Syekh Hasanuddin Quro, Penyebar Islam Pertama di Karawang

syekh qura

Pecihitam.org – Syekh Hasanuddin Quro merupakan sosok penyebar Islam pertama di wilayah Jawa Barat, khususnya kabupaten Karawang. Lokasi makamnya terletak di Dusun Pulobata, Desa Pulokelapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang. Diperkirakan bahwa Syekh Hasanuddin Quro tiba di Karawang pada tahun 1417 M.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut Agus Sunyoto (2017) dengan mengutip naskah Negarakertabhumi Sarga III dan IV bahwa Syekh Hasanuddin Quro merupakan seorang putra dari Syaikh Siddik asal Negeri Champa, Vietnam. Syaikh Hasanuddin datang dengan menumpang kapal Cina yang dikomandoi oleh Panglima Besar Wai-ping dan Laksamana Cheng Ho.

Armada Cina tersebut kemudian tiba di Pelabuhan Karawang pada tahun 1417 M. Saat itulah Syaikh Hasanuddin Quro turun di sana. Kemudian, kapal armada Cina tersebut melanjutkan perjalanannya ke Pelabuhan Bandar Muara Jati, Cirebon.

Kemudian, Syekh Hasanuddin Quro setelah sampai di Karawang, ia menikah dengan seorang puteri bangsawan di sana. Putri bangsawan tersebut bernama Nay Retna Parwati. Kemudian, setelah mereka berdua menikah lantas mendirikan pesantren pada tahun 1418 M.

Pesantren tersebut kemudian menjadi tempat penting dalam penyebaran Islam di Karawang. Syekh Hasanuddin Quro melakukan dakwah melalui jalur kebudayaan yang simpatik. Ia memanfaatkan kemerduan suaranya dalam membaca al-Qur’an untuk menarik hati masyarakat Karawang untuk masuk Islam.

Baca Juga:  Ustadz Wahabi Ini Ngalap Berkah Dari Saluran Air Ka'bah

Dikisahkan bahwa banyak penduduk dengan sukarela masuk Islam setelah terpana dengan suara merdu Syekh Hasanuddin Quro tersebut. Dari keahliannya dalam membaca al-Qur’an tersebutlah gelar “Quro” diberikan kepadanya. Gelar tersebut memiliki makna sebagai orang yang ahli membaca al-Qur’an.

Lokasi tinggal Syekh Hasanuddin merupakan daerah pesisir dekat Pelabuhan Karawang. Pelabuhan tersebut memiliki posisi yang strategis bagi kerajaan yang saat itu masih berkuasa, yakni Kerajaan Padjajaran. Pelabuhan Karawang tersebut menjadi jalur utama untuk perdagangan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta atau Batavia (Jakarta).

Selain itu, Pelabuhan Karawang juga menghubungkan jalur darat antara pusat Kerajaan Padjajaran dengan wilayah-wilayah penting kerajaan lainnya. Menurut Agus Sunyoto (2017) dengan mengutip Moh. Amir Sutaarga dalam karyanya Prabu Siliwangi bahwa Pelabuhan Karawang tersebut merupakan jalur darat yang menghubungkan pusat kerajaan dengan Purwakarta, Cileungsi, Sumedang, hingga Ciamis.

Dengan kata lain, daerah Pelabuhan Karawang tersebut merupakan tempat strategis jalur perdagangan dan kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Lantas, usaha penyebaran Islam yang dilakukan oleh Syaikh Hasanuddin Quro tersebut membuat Kerajaan Padjajaran yang saat itu dipimpin Prabu Anggalarang menjadi khawatir.

Baca Juga:  Hatim Al-Asham, Seorang Wali yang Pura-pura Tuli demi Seorang Wanita

Kekhawatiran Prabu Anggalarang adalah karena jika Syaikh Hasanuddin Quro dibiarkan berdakwah di sana akan menganggu kekuasaan kerajaan saat itu. Karena, lokasi penyebaran Islam SYaikh Hasanuddin Quro tersebut merupakan tempat yang strategis. Dikakutkan akan cepat menyebar di wilayah lain kerajaan.

Lantas, kemudian Prabu Anggalarang meminta Syaikh Hasanuddin Quro untukmenghentikan dakwahnya di Karawang. Kemudian, Syaikh Hasanuddin diminta oleh sang Prabu untuk pindah ke Malaka. Karena saat itu Malaka sudah dikenal sebagai wilayah yang mana Islam sudah tersebar massif.

Namun, setelah tak lama Syaikh Hasanuddin Quro pindah ke Malaka, ia kembali lagi ke Karawang. Ketika kembali tersebut, ia kemudian mendirikan sebuah langgar atau mushola. Dan syahdan, banyak penduduk di kawasan tersebut yang masuk Islam. Kemudian, perkembangan tersebut membuat Prabu Anggalarang marah kembali.

Prabu Anggalarang kemudian memerintahkan putra mahkota, Raden Pamanah Rasa untuk membereskan Syaikh Hasanuddin Quro. Namun, naasnya bahwa ketika Raden Pamanah Rasa datang ke tempat Syaikh Hasanuddin Quro malah justru membuatnya jatuh cinta kepada Nyi Subanglarang, putrid dari Syaikh Hasanuddin Quro.

Kemudian, setelah sang putra mahkota tersebut jatuh cinta, lantas ia dinikahkan dengan Nyi Subanglarang tersebut. Dengan demikan, langgar tempat Syaikh Hasanuddin Quro tidak jadi ditutup dan Islam terus berkembang. Bahkan memiliki hubungan yang baik dengan kekuasaan.

Baca Juga:  Tujuh Fuqaha Madinah pada Masa Tabiin, Siapakah Mereka?

Kemudian, pernikahan Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subanglarang tersebut melahirkan beberapa keturunan. Antara lain adalah Pangeran Walangsungsang, Nyi Larasantang, dan Kian Santang.

Keturunan tersebut kemudian menjadi tokoh besar dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Dan yang paling terkenal adalah Kian Santang. Dan dari Nyi Larangsantang, melahirkan putera bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati.

Kemudian, putra lain dari Syaikh Hasanuddin Quro, bernama Syaikh Bentong menikah dengan puteri dari Cina bernama Siu The Yo. Dan dari pernikahan tersebutlah melahirkan Prabu Brawijaya V, penguasa Majapahit. Dan Prabu Brawijaya V melahirkan putera bernama Raden Patah yang kemudian mendirikan Kerajaan Demak Islam.

Demikianlah kisah Syekh Hasanuddin Quro yang menyebarkan Islam di Karawang. Dari beliaulah kemudian Islam berkembang dengan cepat di daerah Jawa Barat sebelum era Wali Songo. Wallahua’lam.