Kritik Gus Dur Terhadap MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Kritik Gus Dur Terhadap MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Pecihitam.org – Selain memberikan Kritik terhadap Islam radikal, kritik Gus Dur terhadap MUI juga bisa bilang sangat vocal, karena menurut Gus Dur, MUI dianggap sebagai dalang dibalik munculnya berbagai aksi kekerasan oleh kalangan Islam radikal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam kritik gus dur terhadap MUI, MUI saat ini tidak lagi berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah terhadap umat Islam, melainkan telah menjadi bunker para kaum Islam radikal untuk mendikte pemerintah.

Gus Dur berpendapat demikian karena selama ini ia melihat bahwa MUI telah memberikan ruang yang cukup besar pada keberadaan organisasi Islam radikal, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam struktur kepengurusannya.

Bagi Gus Dur, HTI tak layak mengambil bagian di dalam tubuh MUI -yang merupakan lembaga yang dibiayai oleh negara- karena HTI jelas-jelas mencita-citakan Khilafah Islam transnasional yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Di era pasca Orde Baru, HTI dan beberapa kelompok Islam radikal lainnya yang bercorak Salafi-Wahabi tumbuh dengan pesat bak jamur di musim hujan. Di zaman Orde Baru, mereka lebih memilih berdakwah secara sembunyisembunyi dengan mengkamuflase kegiatannya seolah-olah sebagai kegiatan yang murni yang bersifat keagamaan.

Namun, setelah terjadinya era demokratisasi yang ditandai dengan munculnya kebebasan berekspresi dan berpendapat, kelompok-kelompok ini makin menunjukkan taring serta nafsu kekuasaanya dengan mengusung agenda Islamisasi negara sebagai alternatif terhadap krisis sosial-politik.

Baca Juga:  Meluruskan Ustadz Badrussalam Tentang Peran Walisongo di Indonesia, Makanya Baca Sejarah!

Dalam menyebarkan agenda ideologisnya, para kelompok Islam radikal kerap bersembunyi di balik dalih tarbiyah dan jargon amar maruf nahi mungkar, sehingga banyak orang menjadi tertipu dengan modus mereka, terlebih mereka sering menjual dan mengobral simbol-simbol keagamaan di ruang publik.

Kelompok Islam radikal sering mengatasnamakan NU/Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di Indonesia yang dikenal sebagai gerbong Islam moderatdalam dakwahnya. Dakwah mereka sedikit banyaknya dapat mengelabui sebagian umat Islam karena beberapa dari mereka sering memiliki dual membership dalam keanggotaan ormas Islam, yakni di satu sisi mengaku sebagai anggota NU atau Muhammadiyah, namun di sisi lain mereka juga merupakan bagian dari kelompok Islam radikal.

Adanya dual membership tersebut telah mempermudah mereka untuk menggiring masyarakat mengikuti ideologinya karena masyarakat menganggap mereka sebagai bagian dari NU/Muhammadiyah. Setelah sukses merekrut banyak jamaah, mereka akhirnya akan menegasikan segala prestasi yang telah dicapai oleh NU/Muhammadiyah.

Strategi jitu lainnya yang sering digunakan oleh kelompok Islam radikal untuk menyebarkan agenda ideologisnya, yakni dengan menyusup ke dalam keanggotaan pengurus masjid. Pada awalnya, mereka menawarkan diri untuk menjadi cleaning service gratis di masjid-masjid, sebagaimana yang dilakukan di beberapa masjid milik jamaah NU.

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan Salafi Wahabi Tentang Haramnya Membaca Yasin di Malam Jumat - Bagian 2

Namun perlahan tapi pasti, setelah posisi mereka telah menjadi kuat dalam struktur keanggotaan takmir masjid, mereka akan mengajak rekan-rekannya bergabung. Mereka lalu membuat aturan yang ketat sesuai dengan apa yang telah disepakati dan diyakini oleh kelompoknya.

Puncaknya, mereka mengambil alih pengelolaan masjid tersebut untuk menyebarkan pemahaman radikal yang mereka yakini. Itulah sebabnya Gus Dur sering mengingatkan pada mayoritas umat Islam agar berhati-hati dengan kelompok ini karena mereka ibarat musuh dalam selimut.

Dalam menjalankan aksinya, kelompok Islam radikal banyak mendapatkan pendanaan yang cukup besar dari Timur Tengah, khususnya dari lembaga yang bernama Rabithath al-Alam al-Islami yang berbasis di Arab Saudi. 

Tujuan mereka tidak lain adalah untuk mengubah ideologi negara menjadi ideologi Islam yang didasarkan pada penafsiran tekstual sebagaimana yang diyakini oleh kelompok mereka. Kelompok Islam radikal meyakini bahwa Pancasila bersifat bid’ah bahkan haram karena tidak mengacu pada syariat Islam.

Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang dipimpin oleh kafir sehingga pemerintahnya tak perlu dipatuhi. Dalam batas tertentu, mereka meyakini bahwa suatu pemerintahan yang tak menggunakan landasan syariat sebagai acuan dalam bernegara, maka orang-orang yang berada di dalam negara tersebut dapat membangkang dan memberontak pada pemerintah.

Baca Juga:  9 Metode Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Islam di Tanah Jawa

Apa yang diyakini oleh kelompok Islam radikal, tentu sangat bertentangan dengan teologi politik Sunni yang diyakini oleh mayoritas kaum muslim Indonesia. Teologi politik Sunni meyakini bahwa umat Islam tidak boleh membangkang dan memberontak terhadap penguasa selama mereka masih dapat mempraktikkan agamanya.

Bila terdapat kekeliruan yang dilakukan oleh penguasa dalam menjalankan tugasnya, maka tugas ulama adalah mengingatkan dan menasehati penguasa. Oleh karena itu, untuk mengcounter paham Islam radikal yang semakin menjamur, maka Gus Dur dengan giat mempromosikan paham Islam moderat yang menjunjung tinggi pluralisme dan toleransi.

Bagi Gus Dur, sikap moderat bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, sikap terlalu keras di mata Gus Dur telah menyimpang dari Batasan-batasan ajaran agama.

Mochamad Ari Irawan