Sunnah Menjelang Maghrib Atau Petang

Sunnah Menjelang Maghrib Atau Petang

PeciHitam.org – Begitu banyak hal yang terjadi pada saat senja, banyak yang percaya jika saat maghrib setan akan berkeliaran, selain itu banyak juga yang meyakini bahwa senja adalah waktu mustajab, karena itulah ada beberapa aktifitas sunnah menjelang maghrib atau petang yang bisa dikerjakan dan sayang jika tidak dilakukan.

Bagi umat Islam waktu menjelang petang dapat menjadi ladang amal tersendiri yang mana pada waktu tersebut Rasulullah SAW melakukan tindakan yang menjadi sunnah dan berpahala jika dikerjakan.

Berikut merupakan beberapa sunnah menjelang maghrib atau petang yang dapat di amalakan:

  • Sunnah untuk memasukkan anak-anak ke dalam rumah saat tiba waktu maghrib atau petang.

Para orang tua dahulu sering kali menyuruh anak-anaknya untuk masuk ke rumah menjelang magrib atu petang tiba dan banyak yang berpesan untuk segera menggendong ataupun memangku bayi hingga maghrib berlalu dan ternyata hak tersebut merupakan Sunnah Rasulullah SAW yang berpahala jika dikerjakan.

Dasar dari hal tersebut salah satunya hadits Jabir bin Abdillah ra, dan beliau menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسـيتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإنَّ الشيطَانَ يَنْتَشـر حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّهِ، فَإنَّ الشيطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَاباً مُغْلَقاً

Baca Juga:  Riya’ Adalah Bagian Dari Syirik, Benarkah ?!

Artinya; “Jika masuk awal malam -atau beliau mengatakan jika kalian memasuki waktu petang- maka tahanlah anak-anak kalian karena setan sedang berkeliaran pada saat itu, jika sudah lewat sesaat dari awal malam, bolehlah kalian lepaskan anak-anak kalian, tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup.” (HR. Al-Bukhari: 3304 dan Muslim: 2012)

Pada waktu Magrib yaitu menjelaang petang Rasulullah SAW mengatakan bahwa jin serta setan berkeliaran dan itulah mengapa sangat dianjurkan masuk ke dalam rumah pada saat magrib tiba.

Dalam hadits riwayat Muslim mengatakan:

لاَ تُرْسِلُوا فَوَاشـيكُمْ، وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ، حَتَّى تَذهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشـياطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ

Artinya: “Jangan lepaskan hewan ternak dan anak-anak kalian ketika matahari terbenam sampai berlalunya awal isya karena para setan berkeliaran antara waktu terbenamnya matahari sampai berlalunya awal isya.” (HR. Muslim: 2013)

Mungkin kita pernah tahu bahwa ada kasus bayi yang tiba-tiba menjerit ketika magrib tiba dan bahkan ada yang menggelapar dalam tidurnya karena di ganggu makhluk yang merasukinya saat dijadikan tempat berlindung.

Serta memang setan dan jin senang menjadikan anak kecil untuk tempat berlindung misalnya mereka lebih memilih popok bayi karena najis sebagai tempat persembunyian sehingga mendorongnya untuk tinggal.

  • Sunnah untuk menutup pintu-pintu di awal waktu maghrib sampai petang sambil menyebut nama Allah SWT.
Baca Juga:  Putus Asa adalah Penyakit yang Mematikan Bagi Umat Islam

Berdasarkan kutipan hadits yang artinya, “Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup” (HR. Al-Bukhari: 3304 dan Muslim: 2012)

Sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW diwaktu Magrib atau petang ialah menutup pintu-pintu di awal waktu maghrib sambil menyebut nama Allah SWT dan betapa besarnya penjagaan Islam untuk anak-anak dan rumah karena dengan menutup pintu dengan menyebut nama Allah SWT maka akan senantiasa terjaga dari gangguan setan.

  • Shalat dua rakaat sebelum shalat Maghrib.

Sunnah selanjutnya yang dianjurkan ialah shalat dua rakaat sebelum magrib dan hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani ra. bahwa Rasulullah SAW mengatakan tiga kali yang artinya, “Shalatlah sebelum shalat Maghrib” dan pada yang ketiga Beliau mengatakan, “Bagi yang mau” maksudnya ialah Beliau tidak menekankan sekali untuk dikerjakan.

Adapun dari Anas bin Malik ra, beliau mengatakan:

كُنَّا بِالْمَدِينَةِ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ، فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ، مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا

Baca Juga:  Karakter Pemimpin Tergantung Rakyatnya, Perbaiki Diri Jika Ingin Pemimpin yang Baik

“Kami pernah tinggal di Madinah, saat muadzin beradzan untuk shalat Maghrib, mereka (para sahabat senior) saling berlomba mencari tiang-tiang lalu mereka shalat dua rakaat dua rakaat sampai ada orang asing yang masuk masjid untuk shalat mengira bahwa shalat Maghrib sudah ditunaikan karena saking banyaknya yang melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib.” (HR. Muslim: 837)

  • Makruh tidur sebelum Isya’.

Sunnah selanjutnya ialah anjuran untuk tidak tidur saat magrib atau sebelum Isya dan hal ini berdasarkan hadits Abu Barzah Al-Aslami ra, yang mana beliau mengatakan:

أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ، قَالَ: وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Artinya: “Bahwasannya Nabi SAW suka untuk mengakhirkan waktu Isya’, membenci tidur sebelumnya dan membenci bincang-bincang setelah Isya’.” (HR. Al-Bukhari: 599 dan Muslim: 647)

Berdasarkan hal tersebut maka alasan dibencinya tidur sewaktu Maghrib dan sebelum Isya’ yaitu karena Nabi Muhammad SAW tidak ingin umatnya lalai karena tidur pada saat-saat tersebut dapat menyebabkan luputnya melaksanakan ibadah shalat.

Demikianlah beberapa sunnah menjelang maghrib atau petang yang dapat di amalakan sehingga dengan melaksanakannya dapat mencerminkan sebagai Umat Rasulullah SAW yang senantiasa melaksanakan Sunnah serta mendapat pahala dari Allah SWT.

Mochamad Ari Irawan

Author at Pecihitam.org
Alumni Pondok Pesantren Qomaruddin | Sarjana Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prodi Perbandingan Madzhab.
Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG