Zaid bin Haritsah, Satu-Satunya Sahabat yang Namanya Tercantum dalam Al-Quran

Zaid bin Haritsah, Satu-Satunya Sahabat yang Namanya Tercantum dalam Al-Quran

Pecihitam.org – Begitu banyak sahabat utama Rasulullah. Baik dari kalangan yang awal-awal masuk Islam, hingga para sahabat Ansor. Mereka semua merupakan orang-orang utama dan merupakan generasi Islam terbaik. Tapi dari sekian banyak sahabat hanya ada satu sahabat yang namanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Quran, Ia adalah Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Zaid bin Haritsah merupakan orang dekat Nabi. Karena ia adalah anak angkat dari Rasulullah. Tapi bukan karena itu, kemudian namanya diabadikan dalam Al-Quran, tepatnya pada Surat Al-Ahzab ayat 37.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. 

Imam Abul Qasim Abdurrahman as-Suhaili, sebagaimana dikutip oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya, mengatakan dulu Zaid bin Haritsah dipanggil dengan Zaid bin Muhammad, hingga turun ayat berikut

Baca Juga:  Nusaibah binti Ka’ab, Wanita Prajurit Perang Kaum Muslimin

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. (QS. Al Ahzab ayat 5)

Semenjak saat itu, sahabat Zaid ini tidak boleh lagi dipanggil Zaid bin Muhammad. Begini penjelasannya dalam Tafsir Qurthubi Juz 14 halaman 175 176

فقال: أنا زيد بن حارثة . وحرم عليه أن يقول: أنا زيد بن محمد. فلما نزع عنه هذا الشرف وهذا الفخر، وعلم الله وحشته من ذلك شرفه بخصيصة لم يكن يخص بها أحدا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وهي أنه سماه في القرآن 

Maka Zaid berkata: “Aku adalah Zaid bin Haritsah”. Dan diharamkan baginya berkata: “Aku adalah Zaid bin Muhammad”. Ketika kemulian dan keagungan ini dicabut dari Zaid dan Allah mengetahui kesedihannya, maka Allah memuliakan Zaid dengan kekhususan yang belum pernah dikhususkan pada seorangpun dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Allah menulis nama Zaid di dalam Al-Qur’an.

Sungguh suatu kehormatan bagi Zaid namanya tercantum di dalam Al-Quran. Ini adalah hadiah dari Allah, juga sebagai hiburan atas kesedihannya membuang Bin Muhammad di akhir namanya.

Baca Juga:  Pengertian Sahabat Nabi dan Konsep Keadilan Sahabat dalam Periwayatan Hadis

ومن ذكره الله تعالى باسمه في الذكر الحكيم حتى صار اسمه قرآنا يتلى في المحاريب ، نوه به غاية التنويه ، فكان في هذا تأنيس له وعوض من الفخر بأبوة محمد صلى الله عليه وسلم له

“Barang siapa yang Allah sebut namanya dalam al-Qur’an, hingga namanya menjadi al-Qr’an yang selalu dibaca, maka dengannya nama itu menjadi tinggi setinggi tingginya. Jadi, dalam ayat ini sebagai penghibur untuk Zaid dan pengganti dari keagungan dengan kebapakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”, demikian keterangan dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, karya Ibnu Katsir.

Selain Zaid, memang ada sahabat lain yang disebut dalam Al-Quran, tapi tidak secara eksplisit. Misalnya sahabat Abu Bakar As-Siddiq.

Abu Bakar disebut oleh Allah dalam Surat At-Taubah ayat 40. Tapi sekali lagi penyebutannya tidak eksplisit layaknya Zaid, anak angkat Rasulullah.

Baca Juga:  Inilah 40 Ulama Ahli Hadits Beraqidah Asy'ariyah dan Kitabnya Bisa Anda Download

اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Dari uraian tafsir di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keikhlasan dan keridhaan Zaid untuk tidak memakai Bin Muhammad yang mulia di belakang namanya yang membuat namanya menjadi mulia abadi di dalam Al-Quran. Itulah balasan Allah atas keikhlasan dan keridhaannya. Subhanallah!

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *