Berikut Definisi dan Cara Mujahadah dalam Ilmu Tasawuf (Bagian I)

Berikut Definisi dan Cara Mujahadah dalam Ilmu Tasawuf (Bagian I)

Pecihitam.org- Dalam berriyadhoh, selain taubat, aktifitas yang harus dilakukan adalah mujahadah. Mujahadah artinya ia berusaha keras dan bersungguh-sungguh dalam perjuangan meniti jalan Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Meskipun seseorang telah melewati jalan taubat, tetapi jika tidak bermujadah, maka tak mungkin mampu meniti jalan menuju Allah dengan benar. Maka, mujahadah merupakan syarat yang tidak boleh diabaikan.

Mujahadah merupakan amalan baik lahir maupun batin. Tujuannya untuk mencapai karunia Allah. Karunia itu bisa berupa mahabbatullah, mukasyafah, musyahadah, dan ma’rifah.

Jika seseorang telah mencapai maqam ini, maka daya batinnya dapat diberdayakan secara maksimal.  Sementara itu, Allah swt berfirman agar kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih karunia yang empat tadi. Hal tersebut tertuang dalam QS. Al-Hajj ayat 78:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Baca Juga:  Imam Ghazali, Merobohkan Permainan Akrobatisme Intelektual

Artinya: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Maksud bersungguh-sungguh dalam ayat tersebut yakni, bersungguh-sungguh dalam perjuangan memelihara diri dari berbuat dosa. Bersungguh-sungguh untuk berpindah dari kebiasaan buruk ke kebiasaan baik, dari baik menjadi lebih baik lagi. Dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.

Seseorang yang ingin menjerniihkan hatinya demi mencapai ridha Allah, tentunya harus bertekad bulat untuk berjuang melawan hawa nafsu dan melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Baca Juga:  Mengenal Madzhab Tasawuf; Akhlaqi, Amali dan Sunni

Dan hendaklah ia dalam setiap sikap dan prilakunya haruslah benar-benar dihiasi akhlaq yang mulia, menguntungkan bagi dirinya dan juga orang lain. Maka, perlahan-lahan jiwa akan membentuk suatu kearifan. Sehingga muncullah sinar musyahadah dalam batinnya.

Sementara itu, Imam Abu Ali Ad-Daqaq pernah berkata mengenai mujahadah:

Baransiapa yang menghiasi dzahirnya dengan mujahadah, maka Allah akan menganugrahi batinnya dengan musyahadah. Dan seseorang yang dalam perjalanan hidupnya tidak pernah merasakan mujahadah, maka mustahil mata hatinya akan mendapatkan musyahadah.” Pada kesempatan lain, beliau pernah berkata kembali “Seseorang yang pada awalnya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan bisa duduk.”

Selain itu, para ulama salaf sering berpesan agar seseorang bersungguh-sungguh dalam menempuh hidup dan menjalani kebenaran. Diantaranya adalah Imam As-sirri, beliau berkata :

“Bersungguh-sungguhlah kalian sebelum sampai pada batas akhir kemampuan yang membuat kalian lemah, dan kurang sebagaimana kelemahan dan kekurangan fisik kalian.”

Sedangkan sebagian ulama sufi, seperti Al-Qazaz memberikan teori tentang mujahadah dalam menempuh jalan menuju kebenaran. Ia menyederhanakan menjadi tiga hal, yaitu:

  • Bersungguh-sungguh menahan lapar
  • Bersungguh-sungguh menjaga tidur
  • Bersungguh-sungguh menjaga lisan
Baca Juga:  Teori Keseimbangan Antara Agama dengan Dunia Melalui Pendekatan Tasawuf

Dan Sesungguhnya, mujahadah itu dibangun diatas 3 hal, Yakni:

  1. Hendaklah engkau tidak makan kecuali benar-benar lapar
  2. Hendaklah engkau tidak tidur, kecuali benar-benar mengantuk
  3. Hendaklah engkau tidak bicara kecuali benar-benar terdesak
Mochamad Ari Irawan