Pemikiran Simuh dalam Tasawuf Kebatinan Jawa di Era Modern

Pemikiran Simuh dalam Tasawuf Kebatinan Jawa di Era Modern

Pecihitam.org – Yogyakarta adalah salah satu daerah yang saat ini masih menjaga tradisi dan kebudayaan Jawa. Banyak sekali tokoh-tokoh yang lahir di Yogyakarta atau hanya sekedar menimba ilmu saja. Selain tokoh politik, seperti Jokowi, Mahfud MD, dan Gus Dur. Ada juga tokoh shufi Jawa yang pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bernama Simuh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Simuh lahir pada tanggal 3 Juni 1933 dari pasangan Supoyo dan Fatonah. Simuh yang dilahirkan sebagai anak seorang petani kecil yang taat beribadah dan selalu tabah dalam menjalani kehidupannya tepatnya di kawasan kaki Gunung Merapi.

Simuh sejak kecil telah ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Ahkirnya Simuh sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Dari situlah Simuh mencoba untuk bangkit dalam belajar khususnya belajar ilmu agama.

Pendidikan formal yang ditempuh oleh Simuh  adalah: SR (Sekolah Rakyat) dikampung tempat kelahiranya lulus tahun 1945. Pendidikan formal yang ditempuh oleh Simuh  adalah: SR (Sekolah Rakyat) dikampung tempat kelahiranya lulus tahun 1945. lalu melanjutkan sekolah  SMA kota baru  Yogyakrta lulus 1953.  Dari proses belajarnya, Simuh dikenal oleh banyak orang sebagai seorang murid yang sangat tawadu’ khususnya pada guru-gurunya.

Baca Juga:  Al-Hallaj: Biografi dan Pemikirannya Tentang Hulul

Setelah Simuh selesai melaksanakan kewajibanya di SMA dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Akhirnya Simuh melanjutkan ke perguruan tinggi di PTAIN Sunan Kalijaga di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Selain menjadi seorang mahasiswa, Simuh juga sering melakukan meditasi atau Topo Broto.

Pada tahun 1963 Simuh lulus dari Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga sesudah berhasil mempertahankan skripsi yang mengkritik tesa-tesa al-Ghazali dalam kitab al-Munidz min al-Dlola/.  Sejak itu pula Simuh diangkat menjadi asisten dalam Ilmu Tasawuf di Fakultas Ushuluddin di samping sebagai Kepala Bagian Perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga.

Pada tahun 1981 Simuh mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Canberra University Australia sampai menyelesaikan program doktornya dengan menulis desertasi tentang Mistik Jawa Raden Ngabei Ronggowarsito.

Dari penelitian desertasi yang berjudul Mistik Jawa Raden Ngabei Ronggowarsito inilah awal dimana mulai menjadi merambah untuk mendalami shufi Jawa.

Baca Juga:  Abu Hasan as Syadzili dan Berdirinya Tarekat Syadziliyah (Bagian 3)

Dalam buku yang berjudul Tasawuf dan Perkembangan dalam Islam  Simuh mempunyai pandangan bahwa setiap manusia jika ingin mendalami tasawuf maka ia harus bisa mencintai dua konsep penting. Pertama cinta rasional (hubbun aqliyun )dan cinta emosional (hubbun ‘aathifiyun ).

Cinta Dzat atas dasar emosional murni (‘aatifiyun) ini dimulai dari hubbul hawa, akirnya memuncak jadi mabuk cinta (sakara). Bisa dibayangkan bagaimana percintaan seorang Hamba dengan Tuhanya bila sampai memuncak, maka akan dapat memanggil Tuhan.

Dari ajararan Dzat yang emosional murni ini menunjukkan bahwa dasar pikiran sufisme itu mengarah pada faham ketuhanan yang panteistik, yakni faham manunggaling kawula gusti.

Artinya menurut Simuh ajaran sufisme yang murni bila tidak dibatasi dan dikompromikan dengan syariat, pasti akan memuncak pada faham manunggaling kawula gusti.

Pemikran Simuh sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemikiran tasawuf Jawa Kaweruh Begha Ki Agung Suryamataram yang sama-sama mengarah pada jalan-Nya. 

Jika melihat ajaran tasawuf Kaweruh Begha yang lebih mengedepankan pada aspek pengalaman.  Kemudian dari pengalaman tersebut ada keterlibatan Tuhan yang Maha Esa. 

Baca Juga:  Kisah Cinta Jalaluddin Rumi Yang Membawanya ke Tingkat Makrifatullah

Prosesi renungan atau dalam bahasa Jawa disebut dengan Topo Broto memang menjadi rutinitas yang penting bagi seorang shufi Jawa dan para penganut kebatinan Jawa. Seperti Simuh, Ki Ageng Suryamataram, Ronggowarsita, dan Sosrokartono. Maka tidak heran mereka shufi Jawa atau menganut tasawuf Jawa yang lebih banyak melakukan tradisi perenungan tersebut seperti Simuh.

M. Dani Habibi, M. Ag