Pasangan Gus Aab-Kiai Muhyiddin Kembali Pimpin NU Jember

NU Jember

Pecihitam.org – Hasil Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Jember di kampus Universitas Islam Jember (UIJ), Minggu, 28 Juli 2019, kembali memilih KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab) sebagai Ketua PCNU Jember masa khidmah 2019-2024.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin tersebut mengantongi 262 suara dalam sesi pemungutan suara, disusul Kiai MN Harisudin (Katib Syuriyah PCNU Jember) dengan 68 suara, dan di posisi ketiga ditempati KH Firjoun Barlaman (putera KH Ahmad Siddiq) dengan 29 suara.

Pimpinan sidang Konfercab NU Jember Muhammad Qoderi mengatakan, sesuai dengan tatib (tata tertib pemilihan), maka perolehan suara calon yang mencapai 50 plus 1 persen dari total pemilik hak suara, ditetapkan sebagai pemenang.

Baca Juga:  Israel Ancam Jemaah Palestina di Masjid Al-Aqsa dengan Denda

Sebelumnya, dalam pemilihan rais syuriyah dengan sistem AHWA, KH Muhyiddin Abdusshomad mendapat suara terbanyak dari 5 ulama yang dipilih AHWA.  Namun, KH Munyiddin sempat melontarkan keinginannya untuk ‘istirahat’ dari kepengurusun PCNU Jember namun nyatanya keinginan peserta tidak bisa dibendung.

Duet Gus Aab- Kiai Muhyiddin akhirnya tetap lestari memimpin NU Jember untuk periode ketiga kalinya berturut-turut.

Hal yang menarik dari Konfercab tersebut yakni saat pimpinan sidang menanyakan kesediaan Kiai Muhyiddin untuk ‘menerima’ Gus Aab sebagai ketua NU Jember, ia menegaskan bahwa dirinya bersedia atau setuju Gus Aab menjadi ketua PCNU Jember asalkan dia tunduk dan patuh terhadap instruksi syuriah.

“Saya bersedia Gus Aab sebagai ketua PCNU Jember asalkan patuh kepada syuriyah, tidak berseberangan dengan keputusan syuriah,” ujar Kiai Muhyiddin, dikutip dari situs resmi NU, Senin, 29 Juli 2019.

Baca Juga:  Bareng BPBD, Banser Jateng Kirim Bala Bantuan Untuk Korban Banjir di Jabodetabek

Permintaan Kiai Muhyiddin itu kemudian direspon oleh Gus Aab dengan menyatakan kesediaannya untuk mematuhi segala instruksi dari rais syuriyah.

“Saya siap tunduk dan patuh terhadap keputusan rais syuriyah karena saya hanya sebagai pelaksana,” jawab Gus Aab.

Dalam pemilihan ketua NU, kesediaan rais syuriyah terpilih untuk menerima calon ketua NU, merupakan syarat yang tidak boleh ditawar.

Jika rais syuriyah menerima, maka sang calon bisa lanjut. Jika tidak menerima, maka si calon tidak bisa berbuat apa-apa berapapun perolehan suaranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *