Jangan Dulu Menggugat “The Santri” Sebelum Menonton Filmnya

Jangan Dulu Menggugat “The Santri” Sebelum Menonton Filmnya

Pecihitam.org – Kemunculan film The Santri mendapat beragam respons dari masyarakat. Ada beberapa faktor yang membuat film ini menuai kontroversi, salah satunya adalah pemilihan Livi Zheng sebagai sutradara. Setelah dikulik latar belakangnya habis-habisan dalam beberapa media online (Tirto, Asumsi, Geotimes, dll), Livi juga sempat “disidang” dalam acara Q&A Metro TV: Belaga Hollywood.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Media online menuliskan bahwa film-film yang diproduksi Livi kualitasnya sangat buruk, sesuai dengan ratingnya di IMDB. Film yang dimaksud adalah Brush With Danger (2015) yang mendapat rating 3,5 dan Bali: Beats of Paradise (2018) yang hanya mendapatkan rating 1,5. Film pertama dianggap merekayasa penghargaan-penghargaan yang didapatkan dan film yang kedua dikritik lantaran terlalu banyak tayangan endorse dari para pejabat Indonesia.

Selain itu, Livi juga dianggap membuat pernyataan asal-asalan soal karirnya yang diklaim telah ‘menembus Hollywood’. Wacana ini kemudian dibawa ke dalam Q&A: Belaga Hollywood. Dalam acara tersebut, Livi tidak berhasil membuktikan apa-apa. Ia justru kelabakan, memperlihatkan bahwa ia tak tahu apa pun tentang dunia perfilman terutama saat berhadapan dengan Joko Anwar, salah satu sineas terbaik Indonesia.

Baca Juga:  Aktris Wanita Pemeran Film The Santri Dituduh Liberal, Veve Zulfikar: Bodo' Amat

Selain persoalan Livi, pada tanggal 16 September 2019 kemarin, tagar #boikotthesantri pun sempat menjadi trending topic di Twitter Indonesia dengan lebih dari 15 ribu cuitan. Seruan boikot film ini diawali oleh Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI) melalui selebaran yang menolak film The Santri karena dianggap tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya.

Di luar dua persoalan di atas, ada pula kritikan Ustaz Maaher Atthuwalibi untuk Ustaz Yusuf Mansur–orang tua pemain utama The Santri, Wirda Mansur–yang kemudian menimbulkan perang komentar di Instagram. Ia juga menyerang Yusuf Mansur dengan pelbagai macam tuduhan, termasuk ketidakkonsistenan dalam menyampaikan persoalan pacaran dalam Islam dan ketidakbecusan mendidik anak.

Dalam kritikannya, Maaher mengemukakan pula bahwa film The Santri mengandung adegan saling tatap antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram. Sayangnya, bukannya mengkritik dengan cerdas, Maaher justru mengemukakan pendapatnya dengan kata-kata kasar yang justru menampakkan tabiat buruk dirinya sendiri.

Tapi sebentar, sebenarnya apa sih yang ditolak, dikritik atau diboikot dari film The Santri?

Baca Juga:  Gandeng Sutradara Livi Zheng, PBNU Garap Film 'The Santri'

Film The Santri belum tayang di bioskop. Yang beredar saat ini adalah trailernya saja. Dalam dunia perfilman, trailer atau cuplikan adalah istilah umum yang merujuk kepada upaya promosi sebuah film yang akan segera tayang melalui video, memuat plot inti cerita dalam film, termasuk pemeran, sutradara, produser, distributor dan waktu tayang film tersebut. Panjang sebuah video trailer lebih kurang 2-3 menit. Sedangkan durasi film umumnya berlangsung selama berjam-jam.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa trailer hanyalah perkenalan semata, bukan keseluruhan isinya. Ibarat sebuah buku, apa yang ditunjukkan dalam trailer film hanya sinopsisnya saja. Sinopsis tentu belum bisa ditolak apalagi diboikot, sebab isi yang sesungguhnya belum benar-benar kelihatan jelas. Kita belum menonton film The Santri secara utuh. Trailer tak bisa menjadi patokan, seperti pula sinopsis buku yang tak bisa menjadi sumber rujukan.

Ada pendapat yang menyatakan: trailernya saja sudah jelek, apalagi filmnya. Maka dari itu, mari sama-sama belajar lagi, menilai satu hal tidak hanya dari satu sisi, tapi secara menyeluruh. Film adalah sebuah karya yang dibuat dengan tenaga kolektif. Jika sudah tak bisa berharap pada sang sutradara, cerita dalam film dan para pemainnya, mungkin kita bisa mengapresiasi dari sisi musiknya yang digarap Purwacaraka atau mengapresiasi teknik pegambilan gambarnya.

Baca Juga:  Butir-butir Gagasan Pluralisme Gus Dur dalam Sila Pertama Pancasila

Kita boleh menyatakan Livi Zheng telah gagal dalam dua film sebelumnya yakni Brush With Danger dan Bali: Beats of Paradise. Tapi, bukankah ada kemungkinan–meskipun sangat kecil sekali–Livi bisa membuat film bagus meski misalnya hanya terjadi sekali saja dalam hidupnya? Pertanyaan ini tentu tak bisa dijawab sekarang. Kita hanya bisa membuktikannya di bulan Oktober mendatang, saat film The Santri menyapa para santri di bioskop nanti.

Ayu Alfiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *