Kisah Ri’lah binti Mudhadh, Istri Nabi Ismail yang Jarang Diketahui

istri nabi ismail

Pecihitam.org – Ri’lah binti Mudhadh Al-Jurhumiyah adalah istri Nabi Ismail Alaihissalam. Ia adalah wanita dari kabilah Jurhum yang paling baik agamanya dan paling suci.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelum menikah dengna Ri’lah, Nabi Ismail mempuyai istri bernama Shada bin Sa’ad. Namun sebab akhlaknya kurang baik, maka Nabi Ibrahim As, ayah Nabi Ismail menyuruh anaknya itu menceraikan istrinya tersebut.

Nabi Ismail kemudian menikah lagi wanita bernama Ri’lah binti Mudhadh bin Amr Al-Jurhumiyah. Ismail melamar Ri’lah kepada ayahnya dan menikahkan putrinya. Ia memuji Allah Swt atas nikmat yang diberikan kepadanya, yaitu pernikahan penuh berkah dimana ia merasakan adanya keberkahan sejak hari pertama pernikahan.

Di sisi lain, Nabi Ibrahim hidup beberapa lama jauh dari Makkah. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim datang untuk mengunjungi Ismail, namun tidak bertemu dengan puntranya itu dan bertemu dengan istrinya, Ri’lah.

Ibrahim berkata, “Assalamualaikum wa Rahmatullah.”

Ri’lah menjawab, “Walaikumusalam.”

Ri’lah menyambut hangat Ibrahim dan mempersilahkan beliau masuk ke rumah. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada Ri’lah, “Mana Ismail?”

Ri’lah menjawab dengan santun, “Ia keluar ke bumi Allah untuk mencari rezki untuk kami.”

Baca Juga:  Abdurrahman al Khazini, Ilmuwan Muslim Pencetus Teori Gravitasi

Ibrahim berkata kembali kepada Ri’lah, Bagaimana keadaan kalian berdua?”

Ri’lah menjawab, “Alhamdulillah, kehidupan kami baik-baik saja. Singgahlah Bapak di sini, makan dan minumlah di rumah kami, karena kebaikan Allah itu sangat banyak.”

Ketika itulah, Ibrahim bertanya tentang makanan kepada Ri’lah, “Apa makanan kalian berdua?”

Ri’lah menjawab, “Alhamdulillah, kami makan daging dan minum susu.”

Ibrahim bertanya kepada Ri’lah, “Apakah engkau mempunyai gandum?”

Ri’lah menjawab, “Akan ada, insyaAllah, karena kami berada dalam kenikmatan.”

Ibrahim senang dengan istri Ismail kali ini. Sekarang beliau melihat istri anaknya adalah wanita mulia yang selalu memuji Allah, bersyukur, dan mengetahui kehormatan suami. Nabi Ibrahim kemudian berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, berkahilah makanan dan minuman mereka (Ismail sekeluarga).

Ibrahim menoleh ke arah istri anaknya dan berkata kepadanya, “Jika suamimu datang, sampaikan salamku untuknya dan suruh dia mempertahankan ambang pintunya, karena ambang pintunya sekarang ini bagus untuk rumahnya.”

Setelah itu, Ibrahim pulang dan ia merasa tenang dan damai atas kehidupan Ismail dan istrinya kali ini.

Baca Juga:  Cheng Ho; Misionaris Islam Pendidik Akulturasi di Indonesia

Ketika Ismail tiba dari berburu, beliau mendapati bau ayahnya. Beliau bertanya kepada istrinya, “Aku mencium bau harum. Apakah ada orang yang datang kepadamu?”

Ri’lah menjawab, “Ya. Ada orang tua yang paling tampan wajahnya paling harum aromanya, paling baik postur tubuhnya, bicaranya embut, akhlaknya mulia dan tenang, telah datang ke sini. Orang tua yang tenang tersebut bertanya tentang dirimu kemudian aku jelaskan perihal dirimu kepadanya. Ia juga bertanya tentang kehidupan kita apa saja? Aku jelaskan kepadanya bahwa kita hidup dengan kebaikan dan karunia dari Allah, kemudian ia mendoakan kebekahan untuk kita.”

Ismail bertanya kepada istriya, “Apakah orang tua itu menitipkan pesan kepadamu?”

Ri’lah menjawab, “Ya, Ia menitipkan salam untukmu dan berpesan untuk mempertahankan ambang pintumu.”

Ismail berkata denga berbinar-binar, “Orang tua tadi ayahku dan engkau ambang pintu yang beliau maksud. Ayahku menyuruhku agar selalu bersama dan mempertahanmu.”

Istri Nabi Ismail ini adalah wanita kabilah Jurhum yang paling baik agamanya dan paling suci. Ia wanita subur, kaya cinta, dan ibu anak keturunan shalihah yang dipilih Allah Azza wa Jalla.

Baca Juga:  Nuruddin Ar Raniri, Ulama yang Berpengaruh Bagi Penyebaran Islam di Aceh

Ri’lah melahirkan dua belas anak laki-laki. Mereka adalah Nabit (putra sulung yang kelak menjadi jalur silsilah Nabi Muhammad Saw), Qidar, Arbal, Mansya, Masma’, Masyi, Duma, Adar, Thaima, Yathura, Nabsya, Qaidama.

Ismail juga mempunyai anak perempuan yang bernama Nasmah. Nasmah dinikahi saudara sepupunya dari jalur ayahnya bernama Aishu bin Ishaq bin Ibrahim.

Ri’lah pun hidup dengan mulia dan sempat melihat anak-anaknya menjadi pemimpin Makkah, orang-orang kuat, dan hati mereka menyatu dengan Baitullah yang dibangun suaminya, Ismail bersama ayahnya Ibrahim.

Lukman Hakim Hidayat