Mengapa Manusia Diciptakan Berbeda Beda? Inilah Alasannya

mengapa manusia diciptakan berbeda beda

Pecihitam.org – Perbedaan adalah suatu keniscayaan bagi setiap manusia, bahkan pada anak yang kembar sekalipun akan kita jumpai perbedaannya. Dalam Al-Qur’an telah diterangkan mengapa Allah menciptakan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS. Al-Hujarat:13)

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِين

Dan di Antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.( Q.S al-Rum: 22 )

Jika manusia diciptakan berbeda-beda dan memang merupakan suatu keniscayaan mengapa banyak pertengkaran, permusuhan bahkan pembunuhan yang terjadi akibat perbedaan? Inilah alasannya menurut ajaran islam.

1. Mencari kesepakatan.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Hai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa kami tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslimun). (Q.S Ali Imran: 64)

Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa ketika kita menghadapi perpedaan kita harus mencari titik temu atau titik persamaan (kalimatun sawa), sehingga kita tidak fokus kepada perbedaan dan mengedepankan persamaan.

Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika memasuki kota madinah, beliau membuat piagam Madinah sebagai suatu konsensus, agar perbedaan-perbedaan yang ada tetap terkondisikan dan mempunyai acuan apabila nantinya ada permasalahan yang timbul.

2. Mengedepankan toleransi dan tenggang rasa.

Ada kisah datang seorang Badui (pedalaman) ke Masjid Nabi dan serta merta kencing di Masjid. Melihat ini, terang saja para sahabat marah dan akan memukuli orang ini, Rasulullah saw mencegahnya. Kemudian Rasulullah menasehatinya dengan lemah lembut:

 إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذر إنما هي لذكر الله والصلاة وقراءة القرآن

“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang kencing atau kotoran karena masjid itu diperuntukkan sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”  Setelah itu, Nabi meminta setimba air untuk dituangkan pada tempat air kencing tersebut. [HR. Muslim]

Dalam kitab Fathul bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan makna yang terkandung dalam hadits diatas; yang pertama yaitu bersikap lemah lembut kepada orang yang melakukan kesalahan karena ketidak tahuan.

Yang kedua yaitu mendidik dan memberikan pengertian kepada orang yang melakukan kesalahan, dan yang ketiga yaitu tidak perlu melakukan kekerasan untuk mencegah kemungkaran.

3. Berdiskusi dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan teladan yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (dialog), sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui terhadap orang yang telah sesat di jalannya dan Allah juga maha mengetahui terhadap orang yang diberi petunjuk.(Q.S Al-Nahl: 125)

Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa berdakwah yang baik adalah dengan cara yang baik pula, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar tidak dengam cara yang mungkar. Dengan cara sopan santun, beradab dan penuh tata krama.

Itulah beberapa alasan mengapa manusia diciptakan berbeda beda, dan cara kita untuk menyikapi perbedaan tersebut haruslah sesuai dengan ajaran Islam. Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG