Memahami Propaganda Wahabi Menjauhkan Umat Dari Para Ulama

Pecihitam.org – Pada kesempatan ini kita akan sama sama melihat kebenaran berdasarkan keilmuan dan bukan berdasar pada hawa nafsu. Diakhir zaman ini kita melihat fenomena janggal mengenai “Slogan Kembali pada Al Quran dan Hadits”. Sepintas ada benarnya karena kita sebagai muslim memang harus merujuk pada Al Quran dan Hadits dalam beramal dan bermuamalah.

Namun ada yg mesti difahami bahwa untuk merujuk langsung pada Quran dan Sunnah tidak bisa sembarangan. Ada kaidah kaidah yg harus diperhatikan.Jika dibebaskan tanpa aturan justru slogan tadi bisa jadi “Jalan tikus” kelompok tertentu untuk menghantam sesama muslim dan jelas misinya merusak tatanan islam dari dalam.

Menyikapi fenomena ini biasanya kelompok “itu” menekankan untuk kembali pada Quran dan Hadits umumnya memang disandarkan pada Surat Annisa ayat 59, “Fa in tanaza’tum fi syai-in farudduhu ilallahi wa rasulihi” (maka jika kamu berselisih paham dalam suatu urusan, kembalikan (urusan itu) pada Allah (Quran) dan Nabi (Hadits).

Persoalannya kemudian, perselisihan paham itu bukan karena tak berdasarkan Quran dan Hadits, tapi karena perbedaan penafsiran terhadap Quran dan hadits.

Kita mungkin sering mendengar kata-kata seperti judul di atas, di nasehati untuk kembali ke Al-Qur’an dan Hadist. Sekilas nasehat tersebut baik, tentu saja baik karena kita dianjurkan untuk menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup, tapi kalau direnung lebih dalam kita juga wajib bertanya, apakah semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an? Kalau anda ada persoalan kemudian buka al-Qur’an dan Hadist kemudian memahami sendiri? Lalu dimana anda mau letakkan pendapat para ulama yang telah menyusun tafsir dan penjelasan lengkap selama 1400 tahun?

Ciri khas aliran yang muncul 100 tahun lalu di tanah arab tidak lain menjauhkan ummat dengan Ulama dengan berbagai cara, mulai dengan menghancurkan kuburan ulama dengan dalih syirik, melarang menghormati ulama dengan alasan dalam ajaran Islam dilarang mengkultuskan manusia, termasuk slogan di atas, “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” dengan slogan itu ummat tidak lagi perlu bertanya ke ulama, setiap manusia diberi kedudukan yang sama di hadapan Allah termasuk dalam menafsirkan al-Qur’an.

Slogan ini kemudian melahirkan orang-orang yang “sok tahu” tentang al-qur’an, kemudian dengan mudah menvonis orang dengan ayat-ayat yang dipahami dengan keterbatasan ilmunya. Saya sendiri sudah kenyang melihat jenis ulama gadungan, baru rajin shalat 3 bulan dan membaca al-Qur’an terjemahan, kemudian dengan mudah mengeluarkan “fatwa”, yang ini sesat, ini bid’ah, ini tidak sesuai al-Qur’an dan Hadist dst.

Lahirnya orang-orang yang dangkal memahami agama ini memang dirancang oleh kelompok yahudi dan orientalis sebagaimana penjelasan di postingan yg lalu, dengan tujuan agar ummat ini mudah di ombang ambing seperti buih di lautan. Terputusnya ummat dengan Ulama Pewaris Nabi akan mudah bagi mereka kemudian menyodorkan ulama versi mereka, andai pun memahami al-Qur’an hanya sebatas tekstual, yang tertulis semata. Bukankah begitu fakta yang terjadi??
Orang asal lihat teks hadits langsung mengartikan sebagaimana teks. Contoh ttg bid’ah. Tak ada satupun ulama Ahlussunnah yg berkata bid’ah semua sesat. Tapi kelompok tadi telah meracuni pikiran korbannya sehingga apa yg ada diteks hadits itulah mutlak maknanya. Keliru.

Selama 100 tahun ummat Islam telah berhasil di perdaya, coba anda lihat hasilnya, ayat-ayat tentang jihad dimaknai apa adanya, maka lahirnya al-Qaida,yg dengan semangat takfiri bantai siapapun. kemudian ada lagi ISIS dan lain-lain, diantara sesama muslim jadi saling mencurigai, ini hasil unggul produk “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” yang di dengungkan 100 tahun lalu dengan cara yang salah, slogan yang tidak pernah ada sebelumnya. Mengartikan Quran dan Hadits langsung sesuai pemikirannya bukan ikut ulama terdahulu.

Ingat sodaraku berpedoman kepada Al Quran dan Hadits keduanya adalah harus, yang terpenting kita memahami cara dan kaidah mengartikan keduanya, memahami tanpa dengan bimbingan adalah keliru. Menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikiran akan membuat manusia tersesat, Nabi memberikan nasehat: “Barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Dari awal Nabi sudah khawatir akan muncul suatu generasi yang dengan sekehendak hatinya menafsirkan ayat al-Qur’an. Siapa yang paling paham dengan firman Allah? Tentu saja Nabi dan siapa orang paling paham dengan Nabi? Tentu sahabat, dan siapa yang paling paham dengan sahabat? Tentu saja orang yang pernah hidup dengan sahabat Nabi, hubungan berantai itu yang menyebabkan Islam lestari hingga hari ini.

Paham yang di usung 100 tahun lalu tersebut kemudian menafikan mazhab, dengan alasan karena mazhab ummat ini terpecah, kemudian dengan alasan ini pula slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” terasa sangat masuk akal, akhirnya seluruh orang dengan gaya masing-masing mengartikan Al-Qur’an menurut akal pikirannya, hasilnya TERSESAT!.

Pemikiran paham yang muncul 100 tahun lalu tersebut memang rancu, satu sisi anda di suruh mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti ulama salaf, tapi sisi lain anda dilarang mengikuti mazhab, bukankah Imam Mazhab tersebut termasuk ulama salaf?

Imam Mazhab ibarat ahli masak, Koki terkenal yang mempunyai resep masak, kemudian resep itu diwariskan dan dipakai sekian lama dan terbukti memang sangat enak. Ibarat masak kambing, ada berbagai jenis seperti: kari, rendang, sop dan sate, ke empat jenis ini mempunyai keungulan dan kelemahan masing-masing, silahkan anda mengikuti menurut kebutuhan masing-masing. Bagi sebagian orang kari kambing adalah makanan yang sangat cocok untuk mereka, bahan-bahan pendukung seperti kelapa dan rempah-rempah kebetulan banyak di daerahnya, sebagian yang tinggal didaerah tanpa buah kelapa, sate atau sop adalah pilihan paling bagus. Semua jenis masakan berdasarkan resep warisan koki terkenal tersebut sangat baik, karena telah diteliti oleh mereka.

Baca Juga:  Salafi Wahabi Sedikit Pun Tak Layak Mengaku Sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Kemudian muncul satu golongan (100 tahun lalu) yang menolak bahkan membuang resep-resep bagus ahli masak yang telah terbukti selama 1000 tahun ampuh dan hebat, mereka membuang semua resep, bagi mereka gara-gara resep masakan kita jadi tidak kompak, semua orang harus kembali ke alamiah, tidak perlu bumbu-bumbu, itu semua bid’ah. Akhirnya orang disuruh makan daging mentah, hasilnya: hambar dan sakit perut! INI LOGIKA SEDERHANA, CONTOH KECIL YAG HARUSNYA MENYADARKAN!

Cara terbaik agar kita selalu mendapat bimbingan dari Allah adalah berguru kepada orang yang mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Allah, orang-orang yang memahami firman Allah dengan hati yang disinari oleh cahaya-Nya. Saya kutip firman Allah dalam surat an-Nahl 43 : “…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Dalam beribadah memang kita dituntut dan diharuskan untuk mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Allah swt dalam Al-Quran dan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw melalui riwayat-riwayatnya. Ya benar, tidak ada selain itu.

