Surah Ad-Dukhan Ayat 34-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ad-Dukhan Ayat 34-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 34-37 ini, mengantakan Musa berkata kepada Fir’aun dan kaumnya, bahwa dia akan minta perlindungan dari Tuhannya dan Tuhan mereka, Tuhan yang menciptakannya dan yang menciptakan mereka, berlindung dari tindakan jahat yang akan mereka timpakan kepadanya baik berupa perkataan atau perbuatan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ad-Dukhan Ayat 34-37

Surah Ad-Dukhan Ayat 34
إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَيَقُولُونَ

Terjemahan: “Sesungguhnya mereka (kaum musyrik) itu benar-benar berkata,

Tafsir Jalalain: إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ (Sesungguhnya mereka itu) yakni orang-orang kafir Mekah لَيَقُولُونَ (benar-benar berkata,).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya menolak kaum musyrikin yang mengingkari adanya kebangkitan. Menurut mereka, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan di dunia ini saja dan tidak ada lagi kehidupan setelah kematian, dan tidak ada kebangkitan. Mereka berhujjah dengan nenek moyang mereka terdahulu yang telah pergi dan tidak pernah datang kembali, seandainya kebangkitan memang ada

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir Mekah tidak mempercayai adanya hari kebangkitan karena menurut keyakinan mereka mustahil orang yang sudah mati itu dapat hidup kembali. Kepercayaan yang demikian itu timbul karena pikiran mereka telah dilumuri oleh noda-noda kemusyrikan; semakin lama noda itu semakin menebal sehingga menutupi seluruh hati dan pikiran mereka. Maka timbullah rasa sombong (takabur) dalam hati mereka disertai dengan keingkaran tanpa alasan.

Mereka berpendapat apa yang dipandang benar oleh nenek moyang mereka adalah benar pula menurut mereka meskipun keyakinan nenek moyang mereka itu semata-mata berdasarkan dugaan yang tidak ada dasar kebenarannya.

Keadaan mereka seperti orang yang terlanjur melontarkan kata-kata, kemudian kata-kata itu dibelanya mati-matian tanpa memperhatikan apakah yang dikatakannya itu benar atau salah. Mereka tidak lagi menggunakan pikiran yang sehat dalam menilai perkataan itu akan tetapi semata-mata menuruti hawa nafsu mereka. Sikap dan keyakinan mereka itu tercetus dalam perkataan mereka.

“Kematian itu hanya sekali yaitu kematian di dunia ini saja, tidak dua kali, dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan kembali.” Dengan perkataan itu, berarti mereka telah menolak keterangan wahyu yang mengatakan bahwa mati itu dua kali.

Allah berfirman: Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)

Ayat ini menerangkan bahwa manusia itu sebelum hidup di dunia adalah makhluk yang mati, lalu mereka dilahirkan sebagai makhluk hidup. Setelah itu, mereka menemui ajalnya dan mengalami kematian yang kedua. Kemudian pada hari Kiamat mereka akan dibangkitkan kembali dari kubur, dan hidup untuk kedua kalinya.

Dalam ayat ini, diterangkan bahwa orang-orang musyrik mengakui satu kali kehidupan dan satu kali kematian, tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati. Keingkaran mereka terhadap hari kebangkitan itu tidak beralasan karena pikiran mereka tidak sampai kepada ketentuan itu. Jika Allah kuasa menciptakan semua kehidupan ini, tentu Dia kuasa pula mengembalikan kehidupan itu sesudah kematian dan menghisab semua amal perbuatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan itu berkata, “Tidak ada kematian selain kematian yang pertama di dunia. Dan kita sama sekali tidak akan dibangkitkan kembali.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 35
إِنۡ هِىَ إِلَّا مَوۡتَتُنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُنشَرِينَ

Terjemahan: “”tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan,

Tafsir Jalalain: (“Tidak ada kematian) yang sesudahnya ada kehidupan lagi (selain kematian di dunia ini) sewaktu mereka masih dalam keadaan berupa air mani. (Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan) tidak akan dihidupkan kembali sesudah kematian yang pertama tadi.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Kebangkitan itu akan terjadi setelah selesainya kehidupan ini dan musnahnya dunia ini. Dimana Allah akan mengembalikan alam semesta dalam ciptaan yang baru, Dia jadikan orang-orang kafir itu sebagai bahan bakar api neraka jahannam. Yaitu pada hari dimana kalian akan menjadi saksi atas diri kalian semua.

Kemudian dengan nada mengancam dan memperingatkan mereka, Allah berfirman tentang adzab-Nya yang tidak akan dapat dihindari, sebagaimana yang telah menimpa rekan mereka dari kalangan kaum musyrikin yang mengingkari kebangkitan, seperti kaum Tubba’, yaitu penduduk Saba’. Yang mana hal itu bermuara pada keingkaran kaum musyrikin terhadap kebangkitan.

Demikian juga disini, mereka diserupakan dengan kaum tersebut. Dimana mereka adalah bangsa Arab dari Qahthan, sebagaimana mereka dari kaum Arab Adnan, yaitu daerah Himyar, mereka adalah penduduk Saba’. Setiap kali ada orang yang memimpin mereka, maka mereka menyebutnya dengan gelar Tubba’, seperti juga sebutan Kisra bagi orang yang berkuasa di Persia dan Kaisar bagi orang yang berkuasa di Romawi serta Fir’aun bagi raja Mesir yang kafir dan Najasyi untuk sebutan orang yang berkuasa di Ethiopia, dan lain-lain.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir Mekah tidak mempercayai adanya hari kebangkitan karena menurut keyakinan mereka mustahil orang yang sudah mati itu dapat hidup kembali. Kepercayaan yang demikian itu timbul karena pikiran mereka telah dilumuri oleh noda-noda kemusyrikan; semakin lama noda itu semakin menebal sehingga menutupi seluruh hati dan pikiran mereka.

Maka timbullah rasa sombong (takabur) dalam hati mereka disertai dengan keingkaran tanpa alasan. Mereka berpendapat apa yang dipandang benar oleh nenek moyang mereka adalah benar pula menurut mereka meskipun keyakinan nenek moyang mereka itu semata-mata berdasarkan dugaan yang tidak ada dasar kebenarannya.

Keadaan mereka seperti orang yang terlanjur melontarkan kata-kata, kemudian kata-kata itu dibelanya mati-matian tanpa memperhatikan apakah yang dikatakannya itu benar atau salah. Mereka tidak lagi menggunakan pikiran yang sehat dalam menilai perkataan itu akan tetapi semata-mata menuruti hawa nafsu mereka. Sikap dan keyakinan mereka itu tercetus dalam perkataan mereka.

“Kematian itu hanya sekali yaitu kematian di dunia ini saja, tidak dua kali, dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan kembali.” Dengan perkataan itu, berarti mereka telah menolak keterangan wahyu yang mengatakan bahwa mati itu dua kali.

Allah berfirman: Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)

Ayat ini menerangkan bahwa manusia itu sebelum hidup di dunia adalah makhluk yang mati, lalu mereka dilahirkan sebagai makhluk hidup. Setelah itu, mereka menemui ajalnya dan mengalami kematian yang kedua. Kemudian pada hari Kiamat mereka akan dibangkitkan kembali dari kubur, dan hidup untuk kedua kalinya.

Dalam ayat ini, diterangkan bahwa orang-orang musyrik mengakui satu kali kehidupan dan satu kali kematian, tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati. Keingkaran mereka terhadap hari kebangkitan itu tidak beralasan karena pikiran mereka tidak sampai kepada ketentuan itu. Jika Allah kuasa menciptakan semua kehidupan ini, tentu Dia kuasa pula mengembalikan kehidupan itu sesudah kematian dan menghisab semua amal perbuatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan itu berkata, “Tidak ada kematian selain kematian yang pertama di dunia. Dan kita sama sekali tidak akan dibangkitkan kembali.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 36
فَأۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Terjemahan: “maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Baca Juga:  Pengertian Amtsal dalam al-Quran Menurut Ahli Tafsir Beserta Contohnya

Tafsir Jalalain: (Maka datangkanlah bapak-bapak kami) dalam keadaan hidup (jika kalian memang orang-orang yang benar”) bahwasanya kami akan dibangkitkan menjadi hidup kembali sesudah kami mati.

Tafsir Ibnu Katsir: Ucapan Sa’id bin Jubair: “Tubba’ memasang kain di Ka’bah.” Sa’id melarang celaan terhadap Tubba’. Tubba’ ini adalah Tubba’ pertengahan, yang namanya adalah As’ad Abu Kuraib bin Malikarb al-Yamani.

Disebutkan bahwa ia sempat berkuasa atas kaumnya selama 326 tahun. Dan di negeri Himyar itu tidak pernah ada pemimpin yang lebih lama darinya. Ia meninggal dunia 700 tahun sebelum diutusnya Rasulullah saw. Diceritakan pula bahwa para pendeta Yahudi Madinah menyebutkan kepada raja itu, bahwa di Madinah inilah akan ada seorang [pendatang] Nabi akhir zaman yang bernama Ahmad.

Kemudian dia menyampaikan syair yang disimpan oleh penduduk Madinah. Mereka mewariskannya secara turun-temurun yang diambil oleh orang yang hidup belakangan dari para pendahulunya. Di antara orang yang menghafalnya adalah Abu Ayyub Khalid bin Zaid yang Rasulullah saw. pernah singgah di tempat tinggalnya. Syair itu berbunyi:

“Aku bersaksi pada Ahmad, bahwa ia adalah seorang Rasul dari Allah yang telah menciptakan manusia. Seandainya umurku bisa memanjang sampai pada umurnya, niscaya aku akan menjadi pembantu baginya, dan aku akan berjihad dengan membawa pedang melawan musuh-musuhnya, dan aku akan melenyapkan seluruh kesedihan dari dalam hatinya.”

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan tantangan orang musyrik Mekah kepada Rasulullah. Seandainya yang dikatakan rasul itu benar, yaitu adanya hari kebangkitan hendaklah dia mengemukakan bukti kebenaran dan hendaklah dia menghidupkan kembali nenek moyang mereka yang telah mati dahulu.

Menurut mereka, seandainya Rasulullah saw dapat membangkitkan (dari kubur) menghidupkan kembali nenek moyang mereka tentu hal ini dapat menjadi bukti adanya hari kebangkitan itu. Maka Allah menjelaskan bahwa Dia kuasa mengumpulkan sesuatu yang berserakan, mulai dari benda padat, benda cair, dan udara, dari atom yang paling kecil sampai kepada molekul-molekul, semua dikumpulkan menjadi satu sehingga terbentuk seorang manusia.

Tahukah manusia dari mana asal makanan yang dimakannya, pakaian yang dipakainya, alat rumah tangga yang mereka gunakan, dan sebagainya. Semua datang dari penjuru dunia yang berjauhan, kemudian dikumpulkan Tuhan pada suatu tempat untuk memenuhi keperluan dan keinginan seorang manusia.

Jika hal yang demikian itu dapat dilakukan Allah, tentu mengumpulkan kembali tulang yang berserakan, daging yang telah hancur luluh menjadi tanah, dan rekaman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan seseorang lebih mudah dilakukan-Nya, mengulang membuat sesuatu yang pernah ada jauh lebih mudah dari membuatnya pada pertama kalinya.

Dari keterangan demikian, dapat disimpulkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi. Hanya saja waktunya belum diketahui dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Yang jelas, hari kebangkitan itu akan terjadi setelah seluruh jagad raya mengalami kehancuran total termasuk semua isinya. Itulah sebabnya Allah tidak melayani tantangan orang-orang musyrik, karena tidak berguna menjawabnya.

Tantangan itu dikemukakan mereka hanyalah untuk menutupi isi dan keinginan hati mereka. Dikabulkan atau tidak permintaan mereka itu, mereka tidak juga akan beriman.

Tafsir Quraish Shihab: Janganlah kalian menyombongkan diri di hadapan Allah dengan mendustakan rasul-Nya. Karena aku datang kepada kalian dengan membawa mukjizat yang jelas, yang menerangkan kebenaran misiku sebagai nabi dan rasul.

Surah Ad-Dukhan Ayat 37
أَهُمۡ خَيۡرٌ أَمۡ قَوۡمُ تُبَّعٍ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ إِنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ

Terjemahan: “Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Baca Juga:  Surah Ad-Dukhan Ayat 1-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: Allah swt. berfirman, أَهُمۡ خَيۡرٌ أَمۡ قَوۡمُ تُبَّعٍ (“Apakah mereka yang lebih baik ataukah kaum Tubba'”) Tubba’ adalah seorang nabi atau seorang yang saleh وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ (dan orang-orang yang sebelum mereka) umat-umat sebelum mereka أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ (Kami telah membinasakan mereka) karena kekafiran mereka. Makna ayat, bahwasanya orang-orang musyrik itu tidaklah lebih kuat daripada mereka, dan ternyata mereka pun telah dibinasakan إِنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ (karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.).

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Zur’ah, yaitu ‘Amr bin Jabir al-Hadhrami, ia bercerita: Aku pernah mendengar Sahl bin Sa’ad as Sa’idi menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Jangan kalian mencaci Tubba’, karena boleh jadi ia telah memeluk Islam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Ath-Thabrani juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian mencaci Tubba’ karena sesungguhnya ia telah masuk Islam.” wallaaHu a’lam.

Tasir Kemenag: Kemudian Allah mengingatkan mereka pada kaum yang telah ditimpa malapetaka dan azab Allah, karena mereka durhaka dan tidak mengindahkan seruan para rasul yang diutus kepada mereka. Hendaklah mereka menjaga diri mereka, jangan sampai Allah mengazab mereka seperti yang telah dialami kaum yang terdahulu itu,

Allah menyatakan bahwa keadaan mereka tidaklah lebih baik dari kaum Tubba’. Sahl bin Sa’d berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: Janganlah kalian mencela Tubba’ karena dia sudah masuk Islam. (Riwayat Ahmad)

Tubba’ adalah sebutan bagi raja-raja Himyar di Yaman. Kaumnya disebut kaum Tubba’. Mereka berbuat dosa yang melampaui batas sehingga negeri mereka dihancurkan Allah. Namun sebahagian kaumnya masih hidup mengembara ke negeri-negeri sekitarnya.

Pada mulanya mereka adalah kaum yang mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi serta mempunyai balatentara yang cukup kuat. Kalau dibandingkan dengan orang Tubba’, orang-orang kafir Mekah jauh ketinggalan dari orang Tubba’.

Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir Mekah itu tidak lebih baik keadaannya dari kaum ‘Ad dan Samud. Kedua kaum ini juga dibinasakan Allah karena kesombongan dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan. Pada akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa pada umat-umat terdahulu itu telah berlaku sunatullah. Mereka semua dibinasakan karena mereka telah tenggelam dalam lumpur kemaksiatan.

Kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir Mekah seandainya mereka mau mengambil pelajaran. Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan sunah-Nya ini. Allah berfirman: Sebagai sunatullah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab/33: 62).

Tafsir Quraish Shihab: Apakah orang-orang kafir Mekah lebih kuat, lebih berkuasa dan lebih segalanya, atau kaum Tubba’ dan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang musyrik kaummu, Muhammad, tidak lebih kuat dari mereka. Mereka yang lebih kuat itu telah Kami musnahkan di dunia akibat sikap kafir dan perbuatan dosa mereka. Maka hendaknya orang-orang musyrik kaummu itu mengambil pelajaran dari mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 34-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S