Surah Al-Hadid Ayat 16-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hadid Ayat 16-17

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hadid Ayat 16-17 ini, mengungkapkan bahwa orang-orang munafik pada hari Kiamat itu berseru kepada orang-orang beriman yang mendapatkan keridaan-Nya dan menjadi penghuni surga. “Tunggulah kami sehingga kita bersama menemui Allah serta biarkanlah mengambil sedikit dari cahaya kamu agar kami dapat keluar melalui sinar kamu dari azab yang pedih.”

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lalu permintaan itu dijawab dengan jawaban yang memutuskan harapan mereka serta menimbulkan kesedihan dan kesesalan, yaitu, “Tetaplah kamu di mana kamu berada, carilah di sana cahaya dan jangan mengharapkannya dari kami apa yang telah kami perbuat untuk diri kami dari amal saleh, karena tidak akan memberi manfaat bagi seseorang kecuali amal saleh sendiri.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 16-17

Surah Al-Hadid Ayat 16
أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَكَثِيرٌ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

Terjemahan: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

Tafsir Jalalain: أَلَمۡ يَأۡنِ (Belumkah datang) maksudnya apakah belum tiba saatnya لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ (bagi orang-orang yang beriman) ayat ini diturunkan berkenaan dengan kelakuan para sahabat, yaitu sewaktu mereka banyak bergurau أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ (untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat apa yang telah diturunkan kepada mereka) dapat dibaca Nazzala dan Nazala مِنَ ٱلۡحَقِّ (berupa kebenaran) yakni Alquran,

وَلَا يَكُونُواْ (dan janganlah mereka) di’athafkan kepada lafal Takhsya’a كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ (seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya) mereka adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani فَطَالَ عَلَيۡهِمُ (kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka) yaitu zaman antara mereka dan nabi-nabi mereka telah berlalu sangat lama ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ (lalu hati mereka menjadi keras) tidak lunak lagi untuk mengingat Allah. وَكَثِيرٌ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ (Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: “Adapun sekarang adalah saatnya bagi orang-orang mukmin mempunyai hati yang khusyu’ untuk berdzikir kepada Allah.” Dengan kata lain, telah tiba saat hati mereka menjadi lunak ketika berdzikir, mendapatkan nasehat, dan mendengarkan al-Qur’an, lalu memahaminya dan tunduk patuh kepadanya; mendengar dan mentaatinya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hasan bin Muhammad ash-Shabah dari Muslim, Yunus bin ‘Abdul A’la memberitahu kami, dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Tidak ada tenggang waktu antara keislaman kami dengan teguran Allah melalui ayat:

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 4-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) melainkan hanya empat tahun saja.”

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim pada akhir kitab. Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i pada penafsiran ayat ini. Selain itu, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Mengenai firman-Nya: أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ (“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”) Qatadah mengatakan: “Diceritakan kepada kami bahwa Syaddad bin Aus pernah meriwayatkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: ‘Sesungguhnya yang pertama kali diangkat dari manusia adalah kekhusyu’annya.’”

Dan firman Allah selanjutnya: وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ (“Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.”)

Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang sebelum mereka yang telah diberi al-Kitab di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dimana setelah waktu berlalu, mereka merubah kitab Allah yang berada di tangan mereka dan menjualnya dengan harga yang sangat murah serta melemparkannya ke belakang punggung mereka.

Selanjutnya mereka menghadapkan diri pada pendapat-pendapat yang sangat beragam dan membingungkan. Mereka bertaklid kepada beberapa orang dalam urusan agama Allah. Dan mereka menjadikan pendeta-pendeta dan pemuka agama mereka sebagai ilah-ilah mereka sendiri selain Allah.

Pada saat itulah hati merekapun menjadi keras, sehingga mereka tidak mau lagi menerima nasehat. Hati merekapun tidak mau melunak oleh janji dan juga ancaman Allah.

وَكَثِيرٌ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ (“Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”) yakni dalam amal perbuatan mereka. Dengan demikian hati mereka telah menjadi rusak dan amal mereka pun semuanya tidak berarti. Dengan kata lain hati mereka telah rusak dan mengeras dan jadilah watak mereka suka untuk merubah ucapan dari proporsinya.

Dan mereka meninggalkan amal perbuatan yang telah diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai mereka dalam suatu hal, baik dalam masalah-masalah ushul [pokok] maupun furu’ [cabang].

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menegur dan memperingatkan orangorang Mukmin tentang keadaan mereka yang berlalai-lalai. Belum datangkah waktunya bagi orang-orang Mukmin untuk mempunyai hati yang lembut, senantiasa mengingat Allah, suka mendengar dan memahami ajaran-ajaran agama mereka, taat dan patuh mengikuti petunjuk-petunjuk kebenaran yang telah diturunkan, yang terbentang di dalam Al-Qur’an Selanjutnya orang-orang Mukmin diperingatkan agar jangan sekali-kali meniru-niru orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diberikan Kitab Taurat dan Injil.

Sekalipun telah lama dan memakan waktu agak panjang, mereka belum juga mengikuti dan memahami ajaran mereka dan nabi-nabi mereka, sehingga hati mereka menjadi keras dan susah membantu, tidak lagi dapat menerima nasihat, tidak membekas pada diri mereka ancaman-ancaman yang ditujukan kepada mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Mu'minun Ayat 68-75; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka mengubah Kitab yang ada di tangan mereka dan ajaran-ajaran Kitab mereka dilempar jauh-jauh. Pendeta dan pastur mereka jadikan tuhan selain Allah, membikin agama tanpa alasan. Kebanyakan mereka menjadi fasik, meninggalkan ajaranajaran mereka yang asli. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Ma’idah/5: 13).

Tafsir Quraish Shihab: Belum tibakah saatnya, bagi orang-orang yang beriman, untuk mengkhusyukkan hati menyebut nama Allah dan membaca al-Qur’ân, sehingga tidak menjadi seperti penerima kitab suci sebelum mereka–yaitu penganut Yahudi dan Nasrani? Mereka melakukan hal itu sebentar untuk kemudian lalai hingga hati mereka membatu. Kebanyakan mereka keluar dari ketentuan-ketentuan agama.

Surah Al-Hadid Ayat 17
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يُحۡىِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡءَايَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

Terjemahan: “Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.

Tafsir Jalalain: ٱعۡلَمُوٓاْ (Ketahuilah oleh kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin yang telah disebutkan di atas tadi أَنَّ ٱللَّهَ يُحۡىِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا (bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya) dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan padanya, demikianlah Allah menjadikan hati kalian untuk taat dan khusuk kembali dalam mengingat Allah.

قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡءَايَٰتِ (Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada kalian tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Kami terhadap hal ini dan hal-hal lainnya لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (supaya kalian memikirkannya).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يُحۡىِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡءَايَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran [Kami] supaya kamu memikirkannya.”)

Di dalam ayat tersebut terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan melunakkan hati sebelum tadinya membatu, dan akan memberikan petunjuk kepada orang yang berada dalam keadaan bingung, setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, membukakan jalan dari berbagai kesulitan setelah sebelumnya berada dalam kesusahan yang mencekam.

Sebagaimana Allah telah menghidupkan bumi yang sebelumnya mati dengan air hujan yang tercurah, demikianjuga Allah akan memberikan petunjuk kepada hati-hati yang membatu itu dengan bukti-bukti dan dalil al-Qur’an.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 13-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia akan memasukkan cahaya ke dalam hati setelah sebelumnya ia berada dalam keadaan terkunci yang tidak pernah dapat dijangkau oleh siapapun. Mahasuci Allah, Rabb Pemberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesesatan, dan akan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya setelah ia berada dalam kesempurnaan petunjuk. Dia lah Rabb yang mengerjakan apa saja yang dikehendaki, Dia Mahabijaksana dan Mahaadil dalam segala perbuatan, Mahalembut, Mahamengetahui, Mahabesar, lagi Mahatinggi.

Tafsir Kemenag: Setelah Allah menyatakan keadaan orang-orang Mukmin pada hari Kiamat. Pada ayat ini Allah mengungkapkan bahwa orang-orang munafik pada hari Kiamat itu berseru kepada orang-orang beriman yang mendapatkan keridaan-Nya dan menjadi penghuni surga.

“Tunggulah kami sehingga kita bersama menemui Allah serta biarkanlah mengambil sedikit dari cahaya kamu agar kami dapat keluar melalui sinar kamu dari azab yang pedih.” Lalu permintaan ini dijawab dengan jawaban yang memutuskan harapan mereka serta menimbulkan kesedihan dan kesesalan, yaitu,

“Tetaplah kamu di mana kamu berada, carilah di sana cahaya dan jangan mengharapkannya dari kami apa yang telah kami perbuat untuk diri kami dari amal saleh, karena tidak akan memberi manfaat bagi seseorang kecuali amal saleh sendiri.”

Yang demikian itu adalah olokan terhadap mereka sebagaimana mereka memperolok-olokkan orang-orang Mukmin semasa di dunia ketika mereka berkata: Kami beriman, padahal mereka tidak beriman. Inilah yang dikehendaki dengan firman-Nya;

Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (al-Baqarah/2: 15) Maka untuk memberi balasan semua perbuatan mereka, ditetapkanlah bagian yang membatasi tempat orang-orang Mukmin dan orang-orang munafik. Bagian yang ditempati orang-orang Mukmin adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, sebaliknya bagian yang ditempati oleh orang-orang munafik adalah neraka yang dipenuhi siksa.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang munafik itu menyeru orang-orang Mukmin, “Bukankah di dunia dulu kami adalah teman kalian?” Orang-orang Mukmin menjawab, “Ya, benar apa yang kalian katakan itu. Tetapi kalian membinasakan diri sendiri dengan bersikap munafik, menginginkan suatu keburukan menimpa kaum mukminin, membuat keragu-raguan dalam urusan agama dan tertipu oleh angan-angan. Selama itu kalian tampak baik-baik saja hingga datang kematian dan kalian ditipu oleh setan bahwa kalian akan mendapatkan ampunan dari Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hadid Ayat 16-17 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S