Surah Thaha Ayat 115-122; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 115-122

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 115-122 ini, menjelaskan keadaan Adam dan istrinya Hawa, ketika Iblis merayu mereka maka tanpa mengingat amanat Tuhan bahwa Iblis itu adalah musuh yang ingin mencelakakannya dan dia dilarang Allah memakan buah larangan itu, Adam dan Hawa memetik buah itu dan langsung memakannya dengan penuh harapan bahwa ia bersama istrinya akan hidup kekal di dalam surga.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak lama setelah Adam dan Hawa memakan buah larangan itu aurat mereka masing-masing terbuka, padahal sebelum memakan buah larangan itu tidak ada sedikit pun perhatian mereka terhadap aurat itu, lalu mereka merasa malu dan cepat-cepar memetik daun-daunan dalam surga untuk menutupinya.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa akibat memakan buah khuldi timbullah pada Adam dan Hawa dorongan (insting) seksual, karena itu mereka merasa malu melihat aurat masing-masing.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 115-122

Surah Thaha Ayat 115
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

Terjemahan: Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ (Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam) Kami telah berwasiat kepadanya, janganlah ia memakan buah pohon terlarang ini مِن قَبْلُ (dahulu) sebelum ia memakannya فَنَسِيَ (maka ia lupa) melupakan perintah kami itu وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا (dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat) keteguhan dan kesabaran daripada apa yang Kami larang ia mengerjakannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Disebut insan, karena ia pernah diberikan perjanjian, tetapi ia lupa (nasiya).” Hal yang sama juga diriwayatkanAli bin Abi Thalhah, juga dari Ibnu Abbas. Sedangkan Mujahid dan al-Hasan berkata: “Tetapi ia malah mengabaikan.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah telah menerangkan bahwa Dia telah mengamanatkan kepada Adam supaya selalu waspada terhadap Iblis yang merupakan musuhnya dan musuh istrinya Hawa.

Memang Iblis telah memperdayakannya dengan bujuk rayunya dan mengatakan kepadanya bahwa pohon khuldi (keabadian) itu pohon yang paling baik, barang siapa memakan buahnya pastilah dia akan kekal di dalam surga. Karena keinginannya yang sangat agar dia kekal di dalam surga menikmati karunia Allah yang tiada putus-putusnya, maka Adam lupa akan amanat Allah dan larangan-Nya untuk tidak makan buah khuldi itu. Adam lupa bahwa Iblis itu musuhnya yang hendak menjerumuskannya ke lembah dosa.

Adam lupa bahwa Allah melarangnya memakan buah yang dilarang itu sehingga dimakannya buah itu. Di sini tampak bahwa Adam yang sudah memiliki pengetahuan tentang niat buruk Iblis masih dapat diperdayakan dengan janji-janji yang menarik dikemukakan Iblis kepadanya apalagi manusia biasa, oleh sebab itu seseorang harus mempunyai kemauan yang kuat dan tekad yang membaja tidak akan dapat dipengaruhi oleh siapapun dan janji apapun, dia harus selalu ingat dan waspada dan mati-matian memperThahankan pendirian dan kepercayaannya agar tidak bisa digoda oleh Iblis.

Tafsir Quraish Shihab: Sungguh telah Kami wasiatkan kepada Adam sejak semula sebelummu, Muhammad, agar tidak melanggar perintah Kami. Tetapi Adam kemudian lupa lalu melanggar perjanjian itu. Sejak semula, Kami tidak menemukan tekad dan kemauan yang kuat pada dirinya untuk membentengi diri dari perangkap dan bisikan setan.

Surah Thaha Ayat 116
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى

Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.

Tafsir Jalalain: وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ (Dan) ingatlah (ketika Kami berkata kepada Malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka mereka sujud kecuali iblis) dia adalah bapaknya jin, dia dahulu berteman dengan para Malaikat dan ikut menyembah Allah bersama dengan para Malaikat

أَبَى (ia membangkang) tidak mau sujud kepada Nabi Adam; bahkan mengatakan sebagaimana yang telah disitir oleh firman-Nya; Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya…” (Q.S. Al-A’raf, 12).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ (“Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada Malaikat: ‘Sujudlah kepada Adam.’”) Allah swt menyebutkan pemuliaan dan penghormatan terhadap Adam serta pengutamaan dirinya atas banyak makhluk ciptaan-Nya. Kisah mengenai hal ini telah kami kemukakan dalam surat al-Baqarah, al-A’raaf, al-Hijr, al-Kahfi, dan yang akan disebutkan juga di akhir surat Shaad.

Di dalamnya, Allah menceritakan penciptaan Adam dan perintah sujud yang Dia berikan kepada para Malaikat kepadanya (Adam) sebagai penghormatan dan pemuliaan. Selain itu, Dia juga menjelaskan permusuhan iblis terhadap anak cucu Adam dan kepada Adam sendiri.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَ (“Maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkan.”) Maksudnya, menolak seraya menyombongkan diri

Tafsir Kemenag: Sebagai penjelasan yang terperinci mengenai teperdayanya Adam oleh Iblis sehingga dia memakan buah yang dilarang memakannya. Allah menerangkan kisah tersebut sejak awal yaitu ketika Dia memerintahkan kepada malaikat supaya sujud kepada Adam.

Dengan taat dan patuh malaikat pun sujud kepada-Nya tanpa membantah, tanpa rasa iri dalam hati, tak ada mempunyai perasaan sombong dan takabur tidak ada enggan sedikit pun melaksanakan perintah Tuhannya. Berlainan dengan Iblis yang sombong dan takabur, dia enggan dan tidak mau sujud kepada Adam karena menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih mulia dari Adam. Mengapa mesti dia yang sujud kepada Adam padahal seharusnya Adamlah yang sujud kepadanya. Hal ini tersebut dalam firman Allah:

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 133-135; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Lalu para malaikat itu bersujud semuanya. Kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir. (Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku.

Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (shad/38: 73-76).

Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk menghormat Adam sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya, kemudian mereka pun melaksanakan perintah itu. Tetapi iblis, sebangsa jin, yang sedang berada bersama mereka saat itu, melanggar perintah itu. Ia pun akhirnya dikeluarkan dan diusir oleh Allah.

Surah Thaha Ayat 117
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى

Terjemahan: Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Tafsir Jalalain: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ (Maka Kami berkata, “Hai Adam! Sesungguhnya iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu) yakni Siti Hawa فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى (maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi sengsara) hidup sengsara disebabkan terlebih dahulu kamu harus mencangkul, menanam, menuai, menumbuk, membuat roti dan lain sebagainya. Ungkapan sengsara di sini ditujukan hanya kepada Nabi Adam, disebabkan secara fitrah suami itu mencari nafkah buat istrinya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ (“Maka Kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi isterimu.’”) istri Adam yaitu Hawa.

فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى (“Maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.”) Maksudnya, berhati-hatilah kamu, jangan sampai iblis itu mengeluarkanmu dari surga, sehingga kamu akan susah, payah, dan sengsara dalam mencari rizkimu. Sesungguhnya di sini (surga), kamu dapat hidup dengan senang lagi tenang tanpa beban dan juga tanpa kesulitan.

Tafsir Kemenag: Karena Iblis tidak mau sujud kepada Adam disebabkan kesombongannya dan iri hati atas kemuliaan dan kehormatan yang diberikan kepada Adam. Allah menegaskan kepadanya bahwa Iblis itu adalah musuhnya dan musuh istrinya.

Oleh sebab itu ia harus berhati-hati dan waspada terhadap tindak tanduknya, janganlah sekali-kali ia mengikuti bujuk rayunya yang mungkin berupa nasehat atau anjuran. Tidak ada tujuannya kecuali menimpakan musibah atau malapetaka kepadanya.

Jika ia teperdaya dengan mulut manisnya yang bila diikutinya mungkin akan menyebabkan Adam terusir dari surga yang penuh rahmat dan karunia-Nya. Bila hal ini terjadi tentulah Iblis akan tertawa gembira sedangkan Adam akan menderita kehidupan yang berat di dunia, di mana dia harus berjuang dan bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya sedang di dalam surga dia hidup serba cukup tak ada kekurangan satu apapun, semua keinginannya dengan mudah tercapai dan terlaksana.

Tafsir Quraish Shihab: Maka Allah pun berfirman kepada Adam, “Setan yang melanggar perintah-Ku untuk menghormatmu itu adalah musuh bagimu dan isterimu, Hawâ’. Oleh karena itu, waspadalah terhadap godaannya untuk berbuat maksiat yang dapat menyebabkan kalian keluar dari surga. Dengan begitu, kalian akan hidup celaka setelah keluar dari surga.

Surah Thaha Ayat 118
إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى

Terjemahan: Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,

Tafsir Jalalain: إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى (Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang). Lafal Allaa adalah gabungan daripada huruf An dan Laa.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى (“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang.”) Di sini Allah menyebutkan bersamaan antara lapar dan telanjang, karena kelaparan adalah kehinaan bathin, sedangkan telanjang adalah kehinaan lahir.

Tafsir Kemenag: Allah menjanjikan kepada Adam bahwa selama di dalam surga dia tidak akan merasa lapar dan haus karena berbagai macam makanan yang enak, minuman yang beragam serta buah-buahan selalu disediakan baginya.

Dia tidak akan pernah merasa haus karena disediakan pula untuknya beraneka ragam minuman yang lezat dan tidak akan terkena sengatan maThahari yang panas karena selalu berada di tempat yang teduh dengan angin yang menghembus sepoi-sepoi basah.

Dia tidak akan telanjang karena Allah telah memberinya pakaian yang sangat bagus dan indah. Semua yang disenangi dan disukai dapat dinikmati dalam surga seperti dalam firman-Nya:

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Fushshilat/41: 31-32)

Dan firman-Nya: Dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. (az-Zukhruf/43: 71).

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 109-112; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Sebenarnya, sudah merupakan tugas Kami untuk memenuhi kebutuhan hidupmu di dalam surga, hingga kamu tidak akan pernah merasa lapar dan telanjang di dalamnya.

Surah Thaha Ayat 119
وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

Terjemahan: dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas maThahari di dalamnya”.

Tafsir Jalalain: وَأَنَّكَ (Dan sesungguhnya kamu) baik dibaca Annaka atau Innaka, diathafkan kepada isimnya Inna pada ayat sebelumnya dan jumlah kalimat kelanjutannya ialah لَا تَظْمَأُ فِيهَا (tidak akan merasa dahaga di dalamnya) yakni tidak akan merasa haus وَلَا تَضْحَى (dan tidak pula akan ditimpa panas maThahari di dalamnya”) yaitu sinar maThahari di waktu dhuha tidak akan kamu alami lagi, karena di dalam surga tidak ada maThahari.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى (“Dan sesungguhnya kamu tidak merasa dahaga dan tidak pula akan ditimpa panas maThahari di dalamnya.”) Kedua hal tersebut (dahaga dan panas) merupakan dua hal yang saling berdampingan, di mana dahaga sebagai panas bathin, sedangkan panas maThahari sebagai panas lahir.

Tafsir Kemenag: Setelah Iblis melihat bagaimana senangnya Adam dan istrinya di dalam surga menikmati berbagai macam anugerah Ilahi, timbul rasa iri dan dengki dalam hatinya dan dia ingin sekali agar nikmat dan karunia yang dilimpahkan Allah itu dengan segera tercabut dari keduanya. Dia melihat tak ada cara yang lebih tepat dan ampuh untuk mewujudkan keinginan itu selain menggoda keduanya, supaya memakan buah khuldi yang terlarang memakannya.

Dengan demikian tentulah Allah akan murka kepada Adam dan mengusirnya dari surga karena telah melanggar perintah-Nya. Lalu Iblis mendatangi Adam berpura-pura sebagai sahabat yang setia yang selalu mementingkan kebaikan dan kebahagiaannya, dan berceritalah dia bahwa pohon khuldi itu adalah pohon yang istimewa, buahnya amat lezat sekali rasanya, tak ada buah-buahan di dalam surga yang lebih lezat dari khuldi itu.

Barang siapa memakannya pastilah dia akan kekal hidup selama-lamanya dan kekal pula tinggal di dalam surga. Jika Adam ingin tetap selama-lamanya di dalam surga ini maka ia harus makan buah itu, niscaya ia akan kekal hidup selama-lamanya dalam surga yang tidak akan runtuh selama-lamanya.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam surga itu pula, kamu tak akan pernah merasa haus dan tak akan pernah merasakan teriknya matahari seperti yang dirasakan oleh orang yang berusaha keras di luar surga.”

Surah Thaha Ayat 120
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى

Terjemahan: Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Tafsir Jalalain: فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ (Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya seraya berkata, “Hai Adam! Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon keabadian) yaitu pohon yang barang siapa memakan buahnya akan hidup kekal وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى (dan kerajaan yang tidak akan binasa?”) yakni kerajaan yang kekal.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah selanjutnya: فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى (“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’”)

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa iblis itu telah memperdaya mereka berdua, di mana ia telah berkata: “Dan ia (syaitan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’” (QS. Al-A’raaf: 21)

Sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya, bahwa Allah Ta’ala telah membuat perjanjian kepada Adam dan isterinya, Hawa untuk memakan dari segala buah-buahan dan tidak mendekati pohon yang telah ditentukan di dalam surga. Tetapi iblis masih terus berusaha menggodanya sehingga keduanya memakan buah khuldi, yaitu pohon yang barangsiapa memakan buah itu, maka ia akan kekal abadi.

Di dalam hadits telah disebutkan mengenai pohon khuldi ini, di mana Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan, Syu’bah memberitahu kami, dari Abu adh-Dhahhak, aku mendengar Abu Hurairah menyampaikan hadits dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

“Sesungguhnya di surga terdapat sebatang pohon yang pengendara kendaraan berjalan di bawah bayangan pohon itu selama seratus tahun, niscaya ia tidak akan mampu melintasinya. Itulah pohon khuldi.” (HR. Ahmad)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan keadaan Adam dan istrinya Hawa, ketika Iblis merayu mereka maka tanpa mengingat amanat Tuhan bahwa Iblis itu adalah musuh yang ingin mencelakakannya dan dia dilarang Allah memakan buah larangan itu, Adam dan Hawa memetik buah itu dan langsung memakannya dengan penuh harapan bahwa ia bersama istrinya akan hidup kekal di dalam surga.

Tidak lama setelah Adam dan Hawa memakan buah larangan itu aurat mereka masing-masing terbuka, padahal sebelum memakan buah larangan itu tidak ada sedikit pun perhatian mereka terhadap aurat itu, lalu mereka merasa malu dan cepat-cepar memetik daun-daunan dalam surga untuk menutupinya.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa akibat memakan buah khuldi timbullah pada Adam dan Hawa dorongan (insting) seksual, karena itu mereka merasa malu melihat aurat masing-masing. Demikianlah karena didorong oleh keinginan yang sangat, Adam lupa akan amanat Tuhan sampai ia melanggar perintah-Nya.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 118-119; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ia gagal menghadapi ujian Tuhannya, menjadi lemah tekad dan kemauannya disebabkan godaan Iblis dan disebabkan godaan nafsu dan keinginannya sendiri sehingga jatuh ke jurang pelanggaran.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu setan membisikkan bujukan kepada Adam dan istrinya untuk memakan buah pohon yang terlarang dengan berkata, “Hai Adam, aku akan menunjukkan kepadamu sebuah pohon. Siapa yang memakan buahnya akan mendapat nikmat keabadian dan kerajaan yang tak akan pernah punah di dalam surga.”

Surah Thaha Ayat 121
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

Terjemahan: Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

Tafsir Jalalain: فَأَكَلَا (Maka keduanya memakan) yakni Adam dan Hawa مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا (dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya) yakni keduanya dapat melihat kemaluan masing-masing. Kedua aurat itu dinamakan kemaluan disebabkan jika kelihatan maka orang yang memilikinya menjadi malu

وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ (dan mulailah keduanya menutupi) keduanya menempelkan kepada عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ (aurat masing-masing dengan daun-daun yang ada di surga) untuk menutupi auratnya وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia) disebabkan memakan buah pohon yang terlarang itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ (“Maka keduanya memakan buah dari pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga.”) Mujahid berkata: “Keduanya mejadikan daun-daun itu seperti pakaian.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah dan as-Suddi.

Dan firman-Nya: وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى ( dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.)

Tafsir Kemenag: Setelah menyadari bahwa ia dan istrinya telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah larangan itu ia pun menyesal atas keterlanjurannya itu, merasa kecewa karena membenarkan bujukan Iblis dan teperdaya dengan kata-kata manis dari musuhnya.

Ia sangat khawatir terhadap nasibnya bersama istrinya karena telah mendurhakai Tuhannya. Ia merasa berdosa dan minta ampun atas kesalahannya itu seperti tersebut pada ayat:

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (al-A’raf/7: 23).

Tafsir Quraish Shihab: Setan pun menunjukkan pohon terlarang itu, sehingga Adam dan istrinya terpedaya dengan rayuannya dan lupa akan larangan Allah. Mereka akhirnya memakan buah pohon itu. Seketika, aurat mereka tersingkap sebagai balasan atas ketamakannya yang menyebabkan mereka lupa dan melanggar larangan Allah.

Mereka kemudian memetik daun pohon surga untuk menutupi auratnya yang tersingkap. Begitulah, Adam telah melanggar perintah Tuhannya. Peristiwa itu terjadi sebelum ia diangkat sebagai nabi. Ia pun akhirnya tidak memperoleh keabadian yang diharapkan. Rusaklah hidupnya.

Surah Thaha Ayat 122
ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى

Terjemahan: Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ (Kemudian Rabbnya memilihnya) yakni mendekatkannya ke sisi-Nya فَتَابَ عَلَيْهِ (maka Dia menerima tobatnya) sebelum Nabi Adam bertobat وَهَدَى (dan memberinya petunjuk) supaya terus-menerus bertobat.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى ( Kemudian Rabbnya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”)

Tafsir Kemenag: Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap hamba-Nya apalagi terhadap orang yang diangkat menjadi khalifah di bumi, oleh sebab itu Allah tidak akan membalas keterlanjuran Adam memakan buah larangan itu dengan menimpakan siksaan atas dirinya, dalam keadaan lupa sehingga ia teperdaya dengan bujukan musuhnya, meskipun Adam telah melanggar larangan Tuhan yang telah memerintahkan supaya dia jangan sampai teperdaya oleh setan musuhnya itu, sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Adam dan istrinya sangat menyesali perbuatannya dan telah bertobat meminta ampun kepada-Nya. Karena itu Allah mengampuni dosanya dan memilihnya menjadi orang yang dekat kepadanya.

Akibat melanggar perintah Tuhan, Adam diperintahkan keluar dari surga dan turun ke bumi, dengan demikian ketetapan Allah bahwa Adam akan dijadikan Khalifah di muka bumi ini terlaksana, sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya: “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (al-Baqarah/2: 30).

Tafsir Quraish Shihab: Setelah itu, Allah memilih Adam untuk membawa pesan-pesan suci-Nya. Allah pun menerima pertobatannya dan memberinya petunjuk untuk meminta ampun dan beristigfar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 115-122 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S