Memahami Konsep Islam Moderat Dalam Pandangan Berbagai Tokoh

Memahami Konsep Islam Moderat Dalam Pandangan Berbagai Tokoh

PeciHitam.org – Islam Moderat, hingga hari ini merupakan konsep yang mudah dibicarakan namun susah untuk diterapkan. Kenapa? Karena hal ini berada di dalam ranah pemahaman. Bagaimana cara kita memahami Islam, akan memunculukan sikap dan prilaku kita nantinya, dan memang Islam Moderat adalah sebuah sikap, tapi bagaimana kita memahaminya?

Menurut Hasan Bukhari, Imam Masjidil Haram dalam Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, menyatakan bahwa umat Islam merupakan umat pertengahan (ummatan wasathan) sehingga wajar apabila memberi seruan kepada dunia untuk mengamalkan paradigma wasathiyah. Paradigma ini akan membuat seluruh masyarakat dunia hidup dalam keharmonisan meski memiliki perbedaan suku, agama dan ras.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga mengatakan bahwa Indonesia layak menjadi pusat peradaban Islam moderat dan modern. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sekaligus menerapkan demokrasi di dalamnya. Pernyataan ini disampaikan ketika menjadi keynote speech Expert Meeting UIII di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Islam Moderat berorientasi pada prinsip santun dalam bersikap, berinteraksi yang harmonis dalam masyarakat, mengedepankan perdamaian serta anti kekerasan dalam berdakwah. Ajaran ini memang selaras dengan kandungan utama Islam yang membawa misi Rahmatan Lil Alamin yaitu membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini menghargai pendapat serta menghormati adanya orang lain adalah sisi penting yang dibangun oleh Islam Moderat.

Baca Juga:  Islam Wasatiyah; Penyatuan Antara Dalil Naqli dan Aqli

Konsep toleransi, damai dan kultural yang telah dijalankan oleh Walisongo membawa kepada moderasi Islam yang dipandang tidak kaku dalam memaknai al-Qur’an dan bersikap toleran terhadap budaya setempat. Hal ini disebabkan karena agama Islam membawa misi Rahmatan Lil Alamin sehingga untuk mewujudkannya harus membawa kesejukan dan kedamaian dalam menyikapi setiap perbedaan bahkan mengayomi setiap manusia.

Pada dasarnya Islam Moderat akan banyak mengambil simpati di hati masyarakat, karena mereka merindukan ajaran Islam yang damai, hidup rukun, memahami perbedaan, serta ajaran al-Qur’an al-Karim dijalankan dengan benar. Ideologi yang dibawa oleh Islam Moderat berupa ajaran yang berada di titik tengah yang terlepas dari berbagai pemahaman yang sangat tekstual dan keras dalam memahami ajaran tersebut. Kedinamisan kaum moderat berakar dari pemahaman mereka dalam memaknai Islam secara utuh baik penafsiran al-Qur’an maupun sikap hidup bersosial di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Masdar Hilmy dalam tulisannya Quo-Vadis Islam Moderat Indonesia, khazanah pemikiran Islam Klasik memang tidak mengenal istilah “moderatisme”. Tetapi penggunaan dan pemahaman atasnya biasanya merujuk pada padanan sejumlah kata dalam bahasa Arab, di antaranya al-tawassut (al-wast), al-qist, al-tawazun, al-i‘tidal, dan semisalnya. Oleh sejumlah kalangan umat Islam, kata-kata tersebut dipakai untuk merujuk pada modus keberagamaan yang tidak melegalkan kekerasan sebagai jalan keluar untuk mengatasi berbagai persoalan teologis dalam Islam.

Baca Juga:  Islam Wasathiyah Sebagai Penyeimbang Antar Kelompok Beragama

Moderatisme merupakan kata yang relatif dan dipahami secara subyektif oleh banyak orang, maka ia selalu mengundang kontroversi dan bias-bias subyektif. Ia juga tidak pernah netral dari berbagai macam kepentingan politik-ekonomi. Sebagai akibatnya, kepelikan semantik semacam inilah yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk sampai pada tahap konklusif tentang apa dan siapa Islam moderat itu.

Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, Wasathiyah (pemahaman moderat) adalah salah satu karakteristik Islam yang tidak dimiliki oleh Ideologi-ideologi lain. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah aku jadikan kalian sebagai Umat yang pertengahan.” (QS. Al Baqarah: 143).

Yusuf Al-Qardhawi merupakan ulama yang menyeru kepada dakwah Islam yang moderat dan menentang segala bentuk pemikiran yang liberal dan radikal. Liberal dalam arti memahami Islam dengan standar hawa nafsu dan murni logika yang cenderung mencari pembenaran yang tidak ilmiah. Radikal dalam arti memaknai Islam dalam tataran tekstual yang menghilangkan fleksibilitas ajarannya. Sehingga terkesan kaku dan tidak mampu membaca realitas hidup.

Sikap Wasathiyah Islam adalah satu sikap penolakan terhadap ekstremitas dalam bentuk kezaliman dan kebathilan. Ia tidak lain merupakan cerminan dari fithrah asli manusia yang suci yang belum tercemar pengaruh-pengaruh negatif.

Baca Juga:  Begini Hukum Menolak Hasil Pemilu Menurut Analisis Fiqih

Menurut Muhammad Imarah, dalam bukunya, Ma’rakah al-Mushthalahat bayna al-Gharb wa al-Islam, menjelaskan istilah al-Wasathiyah dalam pengertian Islam mencerminkan karakter dan jati diri yang khusus dimiliki oleh manhaj Islam dalam pemikiran dan kehidupan, dalam pandangan, pelaksanaan, dan penerapannya.

Oleh karena itu, sebagai warga Indonesia yang notabenenya berpenduduk mayoritas muslim dirasa perlu untuk menjadikan Islam Moderat sebagai kiblat ajaran Islam yang sebenarnya dengan berlandaskan Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Hal ini sebagai bentuk promosi dalam menjaga wajah Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan dan persatuan untuk mengurangi citra islamophobia.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG