Wahsyi bin Harb, Ia Tebus Dosa Membunuh Hamzah dengan Menghabisi Musailamah Al-Kadzdzab

Wahsyi bin Harb, Ia Tebus Dosa Membunuh Hamzah dengan Menghabisi Musailamah Al-Kadzdzab

Pecihitam.org – Ada perasaan dendam dalam hati Hindun, isteri pembesar Quraisy, Abu Sufyan. Ia benci dan menginginkan perlakuan Hamzah kepada suaminya dan saudaranya yang mati harus dibalas. “Nyawa harus dibalas dengan nyawa”, kata Hindun. Ia pun menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Wahsyi bin Harb, seorang budak kulit hitam dari Ethiopia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Peristiwa terbunuhnya Hamzah oleh Wahsyi bin Harb berawal dari kekalahan kaum kafir Quraisy di perang Badar pada tahun ke 2 H. Wahsyi menginginkan dirinya bebas, sehingga ia merencanakan membunuh Hamzah pada saat terjadi Perang Uhud.

Dalam perang itu, Wahsyi mencari celah dan kesempatan yang baik di tengah tengah kecamuk pertempuran. Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza.

Saat itulah, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah.

Lantas tombak Washy tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.

Bahkan tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga serta bibir dan mencungkil kedua matanya, lantas dibawakan kepada Hindun.

Usai sudah peperangan. Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya.

Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah.Mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.

Singkat cerita, saat peristiwa Fath Makkah, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Kota Makkah dengan 100.000 muslimin-muslimat. Wahsyi melarikan diri ke pantai.
Lalu Istri Washy datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dia berkata, “Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar. Jika suamiku masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku bisa diampuni?” tanya sang istri.

Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Allah memaafkan semua yang terdahulu. Jika orang mau bertaubat, dosanya akan diampuni,” kata Rasul kepada istri Washy.

Baca Juga:  Abu Nawas dan Gembok Makamnya yang Sebesar Ember

Setelah perbuatan suaminya sudah ditanyakan kapada Rasul, maka istrinya pun pulang dan menemui suaminya di tepian pantai sambil tersenyum menatap suaminya yang lagi gundah dirundung permasalahan yang lalu.

Saat itu Wahsyi berkata pada istrinya, “Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tahu bahwa kamu adalah istriku?”

Sang istrinya berkata, “Tidak aku sampaikan”. Dengan rasa takut dan ingin berada di jalan yang benar, Washy mengatakan pada istrinya, “Sampaikan dulu pada Rasul bahwa kamu adalah istriku. Karena saya yakin kalau rasul mengetahui yang sebenarnya bahwa kamu adalah istriku mustahil akan diampuni”

Maka istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulallah, apakah benar semua dosa-dosa suamiku akan diampuni?”

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu yang ia kerjakan selagi ia mau kembali ke jalan yang benar”

Maka istrinya berkata, “Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi bin Harb yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”

Lantas setelah mendengar perkataan seorang perempuan itu, wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah, beliau hanya terdiam tidak menjawab dan menundukan kepalanya.

Tak lama dari perbincangan itu, Rasul pun menyampaikan kepada istrinya agar Wahsyi menghadap bertemu Nabi.

Lalu istrinya menyampaikan kepada suaminya, “Jika kamu ingin dimaafkan, maka oleh Rasul kamu diminta bertemu langsung dengan beliau”

Washy pun berusaha tegar untuk mengakui kesalahannya di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia berangkat dengan istrinya ingin bertemu dengan Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sesampainya di sana, Washyi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan dengan tutur kata yang baik dan sopan. Rasul bertanya kepadanya, “Apakah engkau yang bernama Washyi?”

Ia gemetar dan takut saat diintrogasi oleh Nabi waktu itu. Sehingga tidak ada alasan lagi karena tekad yang kuat agar menjadi orang yang baik, Washyi pun mengakui dan dia berjanji ingin memeluk Islam dan bertaubat atas kehilafan yang telah dilakukannya.

Baca Juga:  Buya Yahya; Biografi, Perjalanan Keilmuan dan Strategi Dakwah

Wahsyi berkata, “Benar, wahai Rasul. Aku yang bernama Washyi, dan aku juga yang telah membunuh pamanmu di medan peperangan. Aku ingin meminta maaf, ya Rasulallah jika engkau memaafkanku”

Rasul pun menjawab tanpa berpanjang lebar. Beliau berkata dengan wajah yang amat sedih mengingat seorang pamannya yang beliau cintai, Sayyidina Hamzah.

“Akan kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal keinginanku, jangan pernah engkau perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini” tegas sang Rasul

Lalu Washyi berkata, “Kenapa wahai Rasulullah, padahal aku sudah ingin bertaubat dan memohon maaf kepadamu. Bukankah kau sudah memaafkan aku?”

Rasul menjawab, “Ya, aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku melihat wajahmu, aku terbayang akan wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu. Aku teringat wajah Hamzah. Makanya, jangan pernah muncul di hadapanku lagi”

Wahsyi pun kemudian merasa kecewa di dalam hatinya karena perbuatan itu tidak bisa membuat Rasul menjadi bahagia. Setelah meminta maaf di itu di hadapan Rasul, dia pulang bersama istrinya. Dia sadar bahwa Rasul sangat kecewa padanya.

Wahsyi yang telah dibebaskan dari perbudakan oleh Hindun dari imblan membunuh Hamzah. Namun dia tidak merasa bahagia karena dia sadar orang yang paling mulia di Arab telah ia lukai hatinya.

Namun dia ridha atas ketentuan dan takdir yang begitu pahit dialami olehnya. Keyakinan dan tekadnya tidak pernah goyah untuk membuat Rasul menjadi bahagia dan tidak kecewa padanya.

Semakin hari hatinya semakin cinta dengan Nabi SAW. Dia selalu dihantui dengan ilusi perbuatan dosanya. Hatinya juga semakin merasa berdosa terhadap baginda atas perbuatannya dulu.

Lalu timbul niat di hatinya untuk menebus kembali dosa-dosanya itu dengan melakukan sesuatu yang akan menggembirakan baginda.
Wahsyi bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah, yaitu Muhammad SAW.

Baca Juga:  Mengenal Yusya' bin Nun, Seorang Nabi Penakluk Baitul Maqdis

Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk memeluk agama Islam

Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan kaum muslimin beralih ke tangan Abu Bakar Shiddiq radhiallahuanhu. Saat itu, sedang terjadi pemberontakan Bani Hanifah yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kadzdzab, seorang nabi palsu. Khalifah Abu Bakar menyiapkan bala tentara untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah ke pangkuan Islam.

Wahsyi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bersama pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, ia berangkat ke medan Yamamah. Tidak lupa tombak yang ia pakai untuk membunuh Hamzah, ia bawa. Dalam hati ia bersumpah akan membunuh Musailamah atau ia tewas sebagai syahid.

Ketika kaum Muslimin berhasil mendesak Musailamah dan pasukannya ke arah “Kebun Maut”, Wahsyi termasuk salah seorang yang selalu mengintai nabi palsu itu.

Saat Al-Barra’ bin Malik berhasil membuka pintu gerbang pertahanan musuh, Wahsyi dan kaum Muslimin tumpah ruah menyerbu markas Musailamah.

Wahsyi bin Harb melompat ke depan. Setelah berada dalam posisi yang tepat, ia bidikkan tombaknya ke arah sasaran. Begitu dirasa tepat. Wahsyi melemparkan senjatanya. Tombaknya melesat ke depan mengenai sasaran.

Kini Wahsyi telah menebus kesalahannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud. Sehingga dikatakan padanya “Pembunuh orang terbaik (Hamzah) dan pembunuh orang terburuk (Musailamah)”

Faisol Abdurrahman