Abu Nawas, Sufi Legendaris Sepanjang Zaman, Jangan Baca Nanti Tertawa!

Abu Nawas

Pecihitam.org – Siapa yang tak kenal dengan sosok Abu Nawas. Kisah- kisahnya yang lucu namun penuh hikmah dan petuah. Tidak hanya saat hidupnya, bahkan setelah meninggal Abu Nawas pun masih saja bisa membuat orang tertawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagaimana tidak, jika ukuran gembok makamnya saja lebih besar dari pada pintunya? Tentunya itu baru sebagian kecil dari keanehan di sekitar makam sang tokoh sufi legendaris sepanjang zaman ini. Gembok itu ternyata mengandung makna usaha manusia dalam menjalani hidup harus dengan kepala dingin. Dan bagi Abu Nawas, gembok merupakan sarana menertawakan hidup.

Sebelum meninggal dunia, ia pernah berpesan pada keluarganya, agar kelak gerbang makamnya menampilkan gembok sebesar ember. Seumur hidupnya ia hanya ingin beramal dengan menyenangkan orang lain, maka dengan gembok sebesar ember di makamnya semoga bisa jadi amal terakhir. Tak ayal, sampai saat ini tempat peristirahatan terakhirnya selalu mengundang tawa para peziarah yang datang.

Jika dilihat dari kejauhan, orang akan mengira bahwa makam tokoh humor berdarah Arab dan Persia itu sulit dimasuki. Namun ternyata, jika menengok kanan-kirinya berdirilah sebuah pagar dinding yang sangat mudah dilewati.

Hanya dengan sebuah gembok, Abu Nawas seolah ingin mengatakan bahwa hasratnya dalam berkelakar tidak mampu dibendung oleh kematian. Bahkan ada qoidah, “Barangsiapa tidak tertawa orang yang berziarah disana, dia mampu menduduki maqom kewalian”. Wallahu A’lam.

Siapakah Abu Nawas?

Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami atau lebih dikenall dengan Abu Nawas. Ia dilahirkan pada 145 Hijriyah (747 Masehi) di kota Ahvaz, Persia (Iran). Ayahnya berdarah Arab dan ibunya Persia.

Ia dikenal sebagai pujangga Arab dan dianggap penyair terbesar sastra Arab klasik. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota pasukan militer Marwan II. Sedangkan ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Baca Juga:  KH Muhammad Sanusi: Pengasuh Pondok Pesantren Babakan, Kiai Kharismatik dari Ujung Cirebon

Sejak kecil ia sudah yatim, sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di Irak inilah Abu Nawas belajar banyak ilmu pengetahuan. Kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah, Ia belajar sastra bahasa Arab. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Ia belajar Ilmu Hadis kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Kemudian Abu Nawas bertemu dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi. Dari pertemuan ini telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab.

Ketertarikannya pada bakat Abu Nawas, Walibah membawanya ke Ahwaz lalu ke Kufah. Setelah itu Abu Nawas pindah ke Baghdad yang waktu pusat peradaban Dinasti Abbasyiah.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas disosokkan sebagai penyair multivisi, penuh humor, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh santrawan terkemuka. Sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dikenal sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan kontroversial.

Masa mudanya yang penuh kontroversi menjadikannya tampil sebagai tokoh yang unik nan jenaka dalam khazanah sastra Arab Islam. Namun, sajak-sajaknya juga sarat akan nilai spiritual, selain cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Kepandaiannya menulis sastra membuat Khalifah Harun al-Rasyid terkesima. Akhirnya melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair di kerajaan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, namun tak selamanya ia hidup dalam kegemerlapan dunia.

Tingkahnya yang jenaka menjadikan jalan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.

Dekatnya dengan Khalifah Membuatnya Pernah Masuk Penjara

Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Dan tentu saja Khalifah sangat murka, dan lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia meninggalkan Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak.

Baca Juga:  Abu Nawas Mencari Cincin yang Hilang

Ia kemudian meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Namun, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid wafat dan digantikan oleh Al-Amin.

Semenjak di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan mabuk dan maksiat. Namun, justru di jalan gelap itulah, ia menemukan nilai-nilai Ketuhanan dan membawa keberkahan tersendiri. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah Al I’tirof merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Wafatnya Abu Nawas

Mengenai tahun wafatnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Dan ada pula yang menyebutkan tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M.

Konon katanya Abu Nawas meninggal karena telah dianiaya oleh seseorang utusan keluarga Nawbakhti yang telah lama menaruh dendam kepadanya. Ia kemudian dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Al I’tirof, Syair Abu Nawas yang Fenomenal

اِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً ☆ وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ

فَهَبْ لِي تَوْبَةًً ًوَاغْفِرْ ذُنُوْبِي ☆ فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

ذُنُوْبِِي مِثْلُ اعَدَدِ الرِّمَال ☆ فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً ًيَا ذَا الْجَلاَل

وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ ☆ وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي

اِلَهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ ☆ مُقِرًّابِاالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

Baca Juga:  Abu Nawas; "Celakalah Orang-orang yang Shalat!"

وَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ ☆ وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاك

Ya Tuhanku, aku tak pantas menjadi penghuni surga Firdaus , Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka.

Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar.

Dosa-dosaku bagai pasir, Maka berilah aku taubat hahai Pemilik Keagungan.

Umurku berkurang setiap hari, Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu, Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu.

Jika Engkau mengampuni, memang Engkaulah Pemilik Ampunan, Dan seandainya Engkau menolak taubatku, Kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-MU

Imam Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Sayyid Syatho Al Dimyathi menukil perkataan Syekh Abdul Wahhab Al Sya’roni.

“Barang siapa membiasakan dua bait ini (dua paling atas) setiap hari Jum’at, maka Allah Swt akan mengambil ruh yang mengamalkannya dalam keadaan Islam tanpa ragu sedikitpun”.

Imam Sya’rani tidak menjelaskan berapa kali pembacaannya. Namun, Sayid Bakri mengutip sebagian ulama yang mengamalkan syair tersebut di baca 5 kali setelah melaksanakan shalat Jum’at.

Sering kali dalam suatu kesempatan KH. Baha’uddin Nursalim atau yang akrab dipanggil Gus Baha’ menceritakan tentang satu tokoh ini. Beliau seperti mengidolakan Abu Nawas. Dan entah mengapa jika Gus Baha yang menceritakan kisah Abu Nawas ini, terasa lebih lucu dari redaksi kitab aslinya.

Kata Gus Baha: “Gus Dur mungkin lebih banyak membaca kisah Abu Nawas dari pada saya, karena Gus Dur lebih lucu baik dari ucapan maupun tindakannya, sementara saya lucunya hanya membacakan saja.” Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik