Nongkrong Tidak Dilarang dalam Islam, Tapi Inilah Pesan Nabi Saw

nongkrong dalam islam

Pecihitam.org – Kita sepertinya sudah sangat familiar dengan istilah nongkrong. Kegiatan ini biasannya menjadi alternatif dan sarana untuk melepas lelah dan penat di akhir hari. Nongkrong adalah aktifitas yang tidak dilarang, namun dalam Agama Islam juga mengatur akan hal ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebab, tidak dipungkiri aktivitas ini walau ada sisi positifnya namun juga berpotensi besar menimbulkan hal negatif. Lantas bagaimana pesan Rasulullah Saw terhadap aktivitas nongkrong ini?

Sudah jelas bahwa aturan agama bertujuan untuk mengakat derajat penganutnya. Dan agama Islam ingin menciptakan ukhuwah Islamiyah, yaitu masyarakat yang salim memberi rasa cinta dan damai serta mengikat mereka dengan tali persaudaraan dan kecintaan satu sama lain. Sedangkan aktifitas nongkrong yang tidak terkontrol dapat berpotensi untuk merusak tujuan tersebut.

Kita tidak memungkiri, bahwa saat ini kegiatan nongkrong yang dilakukan anak-anak muda lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. Bahkan yang tujuan awalnya baik untuk menjalin silaturahmi, semakin lama, justru mengarah kepada hal yang mengarah pada ghibah (gosip).

Tapi tidak perlu heran, sebab aktifitas nongkrong juga sudah membudaya sejak zaman Nabi bahkan para sahabat juga melakukan hal itu. Meski tidak melarangnya, namun Nabi Saw mempertegas sikap dan mewanti-wanti terhadap hal ini.

Baca Juga:  Inilah 8 Keutamaan Bulan Dzulhijjah yang Wajib Kamu Ketahui

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwasanya Rasulullah Saw: “Janganlah kalian duduk-duduk di (pinggir-pinggir) jalan!”. Lalu mereka berkata: “wahai Rasulullah! Kami tidak punya (pilihan) tempat duduk-duduk untuk berbicara (disana)”. Beliau bersabda: “Bila tidak bisa kalian hindari selain harus duduk-duduk (di situ) maka berilah jalan tersebut haknya!”. Mereka berkata: “Apa hak jalan itu, wahai Rasulullah?”. beliau bersabda: “Memicingkan pandangan, mencegah (adanya) gangguan, menjawab salam serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran”. (H.R. Muttafaqun ‘alaihi).

Pada zaman dulu mungkin saja nongkrong banyak dilakukan dipinggir jalan. Namun di era sekarang, hal ini sudah bergeser ditempat-tempat yang memang dikhususkan untuk melakukan aktivitas nongkrong. Seperti di coffee shop, restoran tempat-tempat lain yang sengaja dibuat untuk aktivitas ini.

Dalam hadist tersebut diatas Rasulullah SAW menyampaikan bagaimana Islam mengajarkan kode etik ketika melakukan kegiatan nongkrong tersebut yaitu:

Pertama, memicingkan mata.

Maksud dari memicingkan mata ialah menjauhkan mata dari pandangan yang haram. Ketika nongkrong, baik di mall, cafe atau tempat-tempat umum lainnya pasti akan bertemu dengan yang bukan mahramnya. Maka menjaga pandangan mata adalah kewajiban yang patut diindahkan dalam setiap situasi dan kondisi baik itu oleh laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga:  Hukum Taat Aturan Berlalu Lintas dalam Pandangan Islam

Allah Swt berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Q.S. Surat An-Nur: 30).

Kedua, mencegah adanya gangguan.

Gangguan yang dimaksud adalah hal-hal yang dapat berdampak negatif seperti ucapan yang tak layak; cacian, makian, ghibah, ejekan dan sindiran kepada orang lain. Bahkan pandangan mata saja bisa menimbulkan gangguan yang tidak kita sadari.

Ketiga, menjawab salam.

Sudah kita ketahui bersama bahwa menjawab salam adalah suatu yang wajib dan para ulama secara ijma’ menyepakati hal itu. Salam adalah ucapan hormat kaum muslimin yang berisi doa keselamatan, rahmat dan keberkahan. Allah Swt berfirman:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah pernghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa) Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisa’: 86).

Keempat, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Baca Juga:  Belajar dari Seekor Lebah, Menjadi Umat yang Tak Mudah Marah

Nah, sebgai umat Muslim dalam aktifitas nongkrong pun kita harus senantiasa melakukan dan menyeru kepada perbuatan yang baik dan saling mencegah perbuatan yang mungkar. Allah Swt berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali-Imran: 104).

Nah, demikianlah etika nongkrong dalam Islam. Terlihat kekinian tidak harus negatif, bahkan jika dilakukan dengan benar bisa membawa kebaikan bersama satu sama lain. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik