Dhaif, hadits jenis ini tidak bisa dijadikan sebagai patokan, dikarenakan secara matan dan sanad tidak bisa dipertanggung jawabkan. Hal ini biasanya disebabkan karena sanad yang terputus atau tidak sampai kepada Nabi langsung, dibawakan oleh perawi yang tidak Dlobith dan adil, ataupun dalam segi matan terdapat perselisihan dengan Hadits Shohih atau Hasan.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 303 – Kitab Haid

Hadits Dhaif memang tidak dapat dijadikan sebagai patokan istinbath hukum, namun ulama sepakat hadits dhoif ini boleh digunakan sepanjang dalam matannya mengandung unsur positif atau kebaikan.

Demikian adalah macam-macam Hadits berdasarkan kuat lemahnya, adapun penggunaannya haruslah secara berurutan, untuk sebuah istinbath hukum sumber diharuskan merujuk kepada Hadits Shohih atau yang terkuat terlebih dahulu, bila dalam Hadits Shohih tidak ada barulah menggunakan Hadits Hasan.

Sedangkan Hadits Dhaif penggunaannya hanya dibatasi pada aktifitas yang mengandung kebaikan saja, bukan sebagai sumber hukum.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.