Timbuktu, Kota yang Pernah Menjadi Pusat Pendidikan Islam

Timbuktu, Kota yang Pernah Menjadi Pusat Pendidikan Islam

PeciHitam.org Timbuktu bagi sebagian orang bahkan bagi umat muslim sendiri masih asing terdengar. Kota “tersobek dari sejarah” ini terletak di negara Mali kawasan gurun Sahara Afrika Barat.

Julukan kota yang tersobek dari peradaban karena kota tersebut cenderung terlupakan, walaupun pernah menjadi kota perdaban yang hebat pada zamannya. Kota ini merupakan kota peradaban atau lebih tepat kota pendidikan dengan segudang karya fantastis.

Jika ada pertanyaan kemanakah umat muslim belajar pada rentang waktu abad 14-16 M, maka jawabannya akan merujuk pada Timbuktu. Karena di kota ini Universitas Sankore berada, pusat keilmuan dunia islam abad pertengahan. Kota ini merupakan kota multikultural dengan ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia Islam.

Mereka belajar ilmu bahasa astronomi, filsafat dan keilmuan lain. Karya-karya dalam bentuk manuskrip jumlahnya jutaan berasal dari timbuktu. Inilah pusat Peradaban Islam di Afrika tengah yang terlupakan ditimbun konflik dan perang saudara.

Dimanakah Timbuktu?

Timbuktu, sangat asing ditelinga Umat Islam era modern sekarang ini. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Timbuktu pernah menjadi Kota Pendidikan abad 14 – 16 M yang berada di negara Mali. Timbuktu didirikan oleh suku Tuareg pada awal abad 10 Masehi.

Menelisik nama Timbuktu secara etimologi berasal dari kata ‘Tin’ dimana berarti ‘Tempat. Sedangkan kata ‘Buktu’, nama dari wanita tua Mali yang diketahui karena kelurusan hatinya dan kejujurannya. Ketika suku Tuareg bepergian ke luar daerah maka barang-barangnya akan dititipkan kepada wanita jujur ini.

Ketika para pembesar suku Tuareg dalam perjalanan mereka akan ditanya oleh sesama saudagar lainnya tentang tempat mereka menitipkan barang-barangnya. Mereka akan menjawab Saya meninggalkannya di Tin Buktu’. Maka bisa dikatakan nama Timbuktu atau Tin-Buktu adalah ‘Tempat wanita bernama Buktu tinggal’.

Dua suku kata berhubungan ini akhirnya bergabung menjadi 1 kata, dan memberikan kota ini nama Tinbuktu yang nantinya menjadi Timbuktu. Namun, orang Perancis yang bernama Rene Basset memberikan teori yang lebih masuk akal: Pada bahasa Berber, “buqt” berarti “sangat jauh”, karena itu, “Tin-Buqt(u)” berarti tempat yang merupakan ujung dunia, karena itu orang menggambarkan dirinya pergi ke ujung dunia dengan pergi ke Timbuktu.

Baca Juga:  Perang Kedongdong, Sejarah Perjuangan Rakyat dan Para Santri Cirebon

Mula-mula kota ini dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani dan Moor. Secara geografis Timbuktu berada 15 Kilometer dari Sungai Niger yang berada dalam jalur Trans Sahara.

Jalur ini tidak ubahnya seperti Jalur Sutranya Afrika, yang menghubungkan Afrika Utara dan Selatan dan Timur ke Barat. Perkembangan perdagangan di Trans Sahara tidak terlepas dari Komoditas Garam dari Taoudenni.

Kota Taoudenni adalah kota kecil pusat penambangan Garam di Tengah Gurun Mali yang menjadi Komoditas mahal pada masa lampau. Berharganya Garam di Afrika pada abad pertengahan bisa sejajarkan dengan harga emas karena langkanya. Timbuktu juga berkembang menjadi kota Perdagangan komoditas emas, gading, budak.

Dalam konteks ekonomi, Timbuktu sangat strategis menjadikan kota ini menjadi pusat ekonomi di Afrika Tengah. Maka tidak heran banyak pedagang datang dan meramaikan Timbuktu menjadi sebuah daerah ekonomi di Trans Sahara. Kesejahteraan di Timbuktu menjadikan penguasa local bisa mengembangkan Peradaban besar ditengah gurun Sahara tersebut.

Timbuktu, Peradaban Islam di Tengah Afrika

Letak geografisnya yang sangat strategis ditengah jalur perdagangan Trans Sahara menjadikan Timbuktu menjadi kota makmur. Tempat ini menjadi pertemuan alami bagi populasi Afrika di sekitarnya dan suku Berber yang suka berpindah dengan Arab dari utara. Persentuhan dengan peradaban Arab di Afrika Utara juga membawa serta Agama Islam didalamnya.

Penggambaran Timbuktu adalah seperti Pelabuhan jika Gurun Sahara dianalogikan sebagai lautan. Di Timbuktu juga berkembang kerajaan, antara lain Kerajaan Ghana, Kerajaan Mali (1324 M) dan Kerajaan Songhai yang berhaluan Islam.

Pemimpin Kerajaan Songhai mulai mengekspansi kekuasaannya di sungai Niger. Seperti kerajaan Ghana dan Mali yang telah hilang di daerah itu pada abad sebelumnya, Songhai berkembang lebih kuat karena kekuasaannya terhadap rute perdagangan lokal.

Timbuktu segera menjadi jantung kekaisaran Songhai. Kota ini menjadi kaya karena banyak pedagang yang berkelana di rute perdagangan berhenti disitu.

Kemajuan wilayah kerajaan Mali tidak terlepas dari kemunduran kerajaan Ghana. Kerajaan Ghana maju, memiliki kekayaan materi  dan terdepan dalam politik pada abad 12 M seperti disebutkan dalam kitab al-Masalik wa-Mamalik.

Kemudian beberapa wilayah melepaskan diri, baru muncul dan berkembang pesatlah kerajaan Mali. Kerajaan ini mengembangkan islamisasi dikawasan Afrika pada umumnya dan Mali pada khususnya.

Baca Juga:  Catatan Sejarah Kasus Korupsi di Zaman Rasul SAW

Kemajuan ini tidak terlepas dari wangsa dinasti dikerajaan yang berasal dari suku Malinke menjadikan  dinasti bertahan sampai abad ke-15 M. Disebutkan kekuasaan kerajaan Mali mencakup daerah Bure yaitu sebuah  dataran tinggi Niger yang merupakan daerah penghasil emas terbesar di daerah Sudan. Penguasa dinasti ini yang terkenal yaitu Mansa Musa yang berkuasa pada tahun 1312-1337 M.

Mansa Musa pernah pergi melakukan kunjungan ke Kairo pada tahun 1324 dan kunjungan ke Makkah sehingga menimbulkan legenda bahwa kerajaan Mali merupakan kerajaan yang kaya-raya emas. Kemasyhuran Mansa Musa tidak terlepas dari kedermawanan beliau ketika melakukan kunjungan ke luar negeri.

Kunjungan ke Mesir dan Makkah membawa serta seluruh pejabat Kerajaan Mali yang berjumlah 60.000 orang. 12 ribu Budak serta ribuan kambing dan ternak untuk persediaan selama perjalanan.

Situs Celebrity Net Wort memperkirakan kekayaan Mansa Musa mencapai angka 400 Miliar Dolar. Perjalanan ‘Emas’ Mansa Musa ke Mesir menjadikan nilai Emas menjadi Anjlok karena banyaknya emas yang beredar.

Kerajaan Mali yang Timbuktu berada didalamnya sangat kaya raya, menjadikan pembangunan pendidikan dan pusat peradan Islam di sana sangat maju. Dan Mansa Musa membangun sebuah Universitas yang sangat besar dan maju bernama Universitas Sankore.

Peradaban dan pendidikan yang maju dibuktikan dengan koleksi Universitas Sankore di Timbuktu memiliki koleksi buku 400 Ribu sampai 700 Ribu buah.

Bisa dikatakan perpustakaan Sankore adalah perpustakaan kedua terbesar setelah Perpustakaan Alexandria di Mesir. Semua cabang keilmuan yang berkembang pada era itu dipelajari di Universitas Sankore. Antara lain Hukum Islam, satra, obat-obatan, pembedahan dan operasi matematika, geometri fisika, filsafat dan lain sebagainya.

Kota pendidikan Timbuktu dengan universitasnya Sankore mencapai generasi emas dalam 2 dinasti kerajaan. Dinasti pertama pada masa kekuasaan Mansa Musa dan selanjutnya pada masa Dinasti Askia (1493-1591 M).

Pendidikan di Timbuktu

Timbuktu sebagai pusat peradaban di Afrikan Barat, kota Timbuktu (tombouctou) memiliki sejarah panjang sebagai pusat pendidikan pada zaman dahulu sampai sekarang.

Hal ini terbukti dengan adanya pusat pendidikan yang masih berdiri sampai sekarang. Timbuktu memiliki pusat pendidikan yang unik, karena memusatkan pendidikan di Masjid.

Baca Juga:  Mengerikan, 5 Wabah Thaun dalam Sejarah Islam, 70.000 Orang Meninggal Tiap Hari

Universitas Sankore yang merupakan sebutan dari Masjid Sankore adalah salah satu dari tiga pusat kuno pembelajaran yang terletak di Timbuktu, Mali, Afrika Barat.

Tiga masjid dari Sankore, Masjid Djinguereber dan Sidi Yahya membuat sebuah Universitas formal terkenal Timbuktu dengan nama resmi Universitas Sankore pada faze selanjutnya. Selama abad 14 -16 M, Universitas Sankore memiliki  mahasiswa lebih besar dibandingkan  Universitas New York pada saat ini.

Awal pembangunan pusat pendidikan Universitas Sankore sebagai mercusuar pendidikan dunia di mulai saat Kekaisaran Mali memperoleh kontrol langsung atas kota Timbuktu di 1324 M.

Pembangunan tersebt terjadi pada masa pemerintahan raja Mansa Musa juga dikenal sebagai Musa I “King of Kings”. Beliau memulai dengan merancang dan mengawasi secara langsug pembangunan salah satu masjid besar pertama Sankore yaitu Masjid Jingeray Ber (Djinguereber) pada tahun 1327 M.

Akan tetapi pondasi struktur telah jauh diletakan pada tahun 988 M, atas perintah ketua hakim kota Al-Qadhi Aqib bin Mahmud bin Umar. Biaya pembangunan Universitas Sankore mendapat biaya penuh dari salah seorang  wanita dari suku Mandinka. Beliau berimpian menjadikan Universitas sebagai mercusuar pendidikan berkelas di dunia.

Pada masa ini raja Musa Mansa juga melakukan berbagai kunjungan ke Kairo dan Makkah. Kunjungan resmi Mansa Musa ke Mesir dan Makkah juga memiliki tujuan pengembangan akademik. Raja Mansa Musa banyak merekrut Ilmuan dari Fez, Mesir dan wilayah Islam lainnya untuk mengajar di Universitas Sankore di Timbuktu.

Sejarah luar biasa peradaban Islam di Afrika Tengah menunjukan bahwa Afrika dan Islam bisa menjadi mercusuar Islam baik dalam ekonomi maupun pendidikan. Timbuktu menjadi bukti bahwa Islam pernah berjaya dan berkembang baik di Afrika. Walaupun pada saat ini kawasan ini tergerus oleh desertifikasi dan kekerasan.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG