Biografi Gus Baha’, Mufassir dan Faqihul Qur’an Indonesia

biografi gus baha'

Pecihitam.org – Bagi kita yang sering mendengarkan ceramagh-ceramah gus Baha’ pasti akan sangat terpukau dengan gaya bahasa, penyampaian, analogi yang digunakan dan penjelasan yang sangat detail mengenai tafsir-tafsir Al Quran. Penjelasan beliau tidak monoton dan sangat mudah untuk dipahami. Siapa sebenarnya gus Baha’? Kyai alim yang selalu berpenampilan sederhana namun kyai-kyai sepuh sangat mengakui keilmuannya. Berikut biografi Gus Baha’ Al Hafidz.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim Al-Hafidz atau yang lebih akrab dipanggil Gus Baha’. Lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah tanggal 15 Maret 1977. Beliau adalah Putra seorang ulama’ ahli Al-Qur’an, yakni KH. Nursalim Al-Hafizh, dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah, sebuah desa di pesisir utara pulau Jawa. KH. Nursalim adalah murid dari KH. Arwani Al-Hafidz Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafidz Pati.

Dari silsilah keluarga ayah beliau inilah terhitung dari buyut hingga generasi ke-empat kini merupakan ulama’-ulama’ ahli Al-Qur’an yang sangat mumpuni. Silsilah dari garis ibu beliau merupakan keluarga besar ulama’ Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang pesareannya ada di area Masjid Jami’ Lasem, Rembang.

Sedari kecil gus Baha’ mulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an dibawah asuhan ayahnya sendiri. Pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Gemblengan keilmuan yang ayah beliau ajarkan memanglah sesuai dengan karakteristik murid-murid Mbah Arwani Kudus yang menerapkan keketatan di dalam tajwid dan makhorijul huruf terhadap setiap huruf al-Qur’an.

Biografi Gus Baha’ ( Riwayat Pendidikan )

Dari riwayat pendidikan, Gus Baha’ sejak kecil hingga mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau mengenyam pendidikan dari dua pesantren, yakni pesantren ayah beliau sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Kholil al Bangkalani al Maduri

Menginjak usia remaja, Kyai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Al Anwar. Di pondok inilah gus Baha’ muncul sangat menonjol di berbagai ilmu pengetahuan Syari’at layaknya Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari lebih dari satu amanat posisi prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau sepanjang mondok di Al Anwar, layaknya Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan PP. Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula gus Baha’ mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap bersama matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau termasuk mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab layaknya ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Baca Juga:  Syaikh Mahfudz at Turmusi, Ulama Nusantara yang Diakui Dunia (Bagian 2)
Biografi Gus Baha’ ( Reputasi Keilmuan )

Selain di pondok pesantren, Gus Baha’ juga mengabdi di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta dan diminta mengasuh Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di UII beliau menjabat sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Teamnya sendiri terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari se-antero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lainnya.

Suatu ketika Gus Baha’ pernah ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Menurut Prof. Quraisy Syihab bahwa kedudukan gus Baha’ di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai mufassir, juga sebagai mufassir faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Setiap kali lajnah ‘menggarap’ tafsir dan Mushaf Al-Qur’an, posisi Gus Baha’ selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir seperti anggota lajnah yang lain dan sekaligus sebagai Faqihul Qur’an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur’an

Biografi Gus Baha’ ( Kitab dan Karya )

Kitab yang berjudul حفظنا لهذا المصحف ditulis oleh KH Ahmad Bahauddin bin Nur Salim ini berkenaan tentang penjelasan rasm usmani dilengkapi contoh dan penjelasan yang disadur dari buku al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Usman bin Sa’id ad-Dani ( 444 H.) Kitab ini sangat bagus untuk mengetahui bagaimana karakteristik penulisan al-Qur’an di didalam mushaf rasm usmani. Di didalam kitabnya beliau menyatakan bahwa sebenarnya rasm usmani merupakan warisan yang wajib dijaga.

Baca Juga:  Badiuzzaman Said Nursi, Ulama Tafsir Kontemporer dari Daulah Utsmaniyah

Untuk menjaganya tidak hanya sekedar dengan menghafalkan, namun juga dicermati dengan detil bagaimana cara penulisan dan karakteristiknya. Sebab mushaf usmani ini tidak ditulis dengan metode imla’ yang senantiasa sama di didalam al-Qur’an. Hal inilah yang mendasari alasan Gus Baha’ yang berpendapat bahwa bahasa itu riwayat, tidak hanya sekedar kaidah. Oleh karena itu banyak sekali penulisan-penulisan atau lafadz-lafadz yang benar secara kaidah i’lal, disaat tidak cocok dengan bahasa arab secara sama’i maka tidak bisa diqiyaskan.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.