Begini Harusnya Seorang Muslim Menyikapi Aturan Makan Saat PPKM

Menyikapi Aturan Makan saat PPKM

Pecihitam.org – Belakangan ini masyarakat digegerkan dengan adanya aturan terkait PPKM level 4 yang beberapa kebijakannya dirasa kurang masuk akal. Salah satunya adalah adanya pembatasan durasi makan di tempat umum menjadi 20 menit.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Durasi maksimal tersebut disertai dengan aturan protokol yang ketat sehingga diharapkan dapat menekan kasus penularan virus covid-19. Dengan ini, masyarakat dituntut untuk makan dengan durasi yang  sangat cepat.

Aturan yang tampaknya agak nyeleneh ini pun menjadi bahan bualan para netizen Indonesia. Bukan hanya dari durasinya yang cukup cepat, bahkan mereka juga menerka dan mengkalkulasi durasi tersebut jika diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.

Beberapa tempat makan juga terkadang membutuhkan waktu untuk memasak yang cukup lama seperti sate atau soto. Hal ini malah membuat durasi 20 menit itu dirasa sangat mustahil untuk makan. 

Beberapa wilayah pasti merasa kesulitan untuk melakukan aturan ini. Seperti di wilayah Jakarta, beberapa petugas juga tidak bisa mengawasi setiap warung makan di wilayah mereka. Juga tidak bisa setiap saat melakukan penjagaan. Sehingga dirasa kurang efektif.

Lalu bagaimana Islam mengatur pola makan kita?.

Islam sendiri menganjurkan kita untuk menyedikitkan makan. Hal ini terkait dari dampak positif yang ditimbulkan darinya. Dengan sedikit makan setidaknya dapat memberi dampak yang positif bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Seseorang pun dituntut untuk dapat membagi apa yang masuk dalam tubuhnya sesuai porsi yang ada. Seperti dalam Hadist Nabi:

Baca Juga:  Makan Belum Habis tapi Sudah Kenyang, Bagaimana Menurut Islam?

ما ملأ ادمي وعاءً شرا من بطنه حسب ابن ادم لقيمات يقمن صلبهُ فإن لم يفعل فثلثٌ لطعامه وثلثٌ لشرابه وثلث لنفَسه.

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya, maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafasnya”. (HR. Ahmad)

Dengan menerapkan pola aturan makan ini, akan membuat tubuh kita menjadi lebih sehat dan tidak rentan terkena penyakit. Hal ini dikarenakan setiap anggota fungsi badan berjalan dengan normal dan sesuai porsinya sehingga tidak menimbulkan kerja badan yang diluar kekuatan yang dapat menimbulkan berbagai penyakit dalam diri seseorang. Selain itu, seseorang yang banyak makan akan mengakibatkan terjadinya penggemukan badan yang berlebihan. 

Hal itu pun memicu terbentuknnya penyakit-penyakit baru dalam tubuh. Seseorang juga akan kesulitan dalam beraktivitas jika dalam kondisi seperti ini, karena sulit menggerakkan tubuh orang yang gemuk berlebihan dan banyaknya makan tadi. Seperti dalam sabda Nabi SAW: ”Tidak ada keasehatan bagi orang yang banyak makan”. Hal ini tentu mengurangi kepercayaan diri dan merasa minder terhadap teman lainnya.

Baca Juga:  Makan dan Minum dengan Tangan Kiri Bagaimana Hukumnya?

Dalam Hadist juga, Rasulullah berkata:

من شبع في الدنيا جاع يوم القيامة ومن جاع في الدنيا شبع يوم القيامة

 “Barang siapa yang kenyang di dunia pasti akan lapar di akhirat dan barang siapa yang lapar di dunia pasti akan kenyang di akhirat”. 

Jika difahami secara cermat, seseorang akan dihisab sesuai amalnya. Jika orang yang banyak harta akan lebih lama dihisab dari pada orang yang tidak memiliki apa-apa.

Maka, ketika seseorang banyak makan, maka setiap kali apa yang dia makan akan dipertanyakan di akhirat. Hal ini yang membuat hisab seseorang menjadi lama, yang dibahasakan dalam hadist “ akan lapar di kiamat”. 

Sebaliknya, seseorang yang sedikit makannya juga nanti akan melalui hisab terhadap apa yang dia makan dengan cepat pula. Dengan ini, dia tidak akan berlama-lama dalam melakukan hisab sehingga tidak akan merasa lapar. Hal ini dibahasakan dengan” Akan kenyang di hari kiamat”.

Dalam kitab Kifayat al-Atqiya’ wa Minhajul Asfiya’ karya Sayyid Abi Bakr ibn Sayyid Muhammad Syato ad-Dimyathi disebutkan berbagai manfaat dari menyedikitkan makan sebagai berikut:

Baca Juga:  Betulkah Islam Nusantara Itu Agama Baru dan Anti Arab? Itu FITNAH

وإنما كان خلاء البطن من الأدوية أيضا لان فيه راحة القلب والسلامة من الطغيان والبطر وحفة البدن للعبادات ودفع الأمراض وفي الشبع أضداها

“Adapun sebab kosongnya  perut juga menjadi obat adalah karena di dalam perut yang kosong terdapat ketenangan hati, selamat dari sifat semena-mena dan sombong, meringankan badan untuk melakukan ibadah, dan menolak berbagai macam penyakit. Dan dalam perut kenyang terdapat hal yang sebaliknya”.

Dalam beberapa manfaat ini, selayaknya di masa pandemi ini sesorang dapat berusaha untuk menyedikitkan makan. Hal ini bisa saja menjadi kebiasaan baik seseorang. Menjadi solusi atas keadaan yang menuntut untuk selalu membatasi segala aktivitas, dan upaya menjalani tuntunan agama dalam menyikapi pola makan. 

Penulis: Yasin Almaliki (Santri, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang)

Redaksi