Isu Muslim Uyghur Bukanlah Soal Agama, Muslim Hui Buktinya

muslim uyghur

Pecihitam.org – Masalah Muslim Uyghur kembali menjadi topik hangat di berbagai belahan dunia. Dari obrolan warung kopi hinggga pemain klub sepak bola. Banyak media yang memberitakan bahwa umat Islam di Cina atau Tiongkok, terutama Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang yang ditekan bahkan disiksa oleh Pemerintah Komunis RRC.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Problematika Muslim Uyghur ini menjadi semakin rumit karena terjadi kesimpang-siuran dimana-mana. Bahkan ada yang mau boikot produk mereka, sampai lupa kalau HP miliknya juga made in China.

China dihujani berbagai kritik dari masyarakat dunia terutama dari negeri Paman Sam (AS) yang sudah lama geram karena selalu kalah hegemoni dengan China. Mereka mengatakan bahwa China telah menindas sejumlah besar warga suku Uyghur, kelompok minoritas Muslim negeri itu, antara lain dengan menahan mereka di kamp-kamp khusus.

Namun dari pihak Cina sendiri menyangkal adanya kamp penahanan khusus tetapi mengatakan orang-orang di Xinjiang itu mendapatkan ‘pelatihan kejuruan’. Seorang pejabat tinggi di Xinjiang mengatakan wilayah itu menghadapi ancaman ‘tiga kekuatan jahat’: terorisme, ekstremisme dan separatisme.

Pernyataan dari Pemerintah China sendiri sebenarnya juga di kuatkan oleh dua Ormas besar Islam besar di Indonesia NU dan Muhammadiyah. Dari pihak PBNU sendiri sudah pernah di kunjungi Duta Besar Cina pada tahun 2018 yang menyatakan klarifikasi kebenaran tentang Uyghur.

Dari klarifikasi tersebut kemudian disampaikan Prof. Dr KH Said Aqil Siroj bahwa pemerintah China memberiakn kebebasan dan fasilitas bagi warganya untuk beragama dan beribadah semestinya. Yang menjadi persoalan Uyghur bukanlah soal Agama namun lebih ke separatism yang berkembang di wilayah tersebut.

Selain itu dirilis dalam laman resmi Muhammadiyah, sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto juga membantah bahwa pemerintah China menahan jutaan etnis Uighur yang mayoritas beragama Islam dalam sejumlah kamp penahanan di Provinsi Xinjiang.

Baca Juga:  Reaktivasi Dua Warisan Leluhur Bangsa Sebagai Wujud Persatuan

Pernyataan itu diungkapkan Agung setelah mengunjungi Xinjiang sekitar pertengahan Februari 2019. Bersama sejumlah petinggi PP Muhammadiyah lainnya, Agung mengunjungi tiga dari tujuh kamp yang ada di Xinjiang.

Agung mengatakan pemerintah China menyebut kamp-kamp itu sebagai sekolah vokasi pembinaan untuk deradikalisasi. Menurut dia, setiap kamp berisi sekitar 3.000 orang. Para etnis Uighur hanya tinggal di kamp tersebut pada Senin hingga Jumat, serta diizinkan pulang ke rumah masing-masing pada sabtu dan minggu.

Jika menelisik sedikit lebih jauh seperti apa China mengatur kehidupan beragama di negaranya? Saya sedikit mendapat terjemahan Undang-Undang Dasar Cina Bab 2 Pasal 36 yang mengatakan bahwa:

  • “Warga negara China memiliki kebebasan beragama. Instansi negara, kelompok masyarakat, dan perorangan dilarang memaksa warga negara untuk menganut agama atau tidak menganut agama.
  • Tidak boleh mendiskriminasi warga negara yang menganut agama dan yang tidak menganut agama. Negara melindungi aktivitas keagamaan yang normal (zhengchang de zongjiao huodong).
  • Siapa pun tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban sosial, merugikan kesehatan warga negara, dan mengganggu sistem pendidikan negara dengan menggunakan agama”

Membaca Undang-undang tersebut seharusnya tidak boleh ada sentimen agama di China. Namun mengapa Suku Uighur yang mayoritas beragama Islam diawasi dengan ketat? Alasannya suku ini selalu berusaha melepaskan diri dari Cina (kurang lebih seperti GAM, RMS dan OPM kalau di Indonesia).

