Abu Nawas dan Gembok Makamnya yang Sebesar Ember

gembok makam abu nawas


Pecihitam.org – Tidak hanya saat hidupnya setelah meninggalpun Abu Nawas masih bisa membuat orang tertawa. Bagaimana tidak, jika ukuran gembok makam saja lebih besar dari pada pintunya? Tentunya itu sebagian kecil dari keanehan di sekitar makam sang tokoh legendaris ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Gembok itu juga mengandung makna usaha manusia menjalani hidup dengan kepala dingin. Dan bagi Abu Nawas, gembok merupakan sarana menertawakan hidup. Sebelum wafat, ia berpesan pada keluarganya agar kelak gerbang makamnya menampilkan gembok sebesar ember. Tak ayal, sampai saat ini tempat peristirahatan terakhirnya selalu mengundang tawa para peziarah.

Dari kejauhan, banyak yang mengira bahwa makam tokoh humor legendaris berdarah Arab dan Persia tersebut sulit dimasuki. Ternyata, di sebelah kanan-kirinya berdiri sebuah pagar dinding yang sangat mudah dilewati. Hanya dengan gembok, Abu Nawas seolah ingin berkoar bahwa hasratnya dalam berkelakar tidak mampu dibendung oleh kematian.

Ada qoidah, “Barangsiapa tidak tertawa orang yang berziarah disana, dia mampu menduduki maqom kewalian. Wallahu A’lam.

Siapakah Abu Nawas?

Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami atau Abu Nawas dilahirkan pada 145 Hijriyah (747 Masehi) di kota Ahvaz, Persia (Iran). Ayahnya berdarah Arab dan ibu Persia. Ia dikenal sebagai pujangga Arab dan dianggap penyair terbesar sastra Arab klasik. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota pasukan militer Marwan II. Sedang ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di Irak inilah ia belajar banyak ilmu pengetahuan. Masa mudanya penuh kontroversi yang menjadikan Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik nan jenaka dalam khazanah sastra Arab Islam. Namun, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, selain cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Baca Juga:  Biografi Gus Baha', Mufassir dan Faqihul Qur'an Indonesia

Kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah, Ia belajar sastra bahasa Arab. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Ia belajar Ilmu Hadis kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Kemudian Abu Nawas bertemu dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi.Dari pertemuan ini telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab.

Ketertarikannya pada bakat Abu Nawas, Walibah membawanya ke Ahwaz lalu ke Kufah. Setelah itu Abu Nawas pindah ke Baghdad yang waktu pusat peradaban Dinasti Abbasyiah. Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas disosokkan sebagai penyair multivisi, penuh humor, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan.

Sayangnya, karya-karya ilmiah Abu Nawas justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dikenal sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan kontroversial. Kepandaiannya menulis sastra membuat Khalifah Harun al-Rasyid terkesima. Akhirnya melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair di istana. Walau dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, tak selamanya ia hidup dalam kegemerlapan dunia.

Tingkah jenakanya menjadikan jalan hidup yang benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.

Dekatnya Dengan Kekuasaan Pernah Membawanya Ke Penjara.

Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Dan tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia meninggalkan Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, Ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid wafat dan digantikan oleh Al-Amin.

Baca Juga:  Istimewa! Inilah Hikmah Puasa di Bulan Suci Ramadhan

Semenjak di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Ia menemukan nilai-nilai ketuhanan dan membawa keberkahan tersendiri. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.
Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Wafatnya Abu Nawas

Mengenai tahun wafat, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Dan ada pula yang menyebutkan tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon katanya Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Syair Abu Nawas Yang Fenomenal

اِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً ☆ وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ لِي تَوْبَةًً ًوَاغْفِرْ ذُنُوْبِي ☆ فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِِي مِثْلُ اعَدَدِ الرِّمَال ☆ فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً ًيَا ذَا الْجَلاَل
وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ ☆ وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
اِلَهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ ☆ مُقِرًّابِاالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
وَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ ☆ وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاك

Ya Tuhanku, aku tak pantas menjadi penghuni surga Firdaus , Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka.
Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar.
Dosa-dosaku bagai pasir, Maka berilah aku taubat hahai Pemilik Keagungan.
Umurku berkurang setiap hari, Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu, Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu.
Jika Engkau mengampuni, memang Engkaulah Pemilik Ampunan, Dan seandainya Engkau menolak taubatku, Kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-MU

Baca Juga:  Abu Nawas, Sufi Legendaris Sepanjang Zaman, Jangan Baca Nanti Tertawa!

Imam Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Sayyid Syatho Al Dimyathi menukil perkataan Syekh Abdul Wahhab Al Sya’roni.

“Barang siapa membiasakan dua bait ini (dua paling atas) setiap hari Jum’at, maka Alloh swt akan mengambil ruh pembacanya dalam keadaan Islam tanpa ragu sedikitpun”.

Imam Sya’rani tidak menjelaskan berapa kali pembacaannya. Namun, Sayid Bakri mengutip sebagian ulama yang mengamalkan syair tersebut di baca 5 kali setelah melaksanakan shalat Jum’at.

Sering kali KH. Baha’uddin Nursalim yang akrab dipanggil Gus Baha’ menceritakan tentang satu tokoh ini. Beliau seperti mengidolakan Abu Nawas. Dan entah mengapa jika beliau yang menceritakan kisah Abu Nawas ini, terasa lebih lucu dari redaksi kitab aslinya. Kata beliau: “Gus Dur mungkin lebih banyak membaca kisah Abu Nawas dari pada saya, karena Gus Dur lebih lucu baik dari ucapan maupun tindakannya, sementara saya lucunya hanya membacakan saja.” Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.