Surah Al-Mutaffifin Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mutaffifin Ayat 1-6

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mutaffifin Ayat 1-6 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita membahas isi kandungan surah. Surah al-Muthaffifîn dibuka dengan beberapa ayat yang berisi ancaman sangat keras terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan dalam bermuamalat, secara khusus dalam soal timbang- menimbang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kecurangan itu digambarkan dalam sekelompok orang yang cenderung minta dilebihkan takarannya demi keuntungan pribadi tetapi mengurangi jumlah yang semestinya saat menimbang untuk orang lain. Surah ini mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut bahwa hari pembangkitan dan perhitungan pasti akan terjadi.

Selain itu, Surah ini juga menegaskan bahwa perbuatan mereka itu tercatat dalam sebuah buku. Hanya orang-orang zalim, bergelimang dosa dan terhalang dari Tuhannya yang berani mendustakan catatan buku itu. Tempat kembali mereka, kelak, adalah nereka Jahanam.

Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka melihat orang-orang Mukmin atau ketika orang-orang Mukmin itu berlalu di hadapan mereka. Akhirnya, Surah ini ditutup dengan janji bahwa orang-orang beriman akan diperlakukan secara adil di hari kiamat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mutaffifin Ayat 1-6

Surah Al-Mutaffifin Ayat 1
وَيۡلٌ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

Terjemahan: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang

Tafsir Jalalain: Al-Muthaffifiin (Orang-Orang yang Curang) وَيۡلٌ لِّلۡمُطَفِّفِينَ (Kecelakaan besarlah) lafal Wailun merupakan kalimat yang mengandung makna azab; atau merupakan nama sebuah lembah di dalam neraka Jahanam (bagi orang-orang yang curang.).

Tafsir Ibnu Katsir: An-Nasa-i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia menceritakan bahwa setelah Nabi saw. sampai di Madinah, mereka [penduduk Madinah] adalah yang paling buruk dalam hal timbangan, sehingga Allah menurunkan ayat:

وَيۡلٌ لِّلۡمُطَفِّفِينَ (“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.”) oleh karena itu, merekapun memperbaiki timbangan setelah itu. Dan yang dimaksud dengan at-tathfiif disini adalah kecurangan dalam timbangan dan takaran, baik dengan menambah jika minta timbangan dari orang lain, maupun mengurangi jika memberikan timbangan kepada mereka.

Oleh karena itu, Allah menafsirkan al-muthaffifiin sebagai orang-orang yang Dia janjikan dengan kerugian dan kebinasaan, yaitu al-wail (kecelakaan besar),

Tafsir Kemenag: Azab dan kehinaan yang besar pada hari Kiamat disediakan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang. Allah telah menyampaikan ancaman yang pedas kepada orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang yang terjadi di tempat-tempat jual beli di Mekah dan Medinah pada waktu itu.

Diriwayatkan bahwa di Medinah ada seorang laki-laki bernama Abu Juhainah. Ia mempunyai dua macam takaran yang besar dan yang kecil. Bila ia membeli gandum atau kurma dari para petani, ia mempergunakan takaran yang besar, akan tetapi jika ia menjual kepada orang lain ia mempergunakan takaran yang kecil.

Perbuatan seperti itu menunjukkan adanya sifat tamak, ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri walaupun dengan jalan merugikan orang lain. Terhadap orang seperti itu, Nabi Muhammad telah memberi ancaman yang pedas sekali seperti tersebut dalam hadis ini: Ada lima perkara yang dibalas dengan lima perkara:

Tidak pernah suatu kaum yang melanggar janji, melainkan Allah akan membiarkan kaum itu dikuasai musuhnya. Tidak pernah mereka yang memutuskan suatu perkara dengan hukuman yang tidak diturunkan oleh Allah, melainkan akan tersebar luaslah kefakiran di kalangan mereka.

Perzinaan tidak pernah meluas di kalangan mereka secara luas, melainkan akan tersebar luaslah bahaya kematian. Tidak pernah mereka yang berbuat curang dalam menakar dan menimbang, melainkan mereka akan kehilangan kesuburan tumbuh-tumbuhan dan ditimpa musim kemarau. Dan tidak pernah mereka yang menahan zakat, melainkan akan diazab dengan tertahannya hujan (kemarau yang panjang). (Riwayat ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas).

Tafsir Quraish Shihab: Surah al-Muthaffifîn dibuka dengan beberapa ayat yang berisi ancaman sangat keras terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan dalam bermuamalat, secara khusus dalam soal timbang- menimbang.

Kecurangan itu digambarkan dalam sekelompok orang yang cenderung minta dilebihkan takarannya demi keuntungan pribadi tetapi mengurangi jumlah yang semestinya saat menimbang untuk orang lain. Surah ini mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut bahwa hari pembangkitan dan perhitungan pasti akan terjadi.

Selain itu, Surah ini juga menegaskan bahwa perbuatan mereka itu tercatat dalam sebuah buku. Hanya orang-orang zalim, bergelimang dosa dan terhalang dari Tuhannya yang berani mendustakan catatan buku itu. Tempat kembali mereka, kelak, adalah nereka Jahanam.

Pembicaraan kemudian dialihkan kepada ihwal kalangan manusia yang berbakti kepada Allah dengan memberikan keterangan mengenai apa yang telah mereka lakukan. Disebutkan, misalnya, berbagai kenikmatan yang bakal mereka rasakan dan, sekaligus, ciri-ciri mereka. Disebutkan pula sebuah perbuatan yang mereka perlombakan.

Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka melihat orang-orang Mukmin atau ketika orang-orang Mukmin itu berlalu di hadapan mereka. Akhirnya, Surah ini ditutup dengan janji bahwa orang-orang beriman akan diperlakukan secara adil di hari kiamat.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 141-145; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka akan ditempatkan di dalam kehidupan yang penuh kesenangan. Mereka akan memandangi dan mentertawakan orang-orang kafir dari atas dipan-dipan yang indah. Sementara orang-orang kafir itu akan mendapatkan balasan buruk yang setimpal dengan perbuatan mereka di dunia.]]

Kehancuranlah bagi orang-orang yang berbuat curang. Yaitu orang-orang yang kalau menerima timbangan dari orang lain selalu meminta ukuran yang pas atau cenderung minta dilebihkan. Akan tetapi, jika menimbang untuk orang lain, mereka berbuat curang sehingga dapat merugikan hak orang lain yang semestinya dipenuhi.

Surah Al-Mutaffifin Ayat 2
ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ

Terjemahan: “(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى (Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari) atau mereka menerimanya dari ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ
(orang lain, mereka minta dipenuhi) minta supaya takaran itu dipenuhi.

Tafsir Ibnu Katsir: dengan firman-Nya: ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ (“[yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain.”) yakni dari orang-orang. Yastaufuun (“mereka minta dipenuhi.”) yaitu mereka mengambil hak mereka secara penuh dan bahkan berlebih.

Tafsir Kemenag: Dalam dua ayat ini, Allah menjelaskan perilaku orang yang akan menjadi penghuni neraka. Mereka adalah orang-orang yang ingin dipenuhi takaran atau timbangannya ketika membeli karena tidak mau rugi. Sebaliknya, apabila menjual kepada orang lain, mereka akan mengurangi takaran atau timbangannya.

Orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan mendapat dosa yang besar karena dengan perbuatan itu, dia dianggap telah memakan harta orang lain tanpa kerelaan pemiliknya. Allah melarang perbuatan yang demikian itu. Allah berfirman:

Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil. (al-Baqarah/2: 188) Yang dimaksud dengan takaran di sini mencakup segala ukuran dan timbangan yang biasa dipakai dalam jual beli dan terkait dengan pengurangan hak orang lain.

Banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan sekarang ini pengurangan-pengurangan yang merugikan orang lain, seperti menjual tabung gas yang isinya tidak sesuai dengan standar, mengurangi literan bensin yang dijual, penjual kain yang mengurangi ukuran kain yang dijualnya. Termasuk dalam pengurangan takaran yang sangat merugikan dan berbahaya adalah korupsi.

Pelaku korupsi mengurangi dana sebuah proyek dari perencanaan semula demi memperoleh keuntungan untuk diri sendiri, atau mengurangi kualitas bahan yang diperlukan dalam proyek tersebut dan menggantinya dengan bahan yang berkualitas lebih rendah.

Ayat ini mengingatkan manusia untuk menjauhi praktek-praktek yang merugikan orang lain dan ancaman hukumannya sangat besar di dunia dan akhirat. Ayat senada yang menyuruh manusia untuk memenuhi dan menyempurnakan timbangan adalah firman Allah:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (al-Isra’/17: 35) .

Tafsir Quraish Shihab: Surah al-Muthaffifîn dibuka dengan beberapa ayat yang berisi ancaman sangat keras terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan dalam bermuamalat, secara khusus dalam soal timbang- menimbang.

Kecurangan itu digambarkan dalam sekelompok orang yang cenderung minta dilebihkan takarannya demi keuntungan pribadi tetapi mengurangi jumlah yang semestinya saat menimbang untuk orang lain. Surah ini mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut bahwa hari pembangkitan dan perhitungan pasti akan terjadi.

Selain itu, Surah ini juga menegaskan bahwa perbuatan mereka itu tercatat dalam sebuah buku. Hanya orang-orang zalim, bergelimang dosa dan terhalang dari Tuhannya yang berani mendustakan catatan buku itu. Tempat kembali mereka, kelak, adalah nereka Jahanam.

Pembicaraan kemudian dialihkan kepada ihwal kalangan manusia yang berbakti kepada Allah dengan memberikan keterangan mengenai apa yang telah mereka lakukan. Disebutkan, misalnya, berbagai kenikmatan yang bakal mereka rasakan dan, sekaligus, ciri-ciri mereka. Disebutkan pula sebuah perbuatan yang mereka perlombakan.

Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka melihat orang-orang Mukmin atau ketika orang-orang Mukmin itu berlalu di hadapan mereka. Akhirnya, Surah ini ditutup dengan janji bahwa orang-orang beriman akan diperlakukan secara adil di hari kiamat.

Mereka akan ditempatkan di dalam kehidupan yang penuh kesenangan. Mereka akan memandangi dan mentertawakan orang-orang kafir dari atas dipan-dipan yang indah. Sementara orang-orang kafir itu akan mendapatkan balasan buruk yang setimpal dengan perbuatan mereka di dunia.]]

Kehancuranlah bagi orang-orang yang berbuat curang. Yaitu orang-orang yang kalau menerima timbangan dari orang lain selalu meminta ukuran yang pas atau cenderung minta dilebihkan. Akan tetapi, jika menimbang untuk orang lain, mereka berbuat curang sehingga dapat merugikan hak orang lain yang semestinya dipenuhi.

Baca Juga:  Surah Al-Mutaffifin Ayat 29-36; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Mutaffifin Ayat 3
وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ

Terjemahan: “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا كَالُوهُمۡ (Dan apabila mereka menakar untuk orang lain) atau menakarkan buat orang lainnya أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ (atau menimbang buat orang lain) artinya mereka menimbang buat orang lain (mereka mengurangi) takaran atau timbangan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ (“Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”) yakni mereka mengurangi. Dan pendapat yang terbaik menjadi “kaaluu” dan “wazanuu” sebagai muta’addi dan “Hum” menempati nashab. Dan ada juga di antara para ahli tafsir yang menjadikan “Hum” sebagai dhamir untuk mempertegas dhamir yang tidak terlihat kata “kaaluu” dan “wazanuu”, dan maf’ul (obyek) dihilangkan untuk menunjukkan pembicaraan padanya. Dan keduanya mempunyai makna yang berdekatan.

Tafsir Kemenag: Dalam dua ayat ini, Allah menjelaskan perilaku orang yang akan menjadi penghuni neraka. Mereka adalah orang-orang yang ingin dipenuhi takaran atau timbangannya ketika membeli karena tidak mau rugi. Sebaliknya, apabila menjual kepada orang lain, mereka akan mengurangi takaran atau timbangannya.

Orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan mendapat dosa yang besar karena dengan perbuatan itu, dia dianggap telah memakan harta orang lain tanpa kerelaan pemiliknya. Allah melarang perbuatan yang demikian itu.

Allah berfirman: Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil. (al-Baqarah/2: 188) Yang dimaksud dengan takaran di sini mencakup segala ukuran dan timbangan yang biasa dipakai dalam jual beli dan terkait dengan pengurangan hak orang lain.

Banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan sekarang ini pengurangan-pengurangan yang merugikan orang lain, seperti menjual tabung gas yang isinya tidak sesuai dengan standar, mengurangi literan bensin yang dijual, penjual kain yang mengurangi ukuran kain yang dijualnya. Termasuk dalam pengurangan takaran yang sangat merugikan dan berbahaya adalah korupsi.

Pelaku korupsi mengurangi dana sebuah proyek dari perencanaan semula demi memperoleh keuntungan untuk diri sendiri, atau mengurangi kualitas bahan yang diperlukan dalam proyek tersebut dan menggantinya dengan bahan yang berkualitas lebih rendah.

Ayat ini mengingatkan manusia untuk menjauhi praktek-praktek yang merugikan orang lain dan ancaman hukumannya sangat besar di dunia dan akhirat. Ayat senada yang menyuruh manusia untuk memenuhi dan menyempurnakan timbangan adalah firman Allah:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (al-Isra’/17: 35) .

Tafsir Quraish Shihab: Surah al-Muthaffifîn dibuka dengan beberapa ayat yang berisi ancaman sangat keras terhadap orang-orang yang melakukan kecurangan dalam bermuamalat, secara khusus dalam soal timbang- menimbang.

Kecurangan itu digambarkan dalam sekelompok orang yang cenderung minta dilebihkan takarannya demi keuntungan pribadi tetapi mengurangi jumlah yang semestinya saat menimbang untuk orang lain. Surah ini mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut bahwa hari pembangkitan dan perhitungan pasti akan terjadi.

Selain itu, Surah ini juga menegaskan bahwa perbuatan mereka itu tercatat dalam sebuah buku. Hanya orang-orang zalim, bergelimang dosa dan terhalang dari Tuhannya yang berani mendustakan catatan buku itu. Tempat kembali mereka, kelak, adalah nereka Jahanam.

Pembicaraan kemudian dialihkan kepada ihwal kalangan manusia yang berbakti kepada Allah dengan memberikan keterangan mengenai apa yang telah mereka lakukan. Disebutkan, misalnya, berbagai kenikmatan yang bakal mereka rasakan dan, sekaligus, ciri-ciri mereka. Disebutkan pula sebuah perbuatan yang mereka perlombakan.

Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka melihat orang-orang Mukmin atau ketika orang-orang Mukmin itu berlalu di hadapan mereka. Akhirnya, Surah ini ditutup dengan janji bahwa orang-orang beriman akan diperlakukan secara adil di hari kiamat.

Mereka akan ditempatkan di dalam kehidupan yang penuh kesenangan. Mereka akan memandangi dan mentertawakan orang-orang kafir dari atas dipan-dipan yang indah. Sementara orang-orang kafir itu akan mendapatkan balasan buruk yang setimpal dengan perbuatan mereka di dunia.]]

Kehancuranlah bagi orang-orang yang berbuat curang. Yaitu orang-orang yang kalau menerima timbangan dari orang lain selalu meminta ukuran yang pas atau cenderung minta dilebihkan. Akan tetapi, jika menimbang untuk orang lain, mereka berbuat curang sehingga dapat merugikan hak orang lain yang semestinya dipenuhi.

Surah Al-Mutaffifin Ayat 4
أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ

Terjemahan: “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

Tafsir Jalalain: أَلَا (Tidakkah) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna celaan يَظُنُّ (mempunyai sangkaan) artinya merasa yakin أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ (mereka itu, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.).

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 61-63; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Dan Allah telah membinasakan kaum Nabi Syu’aib dan menghancurkan mereka karena mereka telah berbuat curang kepada orang lain dalam hal timbangan dan takaran. Kemudian Dia berfirman seraya mengancam mereka:

أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ (“Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, ”) maksudnya, apakah orang-orang itu tidak merasa takut akan hari kebangkitan dan berdiri di antara Rabb yang mengetahui segala rahasia dan tidak tampak, pada hari yang sangat mengerikan, banyak yang menakutkan, dan banyak pula yang menyeramkan. Orang yang merugi pada hari itu akan dimasukkan ke neraka yang sangat panas.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mencela orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan dengan pertanyaan apakah mereka itu menyangka hari kebangkitan itu tidak akan pernah ada. Sebab, jika mereka menyangka saja, belum meyakini adanya hari kebangkitan, tentu mereka tidak tergugah untuk menghindari kecurangan. Memang mereka itu tidak mengharapkan adanya hari penghitungan, sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan. (an-Naba’/78: 27) .

Tafsir Quraish Shihab: Tidakkah terdetik dalam hati orang yang curang bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat yang amat dahsyat?

Surah Al-Mutaffifin Ayat 5
لِيَوۡمٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: “pada suatu hari yang besar,

Tafsir Jalalain: لِيَوۡمٍ عَظِيم (Pada suatu hari yang besar) maksudnya pada hari itu mereka dibangkitkan, yaitu pada hari kiamat.

Tafsir Ibnu Katsir: لِيَوۡمٍ عَظِيم ( pada suatu hari yang besar?”) maksudnya, apakah orang-orang itu tidak merasa takut akan hari kebangkitan dan berdiri di antara Rabb yang mengetahui segala rahasia dan tidak tampak, pada hari yang sangat mengerikan, banyak yang menakutkan, dan banyak pula yang menyeramkan. Orang yang merugi pada hari itu akan dimasukkan ke neraka yang sangat panas.

Tafsir Kemenag: Mereka akan dibangkitkan untuk dihisab pada hari pembalasan. Allah menerangkan bahwa ketika itu semua umat manusia berdiri menghadap Allah Rabbul ‘Alamin untuk dihisab dan diperiksa segala amal perbuatannya selama hidup di dunia. Semuanya dihisab dengan penuh keadilan karena Allah Mahaadil. Timbangan itu adalah lambang keadilan yang senantiasa harus ditegakkan dan dipertahankan.

Tafsir Quraish Shihab: Tidakkah terdetik dalam hati orang yang curang bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat yang amat dahsyat?

Surah Al-Mutaffifin Ayat 6
يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Terjemahan: “(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Tafsir Jalalain: يَوۡمَ (Yaitu hari) lafal Yauma menjadi Badal dari lafal Yaumin secara Mahall, yang dinashabkannya adalah lafal Mab’uutsuuna. Lengkapnya pada hari mereka dibangkitkan يَقُومُ ٱلنَّاسُ (manusia berdiri) dari kuburan mereka لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (menghadap Rabb semesta alam) artinya, semua makhluk dihidupkan kembali untuk memenuhi perintah, hisab dan pembalasan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (“[yaitu] hari [ketika] manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.”) maksudnya, mereka berdiri dalam keadaan telanjang kaki dan tidak berbusana, tidak pula disunat, dalam keadaan yang sangat sulit, menyusahkan, lagi sempit, bagi orang-orang yang suka berbuat dosa, dan atas perintah Allah mereka akan dicekam oleh berbagai hal yang dapat melemahkan kekuatan dan indera mereka. Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Pada hari ummat manusia berdiri menghadap kepada Rabb seru sekalian alam, sehingga ada salah seorang di antara mereka yang tenggelam dalam keringatnya sampai pertengahan dua telinganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tafsir Kemenag: Mereka akan dibangkitkan untuk dihisab pada hari pembalasan. Allah menerangkan bahwa ketika itu semua umat manusia berdiri menghadap Allah Rabbul ‘Alamin untuk dihisab dan diperiksa segala amal perbuatannya selama hidup di dunia. Semuanya dihisab dengan penuh keadilan karena Allah Mahaadil. Timbangan itu adalah lambang keadilan yang senantiasa harus ditegakkan dan dipertahankan..

Tafsir Quraish Shihab: Ketika seluruh manusia berdiri tegak memenuhi perintah dan keputusan Tuhan Penguasa alam?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mutaffifin Ayat 1-6 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S