Dalam catatan sejarah dari jaman Dinasti Qing berkuasa di China, suku Uighur selalu ingin memisahkan diri dari China, berkali-kali mereka melakukan pemberontakan. Berikut daftarnya :

  • Tahun 1874 Suku Uighur angkat senjata untuk lepas dari China, tapi gagal.
  • Tahun 1933 Suku Uighur berontak lagi, kali ini mereka dibantu sama Soviet. Mereka sempat mendeklarasikan Republik Turkestan, tapi hanya berumur setahun saja.
  • Tahun 1940 kejadian lagi, kembali Uighur mendirikan Republik Turkestan dengan sponsor utama Joseph Stalin (komunis Rusia)
    Ketika partai Komunis berhasil berkuasa di China, barulah Suku Uighur terlihat santai. Kenapa? Karena memang komunis Rusia yang selalu mensponsori pemberontakan mereka terhadap pemerintah China yg sah dan karena suku Uighur dikasih hadiah status otonomi khusus oleh Mao Che Tung.
Baca Juga:  Dalam Beragama, Lebih Baik Merasa Paling Benar daripada Benarnya Sendiri

Akan tetapi belakangan Suku Uighur bergolak lagi, disebabkan beberapa personel Uyghur yg baru kembali dari Suriah dan punya kontak dengan Al Qeada serta ISIS, mendirikan Gerakan Kemerdekaan Turkestan Timur dan akhirnya suku Uighur kembali diawasi dengan ketat oleh pemerintah China.

Terlepas dari permasalahan Muslim Uighur, faktanya umat Islam di China bukan hanya ada di Provinsi Xinjiang, tapi juga banyak tersebar di wilayah lainnya di negeri itu, seperti di Provinsi Ningxia, Gansu, Hainan, Qinghai, dan Yunnan. Suku yang menganut Islam selain Uighur adalah Suku Hui yang jumlahnya sekitar 10 juta jiwa.

Dalam tulisannya yang terbit di The Diplomat berjudul “A Tale of Two Chinese Muslim Minorities” (2014), Brent Crane mengungkapkan faktor yang membuat Hui lebih diterima oleh pemerintah adalah soal teritori.

Tak seperti Uighur yang getol ingin memerdekakan Xinjiang, Hui hampir tak pernah menantang otoritas China terkait teritori. Sikap Hui bisa dibaca sebagai tanda kepatuhan kepada pemerintah. Sebagai kompensasinya, mereka pun tidak diusik.

Suku Hui juga menggunakan bahasa Mandarin dan memiliki budaya yang sama dengan rakyat Tiongkok pada umumnya. Mereka juga tidak pernah punya keinginan untuk merdeka dari RRC.

Selain itu Laksamana Cheng Ho yang legendaris itu berasal dari Suku Hui. Hal itulah yang membuat Muslim Hui bisa hidup damai dan menjalankan ajaran Islam dengan tenang tanpa pembatasan atau gangguan dari pemerintah China.

Baca Juga:  Menelisik Kontroversi Pemberitaan Tentang Muslim Uighur di Tiongkok

Muslim Hui dibiarkan mendirikan banyak mesjid dan sekolah islam, serta pergi haji dan umrah, bahkan pemerintah RRC saat ini sedang membangun kota muslim terbesar di dunia yang diberi nama Hui Culture Park di Yinchuan.

Di kompleks yang dibangun di atas lahan seluas 67 hektare dengan biaya mencapai USD 3,5 miliar dolar Amerika atau sekitar 45 triliun rupiah itu, selain dibangun masjid, juga dibangun berbagai fasilitas seperti museum, tempat pertunjukan, restoran halal, dan taman-taman yang luas.

Jadi sepertinya cukup jelas bahwa persoalan Muslim suku Uyghur bukan masalah sentiment agama namun lebih kepada separatisme. Karena faktanya Suku Hui, suku dongxiang, suku Baoan di China yang juga beragama Islam hidup mereka asyik-asyik aja, sholat mereka lancar, puasa mereka damai, ibadah Haji mereka difasilitasi dan tidak ada masalah.

Sekedar saran dan intermezo, bagi yang merasa bahwa memang suku Uyghur butuh bantuan kemanusiaan, sepertinya ada ide yang lebih solutif. Kalian perlu tahu nih cewek Uighur itu cantik-cantik lho kayak Dilraba Dilmurat …. jadi siapa tahu ada yang pengin nambah KK. Itu kan juga misi kemanusiaan.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik