Menjawab Tuduhan Tak Beradab Ustadz Badrussalam Terhadap Imam Ghazali

Ustadz Badrussalam

Pecihitam.org – Dinamika dakwah di Indonesia sepertinya masih bisa dikatakan belum kondusif. Kenapa? Karena Masih saja banyak ustadz yang Maqomnya belum seberapa namun sudah berani mendikte Ulama. Sebut saja seperti kasus Ustadz Badrussalam yang mengomentari sang Hujjatul Islam Imam Ghazali Rahimahullah.

Dalam sebuah video yang dimuat di salah satu stasiun TV swasta ia mengangkat tema “Mengapa tidak mengikuti Imam Ghazali dan Abdul Qadir Jailani”. Ustad yang bernama Abu Yahya Badrussalam ini banyak bercerita seputar kemampuan Imam Ghazali dalam Ilmu Hadits dan tentang Hadits Dhaif kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam ghazali.

Sebenarnya menyikapi hal ini saya teringat bahwa; sejak dahulu memang sudah banyak orang yang berusaha menghina Imam Ghazali. bahkan dikisahkan tentang kelakuan seorang Ulama dalam kitab Adduror Al Kaminah Fi A’yan Mi’ah As Tsaminah karya Ibnu Hajar Al Atsqolani Juz 1 Hal 49;

وكان لتعصبه لمذهب الحنابلة يقع في الأشاعرة حتى أنه سب الغزالي فقام عليه قوم كادوا يقتلونه

“Dan terjadi sebab terlalu Ta’asshub (Fanatik) kepada madzhab Hambali beliaupun berbicara tentang madzhab Asya’iroh, sampai sampai beliau menghina imam Ghazali. Maka kemudian orang-orang bergerak menuju beliau dan hampir membunuhnya.”

Ibnu El Ziyat (wafat 527 H) berkata;

وَمَا طَعَنَ عَلَى الغَزَاليِ إِلَّا عُلَمَاءُ الدُّنْياَ الذِّيْنَ أَظْهَرَ عَوَارَهُمْ, وَالنَّهَارُ لَا يَحْتَاجُ اِلَى الدَّلِيْلِ

“Tidak ada orang yang menghina imam ghazali kecuali dia adalah ulama’ cinta dunia, yang menampakkan kecacatannya, dan siang hari tidak butuh pada tanda tanda (artinya yang menghina imam ghazali jelas dia Ulama’ dunia yang nyata).” Lihat Kitab Al Butulah Inda Sufiyah hal.171

Nampaknya cara berbicara ustadz badrussalam meski sekilas Nampak halus tapi ia berusaha untuk menjadikan audiens agar menanamkan kebencian kepada Imam Ghazali, hal itu terbukti saat ia mengatakan bahwa Imam Ghazali wafat dalam keadaan memegang kitab shahih bukhari muslim, yang menurutnya menunjukkan bahwa Imam Ghazali lemah pengetahuannya dalam ilmu hadits.

Kemudian ia mengutip perkataan Imam Ghazali untuk menguatkan dugaannya:

أنا بضاعتي في الحديث مزجاة

Nampaknya saya coba teliti di Maktabah Syamilah Ustad Badrussalam mengambil referensi dari Multaqo AhIi Hadits yang menganggap Imam Ghazali ini sebagai Ushuliyyun tidak sebanding dengan Ahli Hadits dalam urusan hadits.

Padahal ketika imam ghazali mengatakan demikian bisa jadi itu bagian dari ketawadlu’an beliau. Kemudian jika beliau wafat menggenggam sohih bukhori muslim mengapa ditanggapi apatis???, bukan justru dianggap positif karena hingga wafatpun beliau masih menggenggam kitab. Ini bukti apatisme dari pemikiran ustadz Abu Yahya Badrussalam bertitel Lc ini.

Ustadz Badrussalam juga mengatakan bahwa: “Bukan saya bermaksud melecehkan Ulama’ akan tetapi lebih mulia mana Imam Ghazali atau Rasulullah??? Karena Imam Ghazali ini Ulama dan juga pernah salah.”

Baca Juga:  Sejarah Modernisasi Agama dan Kebangkitan Politik di Dunia Islam

Omongan seperti menurut kami adalah pengkiasan yang bodoh. Contoh saja jika ada batu biasa dibandingkan dengan batu Zabarjad, jelas dan tidak perlu dibandingkan juga sudah ada jawabannya, kecuali hanya orang yang tidak tahu tentang batu.

Yang kedua Imam Ghazali manusia juga pernah salah, ini menurut kami adalah termasuk “Kalimatu Haqqin Urida Bihi Al Bathil” yaitu perkataan yang benar tapi ada misi kebatilan. Mengapa demikian karena seorang yang bermaksud mengkritisi orang lain semestinya membawa hujjah yang nyata, jika mengatakan salah mana kesalahannya?, bukan juatru sekedar omong kosong di hadapan orang awam, apalagi hanya ingin mendapat tepuk tangan dan tawa. Banyak orang hanya bisanya mengkritik para Ulama’ dan mencari cari kecacatannya padahal dia sendiri penuh kecacatan.

كبرت كلمة تخرج من افواههم ان يقولون الا كذبا

Imam Ghazali dimata Ulama’.

Berkata Ibnu Najjar dalam kitab tobaqotus syafi’iyah 6/216; “imam ghozali adalah imamnya para Fuqoha’ secara menyeluruh, pendidik ummat secara sepakat, yang tersebar namanya di negeri, dan terkenal keutamaannya diantara para hamba, dan telah menyaksikan keutamaannya baik yan pro maupun yang kontra.”

Berkata Dyeikh DR Muhammad bin Ali Ba’atiyah dalam kitabnya I’tizaz Wattashorruf hal. 76; “dari yang kita riwayatkan Nampak bahwa imam ghozali dia secara nyata merupakan pemimpin perdamaian pada zamannya bagi ummat, sekiranya lurus dirinyadan menjadi suci jiwanya, dan dihiasi dengan akhlaq islam, maka menjadi baik seluruh aspek kehidupan ummat manusia.”

Dan Syeikh As’ad Al Khotib berkata dalam kitabnya Al Butulah Inda Sufiyah hal.46 ; “Imam Ghozali telah menegakkan kebenaran, hingga terdapat orang orang yang menghafalkan akidah yang benar, membatalkan argumentasi para mulhidin (atheis) dan mubtilin, danpahalanya jauh lebih besar dari pahalanya para pejihad. Maka ia berhak dihadapan semua orang untuk mendapat gelar ‘Hujjatul islam’.”

Imam dzahabi mengatakan dalam kitabnya siyar A’lam Nubala’ 19/322; “Imam Ghozali adalah samudera dalam keilmuan, Hujjatul Islam, yang menjawab problematika zaman, perhiasan agama, yang memiliki kecerdasan yang luar biasa.”

Kitab Ihya’ Ulumuddin dimata Ulama’.

Imam Dzahabi berkata dalam Kitab Siyar A’lam Nubala’ 19/323; “Seandainya musnah semua kitab islam dan hanya tersisa Ihya’ Ulumuddin maka cukuplah atas yang hilang.”

Berkata Al Qutub Abdullah bin Abu Bakar Al Idrus dalam kitab Ta’riful Ihya’ Hal.91; “Seandainya Allah membangkitkan orang2 yang mati pastilah mereka tidak akan berwasiat kecuali agar membaca Ihya’ ulumuddin, dan aku bersaksi secara tersembunyi dan nyata bahwa barangsiapa membaca Ihya’ maka ia temasuk orang yang mendapat petunjuk.”

Baca Juga:  Ulama Wahabi Syeikn Utsaimin Tidak Konsisten dalam Konsep Bid'ahnya

Berkata Imam Nawawi dalam kitab Syarhul Ainiyah Hal.91

; كاد الإحياء أن يكون قرآنا

“Hampir saja Ihya’ menyamai Al Qur’an”

Berkata Syeikh Al Kazaruni dalam Syarhul Ainiyah hal.91 : “seandainya dihapuskan seluruh ilmu maka akan disarikan dari ihya’.”

Berkata Sayyid Al Arif Billah Ali bin Abi Bakr bin Syeikh Abdurrahman As Saqqof; “Seandainya di balik lembaran Ihya (ditelaah) oleh orang kafir, niscaya ia akan masuk islam.”
Perhatian keras.

Mengenai Hadits Dlhaif, menurut kami memang banyak hadits yang di dhaifkan para ahli hadits dan ditinggalkan tidak berpegang teguh padanya, kecuali orang orang ahlil Qulub wal Irfan dari kalangan Ulama’ sufi dan waliyullah yang masih mengamalkan Hadits Dloif. Karena bagi mereka jangankan perkara yang besar seperti hadits sohih hadits dhaif pun mereka tidak pernah tinggalkan demi menggapai ketakwaan kepada Allah. Prinsip mereka adalah ;

حَسَنَةُ الأَبْرَارِ سَيِّئَةُ المُقَرَّبِيْنَ

Kebaikan bagi orang orang baik, itu adalah keburukan dimata orang yang dekat dengan Allah.

Maksudnya adalah kalau orang biasa menganggap sholat 5 waktu sudah termasuk melakukan kebaikan dan mereka puas dengan itu, akan tetapi orang orang yang dekat dengan Allah tidak puas disitu, akan tetapi akan ditambah dengan sholat sunnah, dzikir, puasa dan Fadhoilul A’mal lainnya.

Lagi pula Ulama telah berkata bahwa ; boleh kita mengamlkan Hadits Dloif dalam Fadloilul A’mal sebagaimana perkataan Ibnu Hajar dalam kitab Fatawi kubro Juz 2 Hal 54:

وقد تَقَرَّرَ أَنَّ الحديث الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضِلَ وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بها في فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا

“Telah menjadi ketetapan bahwa Hadits Dloif , Hadits Mursal, Hadits Mu’dhol, Hadits Mauquf itu diamalkan dalam Fadhilah Fadhilah Amal.”

Ihya’ ulumuddin sebagaimana kita tahu adalah dakwah kelengkapan, dakwah luar dalam bagi kehidupan manusia. Membahas tentang memperbaiki hati dan sikap, serta menjauhi perkara yang hina bahkan yang dikhawatirkan memicu kehinaan. Dan materinya pun disimpulkan dari hadits hadits nabi, walaupun itu dloif selama itu termasuk fadhilah amal maka tidak masalah. Jangan Menghina Hadits Dloif.

Kemudian saya ingin mengingatkan agar jangan berlebihan menyikapi hadits dloif, apalagi sampai menghinanya. Sebab diceritakan tentang seorang ulama yang meremehkan dan menghina hadits nabi berikut;

مَنْ إِحْتَجَمَ يَوْمَ الأَرْبِعَاءِ وَيَوْمَ السَّبْتِ فَأَصَابَهُ البَرَصُ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ ( انظر: الكامل لابن عدي 4/1446)

“Barangsiapa yang melakukan Hijamah di hari rabu dan sabtu kemudian ia terkena penyakit baros (belang-belang) maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri.”

Baca Juga:  Islam Tradisional, Pesantren dan Tantangan Masa Depan

Kemudian apa yang terjadi saat Ulama’ tersebut yang menganggap Dloif hadits ini dan boleh mengamalkan kebalikannya, mari kita renungkan sebagaimana Al Hafidz Imam Suyuti meriwayatkan dari Musnad Firdaus karya Imam Dailami; saya mendengar ayahku berkata; aku mendengar Aba Amr dan Muhammad bin Ja’far bin Mator an Naisaburi berkata;

“Suatu hari aku berkata; hadits ini adalah Hadits Dloif tidak sohih, maka akupun melakukan Hijamah di hari rabu dan akupun terkena penyakit baros (belang-belang), kemudian aku bermimpi Rosulullah s.a.w dalam tidurku, akupun mengadukan tentang kondisiku kepada Rosulullah. Dan Rosulullah berkata ; Hati hati kamu dengan penghinaan atas haditsku. Akupun menjawab; Aku bertaubat duhai rosulullah!!!. Dan deritakupun berakhir dan aku disembuhkan oleh Allah s.w.t dan penyakit itupun hilang.” (Lihat; kitab Al La’ali Kitabul Marod Wat Tibb Juz 2 Hal 210).

Tidak hanya satu cerita, ada banyak cerita ulama yang menceritakan nasib tragis orang yang meremehkan Hadits Dloif. Seperti yang di ceritakan Ibnu Asakir dalam kitab Al La’ali Juz 2 Hal 219 tentang kisah tragis berhijamah dihari sabtu.

Ada juga dikisahkan dalam Imam Syihabuddin Al Khufaji Al Mishri dalam kitab Nasimur Riyadh Juz 1 Hal 344, perihal seorang Ulama meremehkan hadits tentang larangan memotong kuku di hari rabu dan iapun terkana penyakit baros (belang). tidak hanya disitu ia bermimpi rosulullah dan iapun bertaubat, maka kemudian nabi mengusapkan tangannya di badannya lalu sembuhlah penyakit Ulama tersebut.”

Kesimpulannya marilah kita sebagai seorang da’I terkhusus kepada ustadz badrussalam agar menjaga etika kepada Ulama yang kalibernya jauh lebih tinggi dari kita, baik secara perkataan dan perbuatan, Karena tidak menghormati adalah sumber pertikaian. Kemudian kita juga jangan sembarangan menyikapi Hadits Dloif karena masih banyak ilmu lainnya yang mungkin kita belum ketahui.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kita jawab terkait statemen ustadz badrussalam tersebut, namun pada artikel ini kita cukup kan sementara dalam dua bahasan diatas.

Semoga bermanfaat.

Artikel ini dimuat pertama kali di aswajamuda.com dengan judul “Jawaban Tuduhan Ustadz Abu Yahya Tentang Imam Ghozali” (04/08/2017) diedit seperluny oleh tim Pecihitam.org

Redaksi

Redaksi at Pecihitam.org
Suka Menulis? Silahkan kirimkan tulisan dengan topik seputar Keislaman ke email redaksi di portalpecihitam@gmail.com
Redaksi
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG