Tolak Kesepakatan Damai Timteng Prakarsa Trump, Palestina: Itu Proposal Zionis Israel

Pecihitam.org – Palestina menyebut Prakarsa Presiden AS Donald Trump untuk perdamaian Timteng yang dinamai “Deal of The Century (Perjanjian Abad Ini) hanyalah sebuah proposal untuk sistem apartheid yang melegitimasi proyek kolonial Israel di Palestina.

Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh. Pihaknya secara bulat menolak Perjanjian Abad dari Trump tersebut.

Shtayyeh lewat sebuah wawancara eksklusif dengan jaringan berita televisi CNN pada Kamis, 31 Januari 2020, mengatakan bahwa rakyat dan pemimpin Palestina menolak kesepakatan itu.

“Palestina menolak kesepakatan itu karena hanya memberikan al-Quds (Yerusalem) sepenuhnya kepada Israel, dan melegitimasi pemukiman di tanah Palestina, di mana 720.000 pemukim akan tetap tinggal secara ilegal di tanah kami,” ujar Shtayyeh, dikutip dari Arrahmahnews, Kamis, 31 Januari 2020.

Baca Juga:  Gus Yaqut Imbau Seluruh Kader GP Ansor Salat Ghaib Untuk Almarhum Mbah Moen

Pihaknya juga menegaskan menolak klaim Trump bahwa proposalnya “bisa menjadi kesempatan terakhir” untuk Palestina, dengan menyatakan, “Ini bukan kesempatan, juga bukan awal negosiasi, melainkan jebakan secara terang-terangan meskipun dengan sebutan negara Palestina”.


“Rencana ini 100% bias, dan sepenuhnya selaras dengan apa yang [PM Israel Benyamin Netanyahu] inginkan. Dia adalah penulis asli [dari rencana tersebut]. Rencananya membawa bahasa, ide, dan pidato yang sama yang kami dengar dan baca sebelumnya,” ujar Shtayyeh.

Menurut Shtayyeh, Israel seharusnya tidak diizinkan berada di atas hukum.

“Ini melanggar hak asasi manusia, merampas tanah Palestina, dan secara ilegal membangun pemukiman,” tegasnya.

“Amerika Serikat tidak bisa mengabulkan hal-hal yang tidak dimilikinya. Ini adalah tanah Palestina, dan Israel tidak dapat mencaplok bagian mana pun dari dari tanah ini. Apa yang terjadi sekarang adalah bahwa pemerintah AS sedang berusaha membuat referensi baru untuk solusi [perdamaian] dan memberikan legitimasi pada aneksasi ini. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya,” sambungnya.

Baca Juga:  Israel Enggan Beri Masker ke Tahanan Palestina, Malah Dipaksa Pakai Kaus Kaki

Shtayyeh juga menolak rencana Presiden Trump yang menggambarkan ibukota Palestina yang diusulkan berlokasi di Abu Dis, sebuah lingkungan di pinggiran Yerusalem al-Quds.

“Al-Quds (Yerusalem) bukan bagian dari Yerusalem. Al-Quds adalah kota tua dan daerah sekitarnya serta seluruh lembah kota Suci, tempat tinggal 300.000 orang. Al-Quds adalah kota yang diduduki pada tahun 1967,” jelasnya.

Muhammad Fahri