Sebab Turunnya Surat Al Kafirun, Akidah Tidak Ada Ruang untuk Negosiasi

sebab turunnya surat al kafirun

Pecihitam.org – Sebagaimana asbabun nuzul surat-surat dalam Al-Quran yang lain, surat al kafirun juga mempunyai sebab turunnya. Hampir disetiap turunya wahyu kepada Rasulullah Saw ada sebab yang melatar belakangi. Dan setiap wahyu turunya pun dengan sebab ataupun latar belakang yang berbeda. Hal itu terkadang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, ataupun sebagai hujjah Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

(1) قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ
(2) لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ
(3) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ
(4) وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ
(5) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
(6) لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!”
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,”
“dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,”
“dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,”
“dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.”
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Ada beberapa riwayat tentang sebab turunnya surat Al Kafirun, antara lain:

Riwayat pertama hadits dari Sa`id Mina yang diterangkan oleh Syekh Nawawi:

Syekh Nawawi menerangkan asbabun nuzul dari surat al kafirun dalam kitabnya Tafsir Marah Labid, yaitu setelah Rasulullah berdakwah secara terbuka, beberapa tokoh kafir Quraisy merasa adanya ancaman dari Rasulullah bagi ajaran mereka.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 95-96; Seri Tadabbur Al Qur'an

Antara lain al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf. Akhirnya mereka mendatangi Rasulullah untuk untuk mengkomukasikan akan itu, merekapun berkata:

“Hai Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau kami yang benar kamu bisa selamat”

Dari tawaran kaum musyrikin itulah kemudian turun surat al Kafirun, sebagai jawaban atas tawaran mereka. Nabi Muhammad dengan jelas dan tegas menolak tawaran mereka.

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Riwayat yang kedua  dari Ibnu Abas tentang asbabun nuzul surat al Kafirun ini, bahwa orang kafir Quraisy menjanjikan Rasulullah akan diberi harta, perempuan, dan tahta asalkan beliau mau menyembah Tuhan mereka dan berhenti memaki Tuhan mereka. Mereka berkata:

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 49-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Wahai Muhammad ini untukmu semua. Berhentilah untuk mencaci maki tuhan-tuhan kami. Jangan menyebut mereka dengan hal-hal yang buruk. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan memberikan kebaikan kepada kita bersama,”

“Apa itu?” tanya Rasulullah. Mereka menjawab, “Engkau sembah tuhan-tuhan kami Lata, `Uzza setahun dan kami sembah Tuhanmu selama setahun pula.” Lalu Nabi menjawab dengan surah Al-Kafirun.

Keistiqamahan Rasulallah selalu diuji dalam penyebaran agama islam, dengan berbagai ancaman, diskriminasi dan cara-cara yang terlihat lembut seperti bujuk dan rayuan. Namun dalam kondisi apapun Rasulullah tetap tegar dan selalu istiqamah, untuk masalah aqidah dan tauhid tidak ada lagi kompromi dan negosiasi.

Dari asbabun nuzul diatas bahwa ayat pertama mengatakan  “Katakanlah, Hai orang-orang yang kafir”. Yang dimaksud orang kafir tersebut adalah mereka yang mendatangi Rasulullah kala itu.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 83-89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Bukan seluruh dari orang-orang kafir, karena pada ayat yang kedua yaitu “aku tidak menyembah apa yang kamu sembah”. Jika untuk seluruh orang kafir dari dulu sampai sekarang maka itu tidak sesuai dari kenyataan. Karena banyak orang kafir kemudian menyebah Allah dengan masuk islam. Sedang orang-orang kafir yang mendatangi Rasulullah mereka tidak beriman hingga kematiannya.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya berupa penjelasan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir.

Bahwa tentang tauhid, tentang akidah tidak ada ruang untuk kompromi ataupun negosiasi. Sampai kapanpun dan dimanapun sebab orang-orang kafir menyembah berhala sesuai dengan tempat dan situasi yang ada. Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat