Tiga Paket Komplit Visi Pemikiran yang Menjadi Warisan Gus Dur

Tiga Paket Komplit Visi Pemikiran yang Menjadi Warisan Gus Dur

Pecihitam.org – Saya tidak memiliki interaksi spesial langsung dengan Gus Dur. Tidak seperti Kyai, aktivis, akademisi, politikus atau aristokrat yang punya banyak interaksi spesial dan cerita menarik ihwal kedekatannya dengan Gus Dur. Saya hanya santri biasa, dan seperti pada umumnya santri yang mengidolakan Gus Dur, saya pun demikian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kalau tidak salah ingat, sekitar tahun 96/97 Gus Dur pernah hadir di salah satu pesantren besar di Ponorogo. Kebetulan kampung kelahiran saya dekat dengan pesantren tersebut. Jaraknya kira kira dua pelemparan batu segenggaman.

Waktu itu teknologi informasi belum secanggih sekarang. Alat komunikasi masih jarang, kalaupun ada yang punya biasanya pesawat telepon rumahan, itupun sekampung cuma ada satu dua orang. HP bisa jadi belum ada yang punya. Jadi bisa dibayangkan komunikasi dan arus informasi tak semassif sekarang.

Meskipun begitu seruak atmosfer dan gegap gempita kehadiran Gus Dur menyelimuti orang orang sekampung saya, dan mungkin juga kampung kampung tetangga pesantren.

Waktu itu karena saking ramainya situasi, orang tua saya melarang saya ikut hadir ke pesantren tersebut. Namun ketika iring iringan Gus Dur tiba, sejurus kemudian saya sudah ada di tengah tengah hamparan manusia pengagumnya.

Waktu itu saya merasakan betapa ia begitu dielu elukan masyarakat, bahkan diidolakan oleh anak anak seusia saya, termasuk saya. Saya sendiri tidak tahu persis mengapa mengelu-elukan Gus Dur, mungkin karena banyak yang mengidolakannya, saya pun ikut ikutan mengidolakan. maklum waktu itu masih usia SD.

Satu hal yang saya rasakan begitu lekat dengan sosok Gus Dur. Ia sangat dicintai masyarakat arus bawah. Hal tersebut tentu tak begitu mengherankan karena selain dikenal sebagai Presiden, sepanjang hidupnya Gus Dur juga dikenal sebagai kyai, akademisi, politikus, penulis, budayawan, kritikus, aktivis HAM, pejuang kepentingan minoritas, dan mungkin sekarang di mata sebagian komika Gus Dur juga seorang komikus ulung karena Ia, selain humanis juga sangat humoris.

Baca Juga:  Membaca Kembali Gagasan Pribumisasi Islam Gus Dur

Berbagai lontaran pemikirannya, percikan karya karya bernasnya, pandangan kritisnya dan joke joke segarnya bisa dengan mudah kita temukan di mana mana. Sehingga tak mengherankan bila ia dikenal tidak hanya oleh kalangan luas akan tetapi juga lintas kalangan, etnis dan identitas.

Namun jika kita perhatikan dengan seksama, lontaran sikap, nilai dan pemikiran Gus Dur yang beliau sampaikan dalam berbagai karya, event dan kesempatan selalu tak pernah lepas dari tiga hal; keIslaman, keIndonesiaan dan kemanusiaan.

Tiga hal tersebut seolah menjadi paket lengkap yang mencirikan seorang Gus Dur dan menjadi satu tarikan nafas konsep besar gerakan yang diusungnya.

Dikarena Gus Dur selalu mengkombinasikan tiga motor gerakan di atas, bagi sebagian besar dari kita yang terbiasa bertindak dengan satu atau dua motor gerakan saja maka akan sulit memahami apa yang dilakukan oleh Gus Dur, bahkan bisa jadi kalangan NU sendiri pun terkadang tertatih tatih memahami pemikiran dan sepak terjangnya.

Misalnya ketika Gus Dur mengambil sikap yang berbeda dengan pemerintah soal pornografi dan pornoaksi. Saya masih ingat betul bagaimana kontroversi tersebut menyita perhatian publik dan membuat banyak kalangan salah fokus dengan pandangan Gus Dur.

Namun sekali lagi argumentasi Gus Dur yang menukil kitab Raudlatul Mu’aththar (salah satu kitab yang populer dalam kesenyapan di kalangan pesantren sebagai kitab yang membahas mengenai tata cara berhubungan suami istri) menunjukkan bagaimana sikapnya tidak asal asalan tetapi selalu didasarkan pada basis argumentasi keilmuan yang mendalam.

Baca Juga:  Pentingnya Dakwah dan Peranan Santri di Era Digital

Contoh lain dari sikap Gus Dur yang banyak mendapatkan reaksi negatif misalnya ketika Gus Dur meminta maaf kepada rakyat Timor Timur atas tragedi di Santa Cruz.

Peristiwa yang diakui sebagai salah satu bagian dari genosida tersebut selain memakan banyak korban juga menimbulkan ketegangan politik yang sebelumnya terjadi antara Indonesia dengan Timor Timur.

Sebagian dari kita mungkin kecewa dan kesal atas lepasnya wilayah tersebut dari Indonesia, akan tetapi Gus Dur telah melampaui kita. Ia mengambil sikap ksatria dengan meminta maaf agar di kemudian hari tak terjadi dendam tak berkesudahan antar sesama anak manusia, meskipun sikapnya tersebut malah dianggap bahwa Gus Du seolah-olah setuju atas lepasnya Timor Timur dari Indonesia.

Sikap dan kebijakan Gus Dur yang juga kontroversial misalnya pembelaannya terhadap kaum Tionghoa atas kebijakan diskriminatif pemerintah sebelumnya yang melarang perayaan Imlek secara terbuka.

Kebijakan Gus Dur mencabut inpres nomor 14 tahun 1967 dan diterbitkannya Keppres Nomor 6 tahun 2000 menjadi kebijakan tak populernya dan sempat menyisakan kontroversi di tengah masyarakat.

Tetapi itulah Gus Dur dengan visi kemanusiaannya yang berpandangan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, manusia tertindas dan minoritaslah yang perlu dibela.

Tiga paket visi pemikiran Gus Dur juga tersaji misalnya melalui antologi esai dan artikelnya dalam buku berjudul “Islamku Islam Anda Islam Kita” terbitan The Wahid Institute.

Antologi yang pengerjaannya oleh Gus Dur dipercayakan kepada Dr. M. Syafi’i Anwar, seorang kader Muhammadiyah (Mungkin dipercayanya kader Muhammadiyah ini menjadi salah satu contoh manuver Gus Dur yang bahkan membuat orang NU sendiri salah fokus) tersebut berisi monumen warisan visi pemikiran dan gerakan Gus Dur dan pandangan strategisnya dalam problematika seputar agama masyarakat negara demokrasi.

Baca Juga:  Dari Cak Nur ke Gus Dur, Pengalaman Mengenal Sang Guru Bangsa

Beliau dengan fundamen kedalaman wawasannya menulis berbagai topik mulai dari yang bersifat ideologis (Islam Dalam Diskursus Ideologi, Kultural dan Gerakan), maupun yang berifat sosial kemanusiaan (Islam, Keadilan dan Hak Asasi Manusia) sampai topik topik yang berhubungan dengan Islam dalam konteks Negara Bangsa dan isu perdamaian Internasional, bahkan Gus Dur juga menyinggung mengenai hubungan Islam dan Ekonomi Kerakyatan.

Sekali lagi, konsep besar gerakan Gus Dur selalu tak pernah lepas dari trilogi visi strategisnya yakni keIslaman, keIndonesiaan dan kemanusiaan. KeIslaman menjadi ruh konseptualnya, Keindonesiaan menjadi pijakan indigenousitasnya, sementara kemanusiaan menjadi visi gerakannya.

Sebenarnya di samping tiga warisan tersebut di atas ada satu lagi warisan Gus Dur yang tak kalah penting, yakni humor segarnya yang membuatnya seolah masih hidup di tengah kita meski sebenarnya Ia telah tiada.

Muhammad Muchlish Huda