Akan tetapi akan terjadi ketimpangan dan kebingungan kalau hanya langsung kembali ke Al-Quran dan Sunnah Nabi. Kapasitas kemampuan orang itu berbeda-beda antara satu dan yang lainnya, tidak bisa disamaratakan. Kalau dengan kemampuan pemahaman yang segitu-segitu saja, kemudian ia dipaksa untuk beribadah sesuai Al-Quran dan Sunnah versi pemahamannya, tentu akan terjadi kekacauan syariah.

Ahlussunnah memahami bahwa rujukan muslim adalah:

1. Al Quran
2. Hadits
3. Ijma
4. Qiyas

Maka jika hanya bermodal merujuk langsung Al Quran dan hadits tanpa Ijma ulama yg kapasitas ilmunya mumpuni akan sulit dan rancu.

Contoh: Sholat Boleh Menghadap Kemana Saja

Orang yang melaksanakan sholat dan menghadap bukan ke kiblat, akan tetapi menghadap kearah selain kiblat, sholatnya tetap sah jika diukur dari slogan “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” itu. Toh memang di Al-Quran disebutkan begitu,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui” (Al-Baqarah 115)

Padahal sejatinya sholat punya aturan dan tuntunan yang memang sudah baku, sesuai apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Contoh 2: Orang Non-Muslim Najis, Maka Jauhi

Kalau dengan slogan itu juga, maka menjadi benar jika ada seorang muslim yang tidak mau bergaul dan berbaur dengan saudara-saudaranya yang non-muslim, karena memang orang non-muslim itu najis. Sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini” (At-Taubah 28)

Padahal sama sekali tidak ada satu pun pendapat dari 4 madzhab Fiqih yang mengatakan bahwa orang non-muslim itu najis. Semua bersepakat bahawa najis yang dimaksud diayat ialah najis secara makna bukan secara zahir.

Dan juga tidak ada dari para Imam tersebut yang mengharamkan kita untuk berbaur, bersalaman, atau bahkan memeluk saudara kita yang non-muslim. Dan juga kita dibolehkan berkongsi makan dan minum dengan mereka dalam satu wadah selama itu bukan makanan atau minuman yang diharamkan dalam syariah.

Contoh 3: Buang Air Menghadap Kiblat

Dan pasti seseorang akan kebingungan jika dia langsung kembali kepada Hadits, lalu menemukan hadits yang melarangnya untuk membuang air dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi saw dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshori:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Jika kalian masuk toilet, janganlah kalian menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil, dan jangan juga membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat”(HR Tirmidzi)

Loh bagaimana ini? Dilarang menghadap kiblat dan juga dilarang membelakanginya, akan tetapi menghadap barat atau ke timur. Bagaimana bisa? Toh di Indonesia kalau kita menghadap timur, itu berarti membelakangi kiblat, kalau ke barat justru kita menghadap kiblat. Lalu menghadapmana mestinya kita jika buang air?

Kalau hanya semangat “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. kita akan mentok dan akhirnya bingung sendiri.

Contoh 4: Pojokkan Mereka Ke Jalan Yang Sempit

Saya akan lebih takut jikalau ada seorang yang dengan semangat “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, kemudian tanpa guru ia membuka kitab hadits, lalu menemukan hadits ini:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍفَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“janganlah kalian memulai memberi salam kepada orang yahudi dan Nashrani. Dan jika kalian bertemu mereka di jalan, pojokkan mereka ke jalan yang sempit (jangan beri jalan)” (HR Muslim)

Haditsnya shahih, riwayat Imam Muslim pula, siapa yang berani mengatakan kalau ini hadits dhoif? Redaksinya jelas, tidak ada bias bahwa kalau bertemu dengan orang Yahudi dan Nashrani di jalan, jangan beri mereka jalan. Pojokkan mereka sampai tidak ada jalan bagi mereka untuk meneruskan jalannya.

Bayangkan bagaimana jika ada orang yang dengan semangat “kembali ke Al-Quran dan Sunnah” yang menggebu-gebu mendapati hadits ini tanpa bimbingan seorang guru? Apa yang sekiranya ia lakukan setelah mendapatkan hadits tersebut? Yang terjadi pasti kekacauan sosial diantara masyarakat.

Baca Juga:  Felix: Penguasa Terganggu Dakwah Islam, Kalis: Dakwah Islam Baik-Baik Saja

Nah, Apa yang diurai diatas dari kasus-kasus tersebut hanyalah beberapa contoh bahwa kita khusunya yang memang awam akan agama tidak bisa serta merta langsung menceburkan diri dalam lautan ayat dan hadits yang punya kedalaman makna.

Kita akan sulit sekali nantinya jika hanya mengandalkan semangat “Kambali ke Al-Quran dan Sunnah” tanpa ada bimbingan mereka yang memang mengerti betul tentang syariah. Dan rasanya slogan “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah” itu juga mesti diluruskan.

Redaksi kalimatnya berubah menjadi “Kembali ke Ulama”. Karena sejatinya kembali kepada ulama itu juga kembali kepada Al-Quran dan sunnah yang sesungguhnya. Kita tidak bisa dengan gampang memahami teks ayat dan hadits tanpa bimbingan dan tuntunan mereka yang memang mengerti.

Dan kepada siapa kita harus meminta bimbingan untuk bisa memahami maksud ayat dan hadits kecuali kepada ulama? Dengan keilmuannya kita dibantu untuk lurus dalam beribadah karena mereka punya kapasitas dan kemampuan yang Allah swt berikan kepada mereka untuk mengetahu maksud dan makna ayat serta hadits.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43).

Jadi satu-satunya jalan ialah mengikuti mereka kalau memang kita tidak tahu. Karena ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi itu bukanlah seperti teks bahasa arab biasa yang jika sudah ditemukan terjemahannya maka langsung bisa dipahami. TIDAK BEGITU!!!

Kalau memang bisa dengan bebas dipahami, lalu buat apa sejak 13 abad yang lalu para ulama bersusah payah mengerahkan pemikiran dan tenaga dalam menulis kitab-kitab Tafsir Quran dan juga kitab-kitab syarah (penjelasan) hadits.

Coba kita lihat ke belakang, sudah berapa banyak kitab tafsir dan kitab syarah hadits yang sudah dikarang oleh para ulama kita. Bahkan jumlahnya ada yang melampaui angka umur si penulis itu sendiri. Kalau memang semua bisa paham, kenapa harus ada itu semua?

Jadi perkara “kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, bukan perkara yang asal saja, yang semua orang bisa melaksanakan. Tidak cukup seorang mengatakan: “Cukuplah bagiku Al-Quran dan Hadits”, dan dia tidak mengetahui lewat jalur mana ia memahami maksud dan makna ayat serta hadist tersebut. Dan bagaimana pula ia bisa mengambil kesimpulan hukum dari ayat dan hadits tanpa merujuk kepada pendapat ulama?

Kita seharusnya sadar bagaimana usaha serta perjuangan para imam mujtahd serta ulama-ulama tredahulu dalam menyampaikan pemahaman yang lurus tentang Al-Quran dan sunnah kepada kita semua. Mereka hidupkan malam-malamnya dan mereka habiskan siangnya dengan mencari dan meneliti guna mencapai sebuah pemahaman yang benar.

Kalau dikatakan: “Ulama itu juga kan manusia, bisa salah. Jadi kita kembali saja kepada Al-Quran dan sunnah”. Kalau ulama saja bisa salah, lalu siapa anda dengan pongah mengatakan pendapat anda yang paling benar. Justru kemungkinan anda untuk salah memahami maksud ayat dan hadits sangat besar sekali karena anda juga manusia biasa.

Bahkan taraf keilmuan kita ini sangat jauh jika dibandingkan dengan ulama sekaliber Imam 4 Madzhab kaya Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafii dan Imam Hambali. kapasitas mereka jauh diatas kita.

Ingat.. Fahamilah ilmu dengan dingin. Bukan dengan nafsu dan emosi. Memahami dalil pun masih salah lalu kemudian mudah menghukumi orang lain. Itu bukan sunnah Rasulullah. Menghukumi sesuatu tanpa ilmu. Rasulullah adalah makhluk paling mulia sepanjang waktu dan zaman. Tapi beliau tetap berguru pada Jibril. Tidak merasa manusia mulia lalu memahami wahyu dengan nafsu. Rasulullah sedang mengajarkan pada kita pentingnya berguru. Al Ulama Warosatul Anbiya…Artinya Ulama pewaris nabi bukan Internet pewaris nabi.

Mereka lupa hadits Nabi ini : “ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan “. Mempunyai slogan kembali pada Al-Quran. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran “. (Sunan Abu Daud : 4765) Inilah gambaran mereka kelompok yg rajin mengajak pada Quran dan Sunnah namun mereka pun rajin mencela amalan org dengan kata BID’AH!! SESAT!!! KAFIR!!!

Maka jangalah ikuti mereka yang ingin menjauhkanmu dari ulama. Apapun alasannya. Kembali ke Quran dan Hadits itu harus melalui orang yang ahli dibidangnya. Kita bukan siapa siapa. Ingat salah pilih guru penyesalan selamanya. Akhirat kita jadi taruhannya

Kelompok Salafi Wahabi menggunakan slogan kembali pada Quran dan Sunnah itu sebagai propaganda untuk menyerang kelompok lain, seolah yang lain telah keluar dari petunjuk Quran dan Hadits.

Padahal Imam Mujtahid (tokoh yang menggali dasar hukum agama) adalah orang yang sangat memahami Quran dan Hadits. Mereka ahli Quran dan Hadits di jamannya. Mereka memang tidak menggunakan rujukan kitab Hadits kutubussittah (kitab hadits yang enam) yang dikumpulkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dll, karena mereka lahir lebih dulu!

Sebagai contoh, Imam Syafii misalnya, lahir tahun 767 M. Sedangkan penulis hadits seperti Imam Muslim lahir tahun 821 M, Imam Bukhari 810 M, Abu Dawud 817 M. Bagaimana mungkin Imam Syafii menggunakan kumpulan hadits mereka (Imam Bukhari dan Muslim), sedangkan mereka saja belum lahir saat Imam Syafii telah jadi ulama besar?

Baca Juga:  Muhaddits Wahabi, Syekh Al-Albani Sederajat dengan Imam Bukhari?

Jadi, Salafi Wahabi ini sering mempersoalkan rujukan Hadits dalam pengambilan hukum (ijtihad) para mujtahid mutlak seperti Syafii, Maliki, Hanafi, termasuk murid-murid mereka. Padahal mereka sendiri yang sesat sejarah. Dan anehnya, membawa sesat sejarah untuk ditularkan pada umat. Sadarkah kita selama kajian tak pernah lepas dari mencela? Ahlul bait dihantam, yg beda disebut bid’ah, yang bisa menunjukan dalil sanggahan dituduh sesat dan yang ga mau masuk kelompoknya dianggap kafir tidak mau kembali pada Quran dan Sunnah. Innalillahi…

Maka fahamilah sodaraku sekalian.. Peran ulama sangatlah penting untuk menuntun kita mengenal Allah dan mendalami ilmu agama kita.

Bukan hanya sekedar kembali pada Quran dan Sunnah. Namun kita harus meyakini Ijma ulama dan Al qiyas jika memang Ahlussunnah.

Ketika kami beramal kalian sebut kami bid’ah..
Ketika kami tunjukan dalil kalian anggap dalil itu palsu..
Ketika kami buktikan itu shahih kalian teriak kami sesat…
Ketika kami menasehatimu kalian pikir kami mengajak debat…
Ketika kami ajak membuktikan kebenaran kalian lari….tak berani bersuara..
dan Ketika kami meyakini apa yang kami lakukan sesuai dalil yang ada ehh kalian malah berkata kami bermain bukan dengan dalil tapi dengan perasaan seperti kaum musyrikin jahiliyah…

Logika sederhana yg mesti kita fahami..

Seseorang diminta kembali pada Al Quran dan hadits tanpa ulama. lalu orang berlomba mengutip, menukil dan mengartikan makna hadits dan ayat quran sesuai pikirannya masing masing. Si A mengartikan A, Si B mengartikan B sehingga makin banyak orang yg mencoba berfikir dengan pikirannya sendiri tanpa ikut ulama yg terjadi akan muncul kerancuan karena banyak tafsir lahir.

Sama seperti seseorang yang diminta membuat nasi goreng. Jika tidak dituntun dan mengikuti standarisasi yg ada dan dibiarkan sesuai pikiran mereka maka nasi goreng akan kacau rasanya. Si A berfikir kayanya klo banyakin kecap semangkok kayanya lbh enak, Si B berfikir kayanya klo ditambah jeruk enak nih nasgor, Si C berfikir kayanya klo ditambah terasi bakpao enak nih, Si D berfikir kayanya klo dibanyakin garam justru nasgornya enak. Masing2 mengklaim yg paling tau resep. Sepintas ga masalah tapi kira kira bagaimana padangan org yg faham ilmu nasi goreng? Pasti tertawa melihat kebodohan para koki gadungan itu.

Ini pun sama jika memahami dalil langsung pada Quran dan Hadits tanpa pembimbing yg terjadi orang akan mengartikan sesua pola pikir masing2.. dan orang yang faham ilmu agama, tafsir dan hadits akan tertawa melihat kebodohan para ustadz gadungan yg berani tafsir dan artikan hadits semaunya. Tapi itukan nasi goreng perkara DUNIA, AL QURAN DAN HADITS ga bisa disamakan dengan perkara dunia. YA! ANDA BENAR…!!!!!! jika dunia saja bs bermasalah apalagi perkara besar soal Quran dan Sunnah yg hrs lbh hati hati tidak asal asalan mengartikan. taruhannya hidup kita di akhirat.

Tabiit tabiin mengartikan quran dan hadits ada gurunya, siapa? Tabiin. Tabiin pun mengartikan ada gurunya, siapa? Sahabat. Sahabat pun ada gurunya, siapa? Rasulullah. Rasulullah pun ada guru yang membimbingnya, siapa? Malaikat Jibril. Lalu Jibril pun melakukan sesuatu atas perintah gurunya, siapa? Allah.

Jadi hanya Allah yg berhak mengartikan dalil langsung tanpa perantara. Maka kita yg faqir ilmu ini harus sadar diri. Jangan merasa pintar lalu kemudian hanya modal quran dan hadits itupun dibantu terjemahan, kita sdh berani berfatwa ini sesat itu sesat. Mengartikan sendiri tanpa mau ikut ulama. Ini bid’ah itu kafir.

Bagaimana jika penerjemah hadits dan dalil ayat itu lupa atau khilaf sehingga salah mengartikan? kita pun ikut salah. Karena patokannya buku bukan ikut ulama. Maka ada prosesnya untuk bisa menjadi Mufasir yg ahli menerjemakan dalil ayat dan ada pula prosesnya menjadi muhadits yang ahli menerjemahkan hadits. Maka kita ikuti ulama yg kompeten dan teruji ilmunya. Seperti Imam Madzhab, Malik, Hanafi, Syafii dan Hambali.
Jangan kita merasa lebih pintar dari mereka. Siapa kita??? Mereka diusia 7 thn hafal Quran. kita sampai hari ini pun mungkin masih muter muter di Juz amma. Mereka usia 10 thn hafal ratusan hadits. lah kita sampe umur sekarang kadang kencing saja masih berdiri. Minum sambil berdiri, solat tahajud belum bisa rutin tiap hari tak bolong. Jadi sadar diri lebih baik dan ikuti para ulama.

Mereka diusia 20 thn sdh bisa menghafal ribuan hadits beserta sanad dan hukum matannya. mereka lihat dalam bahasa arab, ilmu nahwu, shorof, balaghoh,dll. sedang kita apa? ngaji mngkin masih dibantu gugel, berhujja masih copas diinternet. Jangankan bahasa arab, tajwid pun masih tertukar mana Mad wajib muttasil dan mana Mad jaiz munfasil.

Sahabat yang ku muliakan, semoga cahaya kemuliaan senantiasa menyejukkan sanubari kita dari gersangnya gelisah menjalani hidup ini. Semoga Allah selalu memudahkan setiap perkara baik yang kita lakukan karena Allah.

 

_____________________________________________
Dikutip dari: instagram.com/aswaja.merahputih

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali