Kisah Aisyah Istri Rasulullah SAW Di Fitnah Telah Berzina

Kisah Aisyah ra

Pecihitam.org– Aisyah rodhiyallahu anha adalah salah satu istri nabi Muhammad saw, beliau adalah Ummul Mu’munin yang cerdas dan bijaksana, Nabi menikahinya ketika beliau berusia 6 tahun, dan menggaulinya di usia 9 tahun. Pada suatu ketika, Aisyah seorang Ummul Mukminin mengalami fitnah yang luar biasa dan dalam jangka waktu yang cukup panjang hingga membuat beliau sakit. Dan inilah pemaparan tentang kisah Aisyah dan terjadinya fitnah yang menimpanya.

Kisah Aisyah ini dikutip dari riwayat Bukhori dalam kitab Shohih nya bab Haditsul Ifki hadist no 3826, riwayat Aisyah ra, yaitu ‘ketika Rasulullah saw hendak melakukan perjalanan beliau biasa mengundi isteri-isteri beliau, jika nama seorang dari mereka yang keluar, berarti dia ikut bepergian bersama beliau. Pada suatu hari beliau mengundi nama-nama isterinya untuk suatu peperangan yang beliau lakukan. Maka keluar nama Aisyah ra, hingga beliau (Aisyah) ikut serta bersama Ralullah saw, dan kejadian ini terjadi setelah turun ayat hijab.

Aisyah dibawa di dalam sekedup (tempat duduk dari kayu yang di pasang di punggung onta) dan ditempatkan didalamnya. Kemudian mereka berangkat, setelah Rasulullah saw selesai melakukan peperangan tersebut, beliau pulang bersama Aisyah dan rombongannya, tatkala hampir sampai Madinah, Rasul mengumumkan untuk beristirahat malam. Maka Aisyah keluar dari sekedup saat Rasul dan rombongan berhenti, dan berjalan hingga meninggalkan pasukan.

Baca Juga:  Gus Dur: Indonesia Akan Mengalami Masa Sulit dan Gonjang-ganjing Sampai 2030

Setelah Aisyah ra selesai menunaikan keperluannya, Aisyah ra kembali menuju rombongan, betapa terkejutnya ketika Aisyah ra meraba dadanya ternyata kalung yang terbuat dari negeri Zhafar terjatuh. Maka beliau (Aisyah) kembali untuk mencari kalungnya, ternyata orang-orang yang membawa sekedup tersebut mengira bahwa Aisyah telah berasa di dalamnya.

Dalam riwayat tersebut disebutkan “memang pada masa itu para wanita berbadan ringan dan tidak terlalu berat karena kebayakan dari mereka hanya memakan sesuap makanan, oleh karena itu mereka tidak curiga dengan ringannya sekedup tersebut”.

Ketika Aisyah ra sudah menemukan kalungnya pasukan telah berlalu pergi, kemudian  Aisyah ra mendatangi tempat dimana rombongan berhenti disitu, namun tidak seorang pun yang tertinggal. Lalu Aisyah ra kembali ke tempat semula dengan harapan mereka merasa kehilangan lalu kembali ke tempat tersebut. Ketika Aisyah ra duduk, beliau terserang kantuk hingga akhirnya tertidur.

Ketika itu Shafwan ibn al-Mu’aththal as-Sulami adz-Dzakwan datang menyusul dari belakang pasukan, kemudian menghampiri tempat tersebut dan beliau (Shafwan) melihat ada bayangan hitam seperti orang yang sedang tidur. Ternyata Shafwan mengenali Aisyah, karena beliau pernah melihat ibunda Aisyah sebelum turun ayat hijab.

Baca Juga:  Benarkah Penulisan Sejarah Terbentuk atas Kepentingan Politik Semata?

Dengan kaget Shafwan mengucapkan kalimat istirja’  dan sontak Aisyah terbangun, lalu Aisyah langsung menutup mukanya dengan jilbabnya. Aisyah berkata: “Demi Allah kami tidak bicara sepatah katapun dan aku juga tidak mendengar sepatah katapun darinya kecuali hanya kalimat istirja’nya”.

Kemudian Shafwan menghentikan hewan tunggangannya dan merundukkan hingga berlutut, lalu Aisyah menghampiri tunggangannya dan menaikinya. Shafwan berjalan dan menuntun tunggagan yang dinaiki ibunda Aisyah hingga mereka dapat menyusul pasukan setelah berhenti ditepian sungai Azh Zhahirah untuk singgah di tengah panasnya siang.

Setelah kejadian itu tersebarlah berita bohong (fitnah) bahwa Aisyah telah berzina dengan Shafwan, dan diantara penyebar berita bohong tersebut adalah Abdullah ibn Ubay ibn Salul, bahkan dalam riwayat Urwah beliau mengatakan bahwa “ Abdullah ibn Ubay menceritakan berita bohong tersebut dan menambah-nambahinya”, beliau juga menyebutkan bahwa orang-orang yang terlibat menyebarkan berita bohong ini adalah Hasan ibn Tsabit, Misthah ibn Utsatsah dan Hamnah binti Jahsyi”.  (lihat di Shohih al Bukhori bab hadis Ifki no. 3826).

Setelah berita tersebut sampai pada telinga Aisyah beliau pingsan dan jatuh sakit, namun Nabi SAW tidak sanggup mengahadapi fitnah yang menyebar luas di masyarakat, begitu juga Aisyah beliau sangat terpukul, apalagi kemudian sikap Rasul berubah kepadanya, beliau (Aisyah) terus menangis hingga ia merasa air matanya telah kering. Setelah sebulan lebih tersebarnya fitnah tersebut rumah tangga Nabi dan Aisyah tertanggu

Baca Juga:  Biografi Singkat Ibnu Khaldun, Sejarawan Islam dari Tunisia

Dalam kitab an-Nabul Adhim, karya Dr. Muhammad Abdullah Daraz menjelaskan hikmah yang sangat agung mengenai kisah terjadinya fitnah yang menimpa ibunda Aisyah dan kesabaran Nabi Muhammad Saw.

Sebagai Rasul Allah jika hanya ingin membela istrinya Aisyah bisa saja Nabi Muhammad sejak awal berkata bahwa Allah telah menurunkan wahyu membela Aisyah agar terbebas dari fitnah. Tetapi sebagai nabi beliau tidak mungkin bohong. Beliau tetap bersabar dan meyakini akan hadirnya pertolongan Allah SWT. Sampai akhirnya Allah menurunkan surat an-Nur ayat 11 sampai 21, maka dengan turunnya wahyu ini Aisyah terbebas dari fitnah tersebut. Wallahu’alam.

Nur Faricha
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *