Bahaya Ujub Yang Jarang Orang Sadari

Bahaya Ujub Yang Jarang Orang Sadari

PeciHitam.org – Bahaya ujub begitu besar, namun sebelumnya perlu diketahui bahwa Ujub ialah merasakan kelebihan pada dirinya tanpa melihat siapa yang memberikan kelebihan tersebut dan termasuk penyakit hati yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penyakit tersebut jika nampak atsar atau pengaruhnya kepada lahiriah seseorang maka yang nampak disebut dengan kibr atau khuyala’ (kesombongan) dan sebab munculnya kesombongan ialah karena adanya ujub pada hati, Ujub merupakan salah satu penyakit hati di samping hasad atau dengki, kibr atau sombong, riya’, dan mahabbatuts tsanaa’ atau mencintai sanjungan.

Ujub termasuk hukumnya haram dan termasuk dalam dosa besar, sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.  Luqman 31:18)

Bahkan sebagian ulama ada yang menggolongkan ujub ke dalam bagian syirik yang dapat menghapuskan amalan, Imam Nawawi berkata yang artinya:

“Ketahuilah, bahwa ikhlas terkadang dihinggapi penyakit ujub, siapa saja yang merasa ujub karena amal yang dilakukannya, maka akan hapuslah amalnya…dan seterusnya.”

Di antara sebab timbulnya ujub ialah karena lemahnya keyakinan dan kurangnya meminta pertolongan kepada Allah SWT, tidak menyadari bahwa hati mudah berbalik, lupa terhadap dirinya yang memiliki kekurangan dan kelemahan, mengabaikan kandungan Al-Qur’an dan pelajaran yang ada di dalamnya.

Baca Juga:  4 Golongan yang Tidak Mendapat Pahala, Rahmat dan Ampunan Lailatul Qadar

Sebab yang lainnya yaitu tidak bersyukur terhadap nikmat Allah SWT yang begitu banyak, merasa aman dari makar Allah SWT, mengabaikan hakikat dunia, mengabaikan hakikat kehidupan yang sementara, melebihkan kecerdasan akal dan pengalamannya yang kurang, menutup mata dari apa yang akan terjadi di balik sesuatu serta memungkiri sejarah orang terdahulu yang telah binasa.

Adapun di antaranya sebab yang dapat memunculkan ujub yang mana sering terjadiyaitu berasal dari mendapatkan pujian dan sanjungan berlebihan.

Sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika dipuji oleh orang lain beliau bertawadhu’ dan berkata:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا لاَيَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka kira, ampunilah kesalahanku yang mereka tidak mengetahuinya dan janganlah Engkau hukum diriku karena ucapan mereka.” (Lihat: Tarikhul khulafa’: 117)

Contoh dari bahaya ujub, dalam Al-Quran dikisahkan tentang Qarun, dimana Allah SWT memberikan kepadanya harta yang melimpah dimana kunci hartanya saja begitu berat sampai perlu dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Lihat: Al-Qashsash 76-83)

Allah SWT berfirman:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Artinya: “Dan apakah ia (yakni Qarun) tidak mengetahui, bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta?” (QS. Al Qashshas, 28:78)

Qarun merupakan salah satu manusia yang terjangkit penyakit ujub dan sombong, diceritakan suatu ketika Qarun keluar dalam dengan iringan lengkap para pengawalnya untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya, kemudian Allah SWT benamkan Qarun dan segala harta bendanya ke dalam bumi akibat ujub dan kesombongannya.

Baca Juga:  Beberapa Keistimewaan Hari Jumat Menurut Para Ulama

Contoh lain dari ujub yaitu diceritakan dalam hadis riwayat Abu Dawud, bahwa ada dua orang bersaudara di zaman bani Israil yang mana satu mengerjakan dosa, sedangkan yang satu lagi rajin beribadah.

Orang yang rajin beribadah tersebut senantiasa memperhatikan saudaranya yang mengerjakan dosa sambil berkata: “Berhentilah melakukan dosa!”,

Dan suatu ketika orang yang rajin beribadah ini memergoki saudaranya sedang mengerjakan dosa, lalu berkata: “Berhentilah melakukan dosa!” namun saudaranya balik menjawab: “Demi Tuhanku, biarkanlah diriku dan memangnya kamu dikirim untuk mengawasiku?”,

Orang yang rajin beribadah tersebut berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga,” selanjutnya Allah SWT mencabut nyawa keduanya dan mengumpulkan keduanya,

Kemudian Allah SWT berfirman kepada orang yang rajin beribadah: “Apakah kamu mengetahui Diriku atau berkuasa terhadap apa yang Aku lakukan dengan Tangan-Ku?”, dan Allah SWT berfirman kepada orang yang mengerjakan dosa: “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku”, sedangkan kepada orang satunya yang rajin beribadah: “Bawalah dia ke neraka.”

Abu Hurairah ra, yang meriwayatkan hadis tersebut berkata yang artinya, “Demi Allah yang diriku di Tangan-Nya, ia telah mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya binasa dunia dan akhirat.”

Baca Juga:  Pentingnya Dakwah di Media Sosial Pada Era Digital, Nahdliyin Harus Paham!

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ اَهْلَكَهُمْ

Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan ‘Orang-orang telah binasa’, maka sebenarnya kata-kata itu telah membinasakannya.” (HR. Muslim)

Menerangkan hadits di atas Imam Malik berkata yang artinya:

“Apabila dia mengucapkannya karena melihat keadaan orangnya yaitu agamanya (yang kurang), saya kira hal yang demikian tidak mengapa, namun apabila dia mengucapkannya karena merasa ujub dengan dirinya dan merendahkan manusia lain maka hal yang demikian dibenci dan dilarang.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ تَعَاظَمَ فِي نَفْسِهِ, وَاخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ, لَقِيَ اَللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

Artinya: “Barangsiapa menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (HR. Hakim)

Dalam hadits tersebut maksud dari menganggap besar dirinya ialah merasa dirinya sebagai orang besar dan pantas untuk dimuliakan dibandingkan yang lain.

Dari penjelasaan-penjelasan di atas dapat diketahui bahwa bahaya ujub yaitu menghalangi seseorang dari mencapai kesempurnaan, ujub juga dapat menjadi sebab seseorang binasa di dunia dan akhirat, dimana banyak kenikmatan yang berubah menjadi siksaan, kekuatan berubah menjadi kelemahan, kemulian berubah menjadi kehinaan akibat ujub.

Selain itu bahaya ujub yang lain ialah dapat menutupi kebaikan pada seseorang dan dapat menampakkan keburukan atau mendatangkan celaan, ujub menjadi sebab mendapatkan kekalahan bagi seseorang dan mendapatkan kebencian dari orang lain, bahkan dapat menjadi penyebab turunnya murka Allah SWT serta dapat menghapuskan amal shalih.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *