Surah Al-A’raf Ayat 155; Seri Tadabbur Al-Qur’an

Surah Al-A'raf Ayat 155

Pecihitam.org – Surah Al-A’raf Ayat 155 meneritakan bahwa Allah SWT memerintahkan Musa untuk mengumpulkan sejumlah orang di antara kaumnya untuk dimintakan ampunan atas penyembahan mereka terhadap patung anak lembu pada waktu yang telah ditentukan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Al-A’raf Ayat 155

وَاخْتَارَ مُوسَىٰ قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا ۖ فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ ۖ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

Terjemahan: Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya”.

Tafsir Jalalain: وَاخْتَارَ مُوسَىٰ قَوْمَهُ (Dan Musa memilih dari kaumnya) dimaksud sebagian dari kaumnya سَبْعِينَ رَجُلًا (sebanyak tujuh puluh orang lelaki) dari kalangan orang-orang yang tidak ikut menyembah anak sapi, ia lakukan hal itu berdasarkan perintah dari Allah swt.

لِمِيقَاتِنَا (untuk memenuhi waktu yang telah Kami tentukan) waktu yang telah Kami janjikan, agar mereka datang tepat pada waktunya, untuk memohon ampunan dari penyembahan terhadap anak sapi yang telah dilakukan oleh teman-teman mereka. Kemudian Musa keluar bersama mereka.

فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ (Maka ketika mereka diguncang gempa bumi) yaitu gempa yang dahsyat. Ibnu Abbas mengatakan, “Sebab mereka tidak melarang kaumnya tatkala menyembah anak sapi itu,”

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 146; Seri Tadabbur Al Qur'an

Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan lagi, “Mereka adalah selain dari orang-orang yang meminta agar dapat melihat Tuhan yang kemudian ditimpa azab berupa sha’iqah”

قَالَ (Ia berkata,) yakni Musa رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ (“Ya Tuhanku! Kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau membinasakan sebelum ini) sebelum aku keluar bersama mereka;

Maksud Musa untuk menentukan nasib kaum Bani Israel sehubungan dengan peristiwa penyembahan anak sapi itu, agar jika mereka terkena azab tidak menuduhku sebagai penyebabnya

وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (dan aku. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?) Istifham bermakna isti’thaf, memohon belas kasihan, yakni janganlah Engkau menyiksa kami oleh sebab dosa yang dilakukan oleh selain kami.

إِنْ هِيَ (Tidak lain) (itu) fitnah yang dilakukan oleh orang-orang yang akalnya kurang إِلَّا فِتْنَتُكَ (kecuali hanyalah fitnah dari Engkau) dimaksud cobaan dari Engkau تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ (Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki) kesesatannya

وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ (dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki) kehidayahannya. أَنْتَ وَلِيُّنَا (Engkaulah yang memimpin kami) yang menguasai perkara-perkara kami فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (maka ampunilah kami, dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.”)

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa mereka ditimpa gempa bumi karena mereka tidak mau melepaskan diri/meninggalkan kaumnya dalam penyembahan terhadap anak lembu di samping tidak mencegah mereka.

Dasar pendapat ini adalah ucapan Musa as: أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?)

Dan firman-Nya: إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ (Itu tidak lain hanyalah cobaan dari-Mu) Maksudnya (hal itu) adalah ujian dan cobaan dari-Mu. Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Abul Aliyah, ar-Rabi dan beberapa ulama salaf dan khalaf lainnya, tidak ada makna lain selain Maksud dari perkataan Musa adalah:

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 168-170; Seri Tadabbur Al-Qur'an

“(Tidaklah) semua urusan melainkan berada di tangan-Mu dan segala keputusan hanyalah milik-Mu semata, yang Engkau kehendaki pasti akan terjadi. Engkau sesatkan siapa saja Engkau kehendaki dan Engkau tunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk bagi siapa yang Engkau sesatkan dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau tunjuki. Tidak ada yang dapat memberi kepada siapa yang Engkau cegah dan tidak akan ada seorang pun yang dapat menghalangi apa yang Engkau beri. Semua kerajaan adalah niilik-Mu semata. Semua ketetapan, perintah dan penciptaan adalah hak-Mu”.

أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya) Al-ghafru berarti penutupan dan penghapusan hukuman atas dosa.

Disandingkannya kata ar-rahmah dengan al-ghafru dalam ayat tersebut dimaksudkan, bahwa ia tidak akan melakukan hal yang sama pada masa yang akan datang.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian Allah menyuruh Musa untuk mengumpulkan sejumlah orang di antara kaumnya untuk memintakan ampunan atas penyembahan mereka kepada patung anak lembu. Lalu ditentukanlah waktu pelaksanaannya.

Maka Musa pun memilih–sebagai perwakilan kaumnya–tujuh puluh orang yang tak ikut menyembah patung anak lembu. Setelah itu berangkatlah Musa bersama mereka ke bukit Thur. Di sana mereka memohon kepada Allah agar menghilangkan bencana yang menimpa mereka dan memberikan ampunan kepada mereka yang telah menyembah patung anak lembu.

Tetapi tiba-tiba tempat itu bergoncang oleh gempa yang sangat kuat, hingga membuat mereka terkapar tak sadarkan diri. Hal ini terjadi karena mereka–pada saat penyembahan patung anak lembu-tidak memisahkan diri dari kelompok yang menyembah patung. Dengan kata lain, mereka tak melakukan amar makruf nahi munkar.
Akan halnya Musa, yang menyaksikan peristiwa itu, berkata, “Wahai Tuhanku, kalau Engkau memang hendak membinasakan mereka, mengapa Engkau tidak melakukannya sebelum kami berangkat ke pertemuan ini? Mengapa Engkau tidak membinasakan aku bersama mereka? Dengan begitu, orang-orang Bani Israil dapat melihat langsung peristiwa itu sehingga mereka tidak menuduh aku sebagai pembunuh mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Muzzammil Ayat 10-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Janganlah Engkau binasakan kami hanya karena perbuatan orang-orang yang bodoh di antara kami. Terjadinya penyembahan anak lembu ini tidak lain merupakan cobaan dari-Mu untuk menyesatkan orang yang Engkau kehendaki dengan memilih jalan yang buruk, dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Engkau kehendaki.

Bukankah Engkau yang berkata, “Aku memutuskan untuk menghapus keburukan siapa saja dari kaummu yang tidak melakukan kekufuran, kemaksiatan dan menunaikan kewajiban zakat?”(1).

(1) Dalam edisi bahasa Arab, pada ayat ini terdapat kesalahan cetak. Kalimat “Engkau yang berkata, ‘Aku memutuskan untuk menghapus keburukan siapa saja dari kaummu yang tidak melakukan kekufuran, kemaksiatan dan menunaikan kewajiban zakat?'” semestinya tidak ada.

Kalimat itu semestinya merupakan tafsiran bagian akhir ayat berikutnya, karena dalam ayat ini tidak terdapat bagian ayat yang dapat ditafsirkan dengan pengertian kalimat tadi. Wallahu a’lam bishshawab.

Demikian Terjemahan dan Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 155 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu kita tentang Al Qur’an dan menjadi cahaya dalam kehidupan kita saat ini dan kehidupan berikutnya. Aamiin

M Resky S