Maria Al-Qibtiyah, Seorang Budak Cantik yang Menjadi Salah Satu Istri Rasulullah

Maria Al-Qibtiyah, Seorang Budak Cantik yang Menjadi Salah Satu Istri Rasulullah

PeciHitam.org Rasulullah SAW tercatat dalam sejarah merupakan manusia sempurna dan teradil yang ada dalam sejarah manusia. Beliau menjadi patokan kebenaran sebagaimana dalam keyakinan manusia. Kesempurnaan Rasulullah SAW bukan hanya terletak dari gambaran fisik akan tetapi akhlaknya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kesempurnaan Rasulullah sebagai makhluk terbaik tidak terlepas dari sifat basyariayah, sifat kemanusiaan beliau. Beliau tetap berperilaku selayaknya manusia pada umumnya, yakni makan dan minum, menikah, bermu’ammalah dengan sesame dan lain sebagainya.

Sifat basyariyah Nabi Muhammad SAW untuk menangkal anggapan kultus berlebihan yang dilakukan oleh Umat Nasrani kepada Nabi Isa AS.

Sifat Basyariyah Nabi SAW salah satunya dengan beliau menunaikan pernikahan bahkan sebelum beliau menjadi Nabi. Salah satu pendamping beliau adalah Maria al-Qibtiyah, seorang gadis dari suku Qibti dari tanah Mesir dan ibu dari Ibrahim bin Muhammad SAW. Berikut Ulasannya!

Daftar Pembahasan:

Latar Belakang Maria Al-Qibtiyah

Maria al-Qibtiyah atau Mariatul Qibtiyah adalah salah seorang Istri Rasulullah SAW yang sering terlupakan. Sebagian pendapat Ulama tidak memasukan Maria al-Qibtiyah dalam golongan Ummahatul Mukminin, akan tetapi pendapat masyhur tetap menganggap beliau salah satunya.

Maria al-Qibtiyah mempunyai nama lengkap Maria binti Syama’un yang berasal dari Mesir di Utara Benua Afrika. Beliau adalah seorang penganut Kristen Koptik sebagaimana agama sebagian orang Mesir pada saat itu. Nama Qibtiyah adalah nama nisbah untuk menunjukan nama suku beliau, yakni suku Qibti atau Koptik.

Sejarah sampainya Maria Al-Qibtiyah ke Madinah adalah sebagai hadiah yang dikirimkan oleh Gubernur Mesir Muqawqis kepada Nabi Muhammad SAW. Maria Al-Qibtiyah dikirimkan bersamaan dengan saudara perempuannya bernama Sirrin binti Syama’un.

Mesir pada masa Nabi Muhammad SAW merupakan daerah bawahan dari kerajaan Bizantium. Penghadiahan budak kepada penguasa sebuah wilayah oleh penguasa wilayah lainnya sangat umum terjadi pada masa lampau.

Awalnya Nabi Muhammad SAW berkirim surat kepada penguasa Mesir dibawah Gubernur Muqawqis untuk mengajak masuk Islam. Utusan yang dikirim bersama surat adalah Hatib bin Balta’ah, dan menghadap Gubernur Mesir. Muqawqis menerima utusan dari Madinah dengan hangat dan menolak masuk Islam dengan cara yang baik.

Baca Juga:  Al Khawarizmi, Matematikawan Muslim Penemu Angka Nol

Pada saat pengiriman hadiah Maria dan Sirrin kepada Nabi Muhammad SAW, Muqawqis juga menyertakan seorang budak bernama Maburi dan beberapa hasil kerajinan Negara Mesir. Sesampainya di Madinah, Nabi Muhammad SAW mengetahui penolakan Muqawqis memeluk agama Islam.

Akan tetapi beliau menerima hadiah darinya dengan mengambil Maria Al-Qibtiyah, dan menyerahkan Sirrin bin Syama’un kepada sahabat Hasan bin Tsabit.

Di kemudian hari, Maria al-Qibtiyah melahirkan anak laki-laki Rasulullah SAW, yaitu Sayyid Ibrahim. Sangat disayangkan, Sayyid Ibrahim meninggal pada umur sangat belia yaitu 2 tahun.

Cemburu dalam Islam

Maria Al-Qibtiyah datang ke Madinah dengan saudaranya berkedudukan sebagai Budak Hadiah dari penguasa Mesir, Muqawqis. Sumber Islam mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memerdekakan Maria untuk kemudian dijadikan Istrinya.

Ketertarikan Nabi Muhammad SAW kepada Maria karena beliau merupakan wanita yang berparas anggun, cantik dengan rambut ikal bergelombang.

Menurut sebuah Riwayat, Nabi Muhammad SAW membuatkan sebuah rumah disebelah timur Kota Madinah. Dan riwayat lain mengatakan Maria dititipkan kepada Sahabat Harits bin Nu’man.

Kehadiran Maria al-Qibtiyah dalam rumah tangga Rasulullah SAW menimbulkan kecemburuan Istri Rasul lainnya. Adalah Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah RA yang merasa cemburu dan bersumpah untuk Maria RA. Kecemburuan Hafsah dan Aisyah RA sampai menjadi asbabun Nuzul surat at-Tahrim;

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣

Artinya; “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan Peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan Menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. At-Tahrim; 3)

Kecemburan Istri Nabi kepada Maria Al-Qibtiyah seyogyanya sangat wajar bagi setiap wanita. Postur Maria Al-Qibtiyah yang cantik rupawan, berkulit putih bersih, berambut Ikal bergelombang dan memberikan Nabi Muhammad SAW seorang putra.

Baca Juga:  Abu Sa’id Al-Khudri Sahabat Anshar yang Banyak Meriwayatkan Hadits

Hadirnya Sayyid Ibrahim menjadikan Istri-istri Rasul sangat iri, karena sekian tahun mereka tidak kunjung memberikan keturunan bagi Nabi SAW.

Kecemburuan dalam Islam memang tidak terlarang sebagaimana pernah dilakukan oleh Istri Rasulullah kepada Maria Al-Qibtiyah. Koridor cemburu harus sesuai dengan kadar cemburu yang benar, tidak sampai buta dan gelap mata.

Bahkan membuat sumpah karena cemburu dibatalkan dalam al-Qur’an surat at-Tarim ayat 2 sebagaimana dilakukan oleh Hafshah RA. Rasa cemburu adalah naluri alamiyah yang selalu dialami oleh seorang wanita ketika merasa inferior dibandingkan dengan lainnya.

Aisyah binti Abu Bakar meluapkan kecemburuan yang masih dalam kategori pantas dengan berkata; “ Aku tidak pernah merasa cemburu kepada Wanita kecuali kepada Maria, karena ia berparas cantik dan Rasulullah SAW tertatik kepadanya.

Ketika ia pertama kali datang ke Madinah, Rasulullah menitipkan Maria dirumah Haritsah bin Nu’man. Beliau sering mendatangi Maria RA siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karenanya, Rasul memindahkan Maria ke kamar Atas rumah kami. Tetapi beliau tetap sering mengunjunginya. Itu sangat menyakitkan bagi kami”

Kecemburuan Aisyah RA adalah sebuah kewajaran karena hadirnya seorang wanita baru di rumah tangganya. Akan tetapi, riwayat ini tidak menggugurkan sifat keadilan Rasulullah SAW kepada Istri-istrinya.

Ungkapan Aisyah RA adalah sebuah ungkapan seorang Istri yang cemburu melihat suaminya perhatian kepada orang lain. Sedangkan perhatian untuk dirinya dirasa berkurang.

Bahkan istri Rasul lainnya, Hafshah RA sampai melakukan sumpah untuk tidak menerima Maria selama sehari. Akan tetapi sumpah Hafsah RA dibatalkan oleh Al-Quran dengan turunnya ayat;

Baca Juga:  Syekh Daud bin Abdullah al-Fatani, Ulama Sufi dari Aceh

قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٢

Artinya; “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Qs. At-Tahrim: 2)

Ayat ini menunjukan tentang kafarat (penebusan) untuk sumpah yang sudah terucap. Khasnya perseteruan antar Istri Nabi menjadi Hikmah untuk ditiru sebagai solusi kehidupan masa sekarang.

Jika tidak ada riwayat tata cara penyelesaian konflik rumah tangga sebagaimana Rasulullah, maka orang Islam tidak memiliki panduan dalam rumah tangga yang baik.

Meninggalnya Maria al-Qibtiyah

Sosok Maria al-Qibtiyah sering menjadi celah orang munafik untuk mengkritik Rasulullah SAW. Maria sering dicela telah melakukan hubungan gelap dengan Budak bernama Maburi yang disertakan Muqawqis dalam perjalanan ke Madinah.

Akan tetapi tuduhan orang munafik ini hanya sekedar tuduhan tanpa dasar kepada Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalin sendiri mendatangi Maburi dengan mengancam akan membunuhnya, dan Ia mengaku bahwa sudah dikebiri oleh Muqawqis.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Maria al-Qibtiyah jarang keluar rumah kecuali untuk keperluan ziarah ke Makam Rasulullah SAW dan Sayyid Ibrahim, putranya. Beliau juga hanya keluar untuk mengunjungi Sirrin saudaranya.

Maria al-Qibtiyah hanya menyibukan diri beribadah kepada Allah SWT di dalam rumah beliau. Maria Al-Qibtiyah wafat 5 tahun setelah meninggalkannya Rasulullah. Khalifah Umar bin Khattab sendiri yang mengimami shalat jenazahnya dan dimakamkan Baqi’.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan