Syekh Jumadil Kubro, Nenek Moyang Wali Songo di Nusantara

syekh jumadil kubro

Pecihitam.org – Persebaran Islam di tanah Jawa kita ketahui bersama dalam sejarah telah mengalami pasang surut terutama pada awal abad ke-13. Hal tersebut dapat kita lihat ketika Syekh Subakir berhasil menaklukan masyarakat animisme dan dinasmisme di tanah Jawa dan kemudian kembali ke Istambul daerah asalnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kembalinya Syekh Subakir ketanah kelahiranya membuat masyarakat Jawa menjadi kebingungan perihal ajaran Islam. Kemudian tidak begitu lama ketika Syekh Subakir pulang, Syekh Jumadil Kubro datang dan melanjutkan perjuangan dakwa Islam.

Syekh Jumadil Kubro adalah sosok ulama yang berasal dari Uzbekistan. Ia bersama keluarganya menyebarkan dakwah Islam di bumi Nusantara pada awal abad ke-14. Keluarganya terdiri dari kakek, anak dan cucu.

Keluarga  Syekh Jumadil Kubro adalah keluarga yang ‘alim dalam bidang agama Islam. Kakeknya, Syekh Jumadil Kubro alias Syekh Najmuddin Kubro atau Syekh Jamaluddin Akbar al-Huseini datang terlebih dahulu untuk berdakwah di Nusantara.

Kemudian, disusul putranya yang bernama Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim As-Samarqandi menyusul ke Jawa setelah mengislamkan Raja Champa dan menikahi putrinya. Langkah ini diikuti oleh adiknya, Syekh Maulana Ishaq yang juga berhasil melakukan Islamisasi terbatas di Blambangan (Banyuwangi).

Baca Juga:  Bilal bin Rabah, Budak Bersuara Merdu yang Menjadi Muadzdzin Rasulullah

Hasil pernikahan antara Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim As-Samarqandi dengan putri dari kerajaan Campa melahirkan sosok ulama yang sangat karismatik dizamannya yaitu Raden Ali Rahmatullah atau biasa kita sebut dengan nama Sunan Ampel dan Ali Murtadho atau Raden Santri.

Kedua putra dari Syekh Ibrahim Zainul Akbar alias Syekh Ibrahim AsSamarqandi mengikuti jejak ayah dan kakeknya mejadi seorang pendakwah Islam di Jawa.

Dalam sebuah riwayat, Syekh Ibrahim As-Samarqandi merupakan putra dari Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini, yang dianggap sebagai peletak dasar dakwah Walisongo. Dalam versi referensi lokal, Babad Cirebon, sebagaimana dikutip Agus Sunyoto, ayah Syekh Ibrahim as-Samarkandi disebut bernama Syekh Karnen berasal dari negeri Tulen atau Saat ini pulau ini termasuk bagian dari Republik Daghestan.

Jika kita melihat buku atau kitab sejarah diatas, maka pada generasi Raden Ali Rahamatullah (Sunan Ampel) inilah yang mendominasi peran ajaran Islam dan Islamisasi di kawasan Nusantara. Peran Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam tentu membutuhkan banyak tenaga.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok Sunan Kalijogo, Sang Wali Tanah Jawa

Oleh sebab itu, Sunan Bonang mendidik beberapa orang khususnya para pemuda untuk menjadi seorang pendakwah. Setelah dibimbing oleh Sunan Bonang maka mereka para pendakwah Islam menyebar dibeberapa daerah khususnya di Nusantara bagian Timur.

Dakwah yang dilakukan oleh Syekh Ibrahim As-Samarqandi dimulai dari wilayah pesisir. Di wilayah pesisir inilah ia membuat suatu kampung yang beragama Islam. Perkembangan dakwahnya tersebut sampai pada beberapa daerah pesisir seperti Tuban, Lamongan, Gresik hingga Surabaya.

Perkembangan Islam tersebut mengalami kemajuan, hingga pada akhirnya para wali mengajari masyarakat tentang relasi tarekat dan pesantren tidak bisa dipisahkan. Pesantren yang mempunyai arti tempat tinggal dan tarekat yaitu ajaran tasawuf atau ritus ruhaniah. Salah satu tarekat yang berasal dari daerah Uzbekistan adalah tarekat Naqsabandiyah.

Ritus ruhaniyah atau tarekat tersebut dipimpin langsung oleh seorang mursyid. Pada waktu itu, seorang mursyid kebanyakan adalah seorang ulama sekaligus pengasuh pesantren. Oleh sebab itu, relasi antara pesantren dengan dunia tasawuf tidak bisa dipisahkan.

Dengan demikian, peran sosok Syekh Jumadil Kubro dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa mulai mengalami kemajuan. Hingga pada Syekh Ibrahim As-Samarqandi dan pada puncaknya di lanjutkan dan dipimpin oleh Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dan munculnya wali songo.

Baca Juga:  Sekilas Mengenali Asal-Usul dan Nasab Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Napak tilas perjuangan Sunan Ampel dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa mengalami banyak sekali rintangan. Namun Sunan Ampel dengan gaya dakwah kultral dan tidak menyinggung tradisi masyarakat Jawa yang masih menganut agama Hindu dan Budha.

Akhirnya ajaran Islam pun dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. Selain itu, peran spiritual, tasawuf atau tarekat menjadi penting dalam mengemban masyarakat yang lebih baik lagi.

M. Dani Habibi, M. Ag