Pondasi Toleransi: Janganlah Menilai Agama Orang Lain dari Kacamata Agama Kita

pondasi toleransi Janganlah Menilai Agama Orang Lain dari Kacamata Agama Kita

Pecihitam.org – Salah satu titik benturan antara pandangan kaum konservatif dengan kaum liberal dalam Islam adalah soal bagaimana memandang iman selain Islam. Bagi kaum konservatif, Islam adalah satu-satunya kebenaran. Innad diina ‘indallahil islaam. Agama di sisi Allah itu hanya Islam. Ini adalah pandangan eksklusif. Sementara itu bagi kaum liberal, iman itu inklusif. Agama itu baik semua, karena mengajarkan kebaikan-kebaikan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Titik paling fundamental soal iman adalah percaya pada yang gaib. Gaib artinya tidak terjangkau oleh pancaindra. Bahkan tidak terjangkau oleh akal maupun imajinasi. Beriman artinya percaya begitu saja kepada pembawa pesan (messenger-rasul), tanpa memerlukan pembuktian faktual atau logis.

Kita tidak memerlukan seorang nabi untuk meyakinkan kita tentang sesuatu yang bisa kita tangkap dengan indra, atau sesuatu yang punya pijakan logika. Kita tidak memerlukan seorang nabi untuk memberi tahu kita bahwa hari sedang hujan, karena kita bisa memastikannya sendiri. Kita memerlukan nabi untuk memberi tahu kita bahwa hujan itu adalah ciptaan Tuhan.

Apa dasar kita untuk memilih kepada pembawa pesan yang mana kita beriman? Jujur saja, sebenarnya sebagian besar dari kita tidak memilih, melainkan dipilihkan. Agama kita dipilihkan oleh orang-orang di sekitar kita beberapa detik setelah kita lahir, lalu kita hidup mempertahankan pilihan itu seumur hidup.

Tentu ada orang-orang yang pindah agama, memilih sendiri imannya. Tapi apakah dia memilihnya dengan logika? Tidak. Bagaimana mungkin orang memilih Tuhan dengan logika, padahal Tuhan tak bisa dilogikakan? Orang pindah agama dengan alasan merasa nyaman, cocok, atau merasa tertuntun oleh sesuatu. Intinya, dasar pemilihannya bukan logika.

Baca Juga:  Sikap Toleransi Khalifah Umar Bin Khatab Kepada Agama Lain

Setiap orang tentu yakin dengan apa yang ia pilih. Memilih sesuatu yang tidak diyakini bukanlah iman, itu hanya ikut-ikutan. Keyakinan itu diekspresikan dengan ungkapan-ungkapan seperti tadi, agama di sisi Allah hanyalah Islam. Atau, tidak akan sampai seseorang kepada Bapa melainkan melalui aku. Semua agama punya doktrin itu. Inilah sumber perspektif ekslusif tadi.

Pada saat yang sama, dengan kesadaran tentang apa itu iman, maka kita juga sadar bahwa ada orang lain yang sama dengan kita. Mereka beriman pada sesuatu yang mereka pilih begitu saja. Mereka beriman kepada sesuatu yang berbeda dengan kita, tapi dengan cara yang persis sama dengan kita, yaitu percaya begitu saja.

Bisakah kita menyalahkan iman orang lain? Bisa. Tapi pada saat yang sama, orang lain juga bisa menyalahkan iman kita. Dengan apa kita menyalahkan iman orang lain? Dengan iman kita. Orang Islam menyalahkan iman Kristen yang menganggap Yesus itu anak Tuhan. Kenapa salah? Karena Quran mengatakan begitu. Adakah dari kedua golongan itu yang bisa memverifikasi Yesus itu anak Tuhan atau bukan? Tidak ada. Mereka hanya percaya saja dengan apa yang mereka percayai.

Baca Juga:  Membaca Kembali Gagasan Pribumisasi Islam Gus Dur

Menurut saya, kita sebaiknya beriman dengan cara ini. Ia yakin dengan yang ia imani, tapi pada saat yang sama ada pula orang yang yakin dengan imannya. Dengan begitu pertanyaan tentang apakah iman orang lain itu benar atau salah menjadi tak relevan. Demikian pula soal apakah penganut agama lain masuk surga atau tidak. Surga dan neraka, sebagaimana Tuhan, adalah wilayah gaib yang tak bisa kita verifikasi.

Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk menyalahkan iman atau agama orang lain. Mereka juga memiliki keyakinan yang sama pentingnya dengan apa yang kita yakini. Bila kita kurang hormat dengan agama lain atau malah menuduh yang bukan-bukan, itu sudah masuk kategori penghinaan, Allah sendiri tidak suka bila hambaNya mengolok-olok agama orang lain.
Memupuk sikap toleransi dan saling menghargai keyakinan orang lain jauh lebih penting daripada harus mengomentari agama orang atau meyalahkannya. Biarlah mereka berkeyakinan sesuai dengan hati nuraninya, umat Islam pun beriman sesuai dengan keyakinan mereka.

Dengan begitu, mudah bagi kita untuk saling memberi hormat kepada keyakinan lain yang jelas-jelas berbeda dengan kita. Karena semua agama mengajarkan kebaikan dan tidak ada yang bermaksud menyengsarakan umatnya, maka sebaiknya cara beragama kita harus lebih toleran. Dan, yang paling penting dari sikap saling menghormati agama lain adalah kita juga mencoba belajar tentang agama mereka dari sudut pandang mereka, bukan dari sudut pandang kita. Sebabnya, agama apapun, bila dilihat dari sudut pandang kita, sudah pasti salah, tidak perlu dalil untuk menyalahkannya.

Baca Juga:  Berhentilah Saling Menghujat! Jangan Tunggu Allah Kirim Musuh Besar, Baru Kalian Mau Bersatu

Tapi bila kita terus-menerus memupuk pondasi toleransi dan saling memahami keyakinan mereka, tentu kasus seperti ceramah Ustadz Abdul Somad yang baru-baru ini viral tidak akan pernah terjadi. UAS boleh jadi benar, karena ia berada dalam ruang internal umat Islam, tapi haruskah kita mengolok-olok dan merendahkan keimanan orang lain? Atau, menyakiti saudara-saudara kita yang non-muslim dengan mengatakan keyakinan mereka itu najis.

Biarlah orang lain berkeyakinan sesuai dengan kebenaran yang sampai kepadanya, begitu pun dengan kita. Bila membincangkan agama orang lain, lebih baik bicaralah yang baik-baik. Sebab mereka memiliki keyakinan yang sama berharganya dengan kita, tidak ada hak apapun bagi kita untuk merendahkan dan menyalahkan, karena mereka tidak beragama seperti apa yang kita pikirkan. Bila tidak mau memahami keyakinan sebagaimana mereka meyakininya, maka diam lebih bagus.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *