Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Sejarah Turunnya Al-Quran yang Bisa Kita Renungkan

Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Sejarah Turunnya Al-Quran yang Bisa Kita Renungkan

Pecihitam.org- Dalam mengiringi perjalanan sejarah manusia, Al-Quran sebagai kitab pedoman merupakan kitab yang sangat apresiatif terutama dalam nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dalam perbedaan teks Al-quran dari gaya bahasa serta segi isi yang dipergunakan antara periode Makkah dan periode Madinah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada periode pertama di Makkah adalah periode pembangunan masyarakat baru sebagai reaksi atas masyarakat lama. Pada periode ini teks Alquran lebih dipusatkan pada pembentukan dasar-dasar yang membangun kesadaran masyarakat muslim terhadap sesuatu yang sesuai dengan realitas baru yang ingin dibentuk oleh teks.

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur mengiringi dakwah Nabi selama ± 23 Tahun. Pergumulan yang sangat intens ini memberikan implikasi bahwa segala ucapan dan tindakan Nabi dibimbing oleh wahyu.

Wahyu tersebut turun memberikan arahan-arahan dan petunjuk serta solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Maka dari itu, apabila kita hendak memahami Alquran kita juga harus mengetahui perjalanan sejarah Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Alquran.

Itulah sebabnya umat Islam tidak bisa dipisahkan dari sejarah. Karena sejarah bagi umat Islam sangatlah berarti. Sejarah bagi umat Islam adalah upaya untuk menemukan originalitas ajaran-ajarannya.

Baca Juga:  Inilah Nasehat Sayyidina Umar bagi Para Penghafal Al-Quran

Untuk memahami ajaran-ajaran Islam, ada dua hal penting yang harus diperhatikan dan dipelajari oleh umat Islam yaitu Alquran sebagai sumber dan pedoman ajaran-ajaran tersebut dan sunnah Nabi sebagai pembawa risalah.

Pentingnya mempelajari sejarah Islam awal adalah untuk memahami Alquran dari permulaan turunnya untuk mengetahui konteks yang melatari turunnya Alquran tersebut.

Selain itu, yang paling penting dari paparan sejarah tersebut adalah agar umat Islam dapat mengambil pelajaran dan hikmah yang terkandung dalam perjalanan sejarah tersebut. Sebagaimana tercantum dalam Al-Quran surat Yusuf [12] ayat 111:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

Sejarah bukan sekedar kisah biasa, tetapi sesuatu yang mengandung pelajaran. Sejarah memiliki kemampuan menjelaskan (explanatory power) tentang sesuatu hal yang menjadi permasalahan kontemporer, sejarah juga mengandung logika. Sejarah baik di masa kini atau bahkan di masa depan mampu memberi petunjuk bagi sikap dan tindakan.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 108; Seri Tadabbur Al Qur'an

Perubahan dan pembenahan masyarakat sedikit demi sedikit dilaksanakan. Dalam bidang ekonomi, Makkah, sebagai daerah perdagangan yang ramai, namun di kota ini pun dijumpai eksploitasi terhadap kaum yang lemah (budak-budak dan kuli).

Para bangsawan Makkah hanya mengkonsentrasikan dirinya dalam upaya untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan orang lain. Karena kesenangan mereka menumpuk harta menyebabkan mereka tidak peka terhadap masalah sosial di sekelilingnya seperti kemiskinan dan kelaparan.

Kemudian Al-Quran memberikan arahan-arahan tentang bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang lemah dengan menganjurkan untuk mengasihi anak yatim, memperhatikan fakir miskin dan menolong orang-orang yang tertindas dengan memberikan zakat dan sedekah bagi mereka. Seperti dalam surat al-Tawbah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Baca Juga:  Perbedaan AlQuran dan Hadits Qudsi, Ini Penjelasannya

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Islam mengajarkan hidup bermasyarakat berdasarkan persamaan dan persaudaraan. Saling tolong menolong dalam kebajikan dan menghilangkan sifat dendam. Menghilangkan perbedaan-perbedaan dan ashabiyyah antar kabilah masing-masing.

Ajaran-ajaran ini tentu saja mendapat tentangan dari orang-orang yang merasa terancam keberadaannya oleh misi Nabi tersebut.

Mochamad Ari Irawan