14 Februari Jangan Sibuk Valentine Day, Tapi Ingatlah Hari Ini Milad KH Hasyim Asy’ari

14 Februari Jangan Sibuk Valintine Days, Tapi Ingatlah Hari Ini Milad KH Hasyim Asy'ari

Pecihitam.org – Ketika kebanyakan orang pada tanggal 14 Februari ini disibukkan dengan Valentine Day, entah sibuk merayakannya atau sibuk membahas hukumnya. Mulai dari yang menganggapnya haram hingga men-just kafir bagi yang ikut merayakan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tapi bagi kaum santri, pertegangahan Februari ini menjadi istimewa bukan karena ikut-ikutan hari kasih sayang itu, melainkan karena pada hari ini merupakan Milad Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Pendiri Nahdlatul Ulama.

Ya, 149 tahun silam, tepatnya tanggal 14 Februari 1871 yang bertepatan dengan 24 Dzulijah 1287 Hijriah, lahir seorang bayi yang kelak tidak hanya menjadi ulama panutan, tetapi juga menjadi pejuang kemerdekaan dan pahlawan bangsa.

Putra ketiga dari 10 bersaudara ini adalah anak dari pasangan Kyai Asy’ari dengan Nyai Halimah yang mana dari jalur nasab ibunya, ia masih ada hubungan silsilah dengan Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadi Wijaya yang masyhur itu.

Kita sebagai kaum santri, sebagai anak bangsa sudah sepatutnya memperingati, menghormati dan mengirimkan hadiah minimal al-Fatihah kepada beliau yang telah nyata-nyata banyak berjasa bagi umat dan selalu komitmen menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia ini.

Usianya yang nyaris 1,5 abad atau 1,5 lebih 4 tahun jika mengacu pada perhitungan kalender Hijriah sungguh lebih tua dari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Baca Juga:  Pandangan KH Hasyim Asy'ari Tentang Salafi Wahabi Dipelintir oleh Minhum

Ini menunjukkan betapa beliau adalah seorang leluhur bangsa yang patut kita hargai perjuangannya, salah satunya komitmennya terhadap negara kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaiman kita tahu dalam sejarah, ketika awal-awal kemerdekaan, saat terjadi perumusan Pancasila, tokoh dari kalangan Indonesia Timur yang rata-rata nonmuslim kurang setuju dengan bunyi sila pertama yang yang yang memuat tentang kewajiban menjalankan syariat Islam.

Setelah itu Bung Karno mengirim KH. Abdul Wahid Hasyim (Putra KH. Hasyim Asy’ari dan Abah dari Presiden Republik Indonesia ke-4, Gus Dur) untuk sowan ke Hadratus Syaikh. KH. Wahid menyampaikan keberatan tokoh Indonesia dari wilayah Timur Indonesia.

Kemudian setelah melakukan istikharah, paginya Kyai Haji Hasyim Asy’ari menyampaikan bahwa ia setuju dengan penghapusan sebagian kalimat pada sila pertama.

Tetapi beliau berpesan, Indonesia harus tetap menjadi negara yang mewujudkan manifestasi Islam di dalamnya, yaitu dengan adanya Kementerian Agama yang mengurus haji, waqaf, zakat, nikah dan sebagainya.

Walaupun bukan negara Islam, tidak kemudian Indonesia menjadi sepenuhnya sekuler seperti negara Turki.

Selain itu, sungguh masih banyak jasa-jasa KH. Hasyim Asy’ari terhadap bangsa ini. Salah satu yang cukup populer adalah Fatwa Resolusi Jihad yang beliau keluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945. Kemudian kini momen bersejarah tersebut diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Beliaulah yang menyerukan Resolusi Jihad ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang merupakan bentukan Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng sekutunya yang dipimpin oleh Inggris pada tanggal 22 oktober 1945.

Baca Juga:  AGH Daud Ismail, Penulis Kitab Tafsir Al-Munir Beraksara Lontara Bugis

Setelah adanya seruan Resolusi Jihad oleh Kiai Hasyim ‘Asyari, terjadi peristiwa besar di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Peristiwa perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, melawan tentara NICA yang datang ke Indonesia dengan maksud ingin menjajah kembali Indonesia setelah Jepang kalah dan menyerah dalam Perang Pasifik.

Perang 10 Nopember yang dipimpin Bung Tomo merupakan ujian pertama bangsa Indonesia setelah 17 Agustus 1945 memproklamsikan kemerdekaannya.

Maka kita patut mengenang milad KH Hasyim Asy’ari. Karena bahkan beliau juga punya peran besar dalam gerakan laskar-laskar perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia seperti Hisbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin.

KH Hasyim Asy’ari tidak hanya dikenal sebagai seorang kyai yang mempunyai pemikiran yang cerdas dalam menyusun strategi perang, tapi beliau juga memimpin langsung pasukan perlawanan.

Adapun jasa beliau bagi kaum muslimin Indonesia, khususnya para nahdliyyin, selain beliau sebagai ikon utama jam’iyah Nahdlatul Ulama, kontribusi besar lainnya adalah karyanya yang berjudul Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah.

Itulah rumusan dasar Ahlussunnah Wal Jamaah dalam bidang aqidah, fiqih dan tasawuf. Kitab ini tidak hanya menjadi rujukan Ahlussunnah wal Jamaah aAn-Nahdliyah yang ada di Indonesia, tetapi juga dikaji oleh kaum Sunni internasional. Formulasi 4-2-2 dalam kitab Ahlussunnah Wal Jamaah dinilai sangat kokoh dan relevan hingga kini dalam memahami firqah an-najiyah.

Dengan sederet peran dan kontribusinya bagi bangsa ini, pantaslah jika beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964. Karena beliau pun punya keyakinan bahwa Hubbul Wathan minal Iman

Jika bangsa ini saja memberikan penghormatan dan menempatkan beliau pada posisi yang tinggi dan istimewa, maka bagaimana kita pengikutnya hari ini?

Baca Juga:  Biografi KH Faqih Maskumambang Gresik, Maha Guru Pendiri NU

Maka paling tidak pada hari kelahirannya, lebih-lebih pada Sayyidul Ayyam, hari Jumat yang penuh berkah ini, mari kita kirimkan hadiah Al-Fatihah kepada beliau. Semoga berkahnya senantiasa mengalir kepada kita dan keturunan kita. Amin. Lahul Fatihah…

Faisol Abdurrahman