Surah Fussilat Ayat 37-39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fussilat Ayat 37-39

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fussilat Ayat 37-39 ini, menerangkan bahwa di antara tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ialah adanya malam sebagai waktu istirahat, siang waktu bekerja dan berusaha, matahari yang memancarkan sinarnya, dan bulan yang bercahaya. Dia yang mengatur perjalanan planet-planet pada garis edarnya di cakrawala sehingga dengan demikian diketahui perhitungan tahun, bulan, hari, dan waktu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Allah memperingatkan Nabi Muhammad bahwa jika orang-orang musyrik yang menyembah bintang-bintang itu bersikap angkuh dan tidak mengindahkan seruannya, biarkan saja mereka dengan kesesatan yang mereka lakukan itu. Allah tidak memerlukan mereka sedikit pun. Mereka beriman atau tidak beriman tidak ada artinya bagi Allah sedikit pun.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fussilat Ayat 37-39

Surah Fussilat Ayat 37
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.

Tafsir Jalalain: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya) yang telah menciptakan keempat tanda-tanda tersebut إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ (jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengingatkan makhluk ciptaan-Nya tentang kekuasaan-Nya yang agung, Dia-lah Rabb yang tidak ada tandingan-Nya serta Mahakuasa atas segala sesuatu. وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ (“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.”) yaitu bahwa Dia-lah yang menciptakan malam dengan gelap gulitanya dan siang dengan cahaya benderangnya, dimana keduanya silih berganti tanpa lelah.

Dia pula yang menciptakan matahari dengan cahaya dan sinarnya, bulan dengan cahayanya, ketentuan perputaran di orbitnya di atas sana dengan rotasi matahari agar dengan perbedaan rotasi itu dapt diketahui ukuran malam dan siang, hari , bulan dan tahun serta akan jelas pula masa ketentuan hak-hak, waktu-waktu ibadah dan mu’amalah.

Kemudian dikarenakan matahari dan bulan merupakan benda langit terindah yang dapat dilihat di alam atas dan bawah, maka Allah mengingatkan bahwa keduanya hanyalah ciptaan-Nya dan hamba-Nya yang berada di bahwa kekuasaan dan aturan-Nya.

Maka Allah berfirman: لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ (“Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah.”) yakni janganlah kalian berbuat syirik kepada-Nya.

Tidaklah bermanfaat bagi kalian penyembahan kalian kepada benda-benda itu bersama dengan pengabdian kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa perbuatan syirik.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 71-73; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di antara tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ialah adanya malam sebagai waktu istirahat, siang waktu bekerja dan berusaha, matahari yang memancarkan sinarnya, dan bulan yang bercahaya.

Dia yang mengatur perjalanan planet-planet pada garis edarnya di cakrawala sehingga dengan demikian diketahui perhitungan tahun, bulan, hari, dan waktu sebagaimana firman Allah:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). (Yunus/10: 5)

Setelah Allah menerangkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, Dia memperingatkan hamba-hamba-Nya agar jangan sekali-kali bersujud kepada tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya itu, seperti matahari, bulan, bintang, dan sebagainya. Jangan sekali-kali memuliakan, menyembah, dan menganggapnya mempunyai kekuatan gaib, karena semuanya itu hanya Dialah yang menciptakan, menguasai, mengatur, dan menentukan ada dan tidaknya.

Seakan-akan Ayat ini menerangkan dan mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya. Karena itu tidak pantas manusia memuliakan, menganggap keramat, dan menghormati makhluk Tuhan yang lebih rendah daripadanya. Yang patut disembah, dimuliakan, dan dihormati adalah sesuatu yang paling berkuasa dan paling mulia yaitu Allah. Seandainya ada manusia yang menyembah dan memuliakan makhluk selain Allah, berarti manusia telah merendahkan martabat dirinya sendiri.

Ayat ini juga memperingatkan manusia yang menyekutukan Allah, penyembah-penyembah patung, penyembah-penyembah matahari, bulan, dan bintang-bintang agar menyadari kedudukannya di antara makhluk-makhluk yang lain itu.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara bukti-bukti kekuasaan Allah adalah adanya gejala malam, siang, matahari, dan bulan. Maka dari itu, janganlah kalian menyembah matahari dan bulan, karena kedua-duanya hanya merupakan tanda kekuasaan-Nya. Sebaliknya, sembahlah Allah yang menciptakan semua itu jika kalian benar-benar tidak menyembah selain diri-Nya!

Surah Fussilat Ayat 38
فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ

Terjemahan: Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.

Tafsir Jalalain: فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ (Jika mereka menyombongkan diri) tidak mau bersujud atau menyembah kepada Allah semata فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ (maka mereka yang di sisi Rabbmu) yakni malaikat-malaikat يُسَبِّحُونَ (bertasbih) artinya, salat لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ (kepada-Nya di malam dan siang hari, sedangkan mereka tidak jemu-jemu) tidak pernah merasa jemu bertasbih.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah berfirman: فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ (“Jika mereka menyombongkan diri.”) yakni tidak memurnikan peribadahan kepada-Nya serta menolak apa pun kecuali menyekutukan-Nya bersama selain-Nya: فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ (“Maka mereka yang di sisi Rabb-mu.”) yaitu para malaikat, يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ (“bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.”)

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 44-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah memperingatkan Nabi Muhammad bahwa jika orang-orang musyrik yang menyembah bintang-bintang itu bersikap angkuh dan tidak mengindahkan seruannya, biarkan saja mereka dengan kesesatan yang mereka lakukan itu. Allah tidak memerlukan mereka sedikit pun. Mereka beriman atau tidak beriman tidak ada artinya bagi Allah sedikit pun.

Allah melanjutkan peringatan-Nya bahwa para makhluk yang berada di sisi-Nya lebih baik dari orang-orang musyrik itu, tidak ada yang bersikap angkuh dan menyombongkan diri kepada-Nya. Mereka senantiasa bertasbih, salat siang dan malam, dan sedikit pun mereka tidak pernah merasa jemu.

Allah berfirman: Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arasy, bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (az-Zumar/39: 75).

Tafsir Quraish Shihab: Jika orang-orang musyrik, karena sikap sombongnya, enggan mematuhi perintahmu, kamu tidak perlu menyayangkan. Karena malaikat-malaikat yang berada di hadirat kesucian-Nya, dengan tulus dan tidak bosan-bosan, selalu menyucikan-Nya dari segala kekurangan di setiap waktu, baik siang maupun malam.

Surah Fussilat Ayat 39
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةً فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ إِنَّ ٱلَّذِىٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡىِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةً (Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus) yaitu tidak ada tumbuh-tumbuhan padanya فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ (maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak) berubah وَرَبَتۡ (dan subur) yakni menjadi subur dan rimbun penuh dengan tetumbuhan.

إِنَّ ٱلَّذِىٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡىِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ (“Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya”) yakni, atas kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang mati. أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةً (“Bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus.”) artinya kering tanpa tumbuh-tumbuhan, bahkan [sebagai] tanah yang mati.

فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ (“Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.”) yaitu mengeluarkan berbagai jenis tanam-tanaman dan buah-buahan. إِنَّ ٱلَّذِىٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡىِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (“Sesungguhnya [Rabb] yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 55; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di antara bukti-bukti kekuasaan Allah membangkitkan manusia di hari Kiamat nanti ialah bumi yang tandus dan mati, tidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan sedikit pun. Akan tetapi, apabila Dia menyirami tanah itu dengan air hujan dengan mengalirkan air kepadanya, maka bumi itu berubah menjadi hijau, karena tanahnya menjadi subur dan ditumbuhi tanam-tanaman.

Allah berfirman: Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah. (al-hajj/22: 5)

Ayat ini berkaitan dengan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dengan adanya anugerah berupa air yang diturunkan dalam bentuk hujan. Pesan yang mirip, juga dapat ditemui pada Surah al-hajj/22 Ayat 5, yang pada akhir Ayatnya berbunyi: “…Dan engkau melihat bumi kering kerontang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya dia bergerak dan mengembang dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang indah.”

Kata “bergerak dan mengembang” dikaitkan dengan gerakan butiran tanah saat biji tumbuhan berkecambah dan akarnya berkembang dan tumbuh hingga menjadi pohon dewasa.

Allah yang telah menghidupkan bumi yang mati itu dengan menyiramkan air, dan menghidupkan tumbuh-tumbuhan, sehingga bumi itu menghijau, kuasa pula menghidupkan manusia yang telah mati, dan kuasa membangkitkannya dari kubur. Semuanya itu tidak ada yang sukar bagi-Nya. Semuanya mudah bagi-Nya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara bukti-bukti kekuasaan-Nya yang lain adalah bahwa bumi yang kamu lihat kering dan tandus, apabila Kami sirami dengan air hujan, akan bergerak dengan tetumbuhannya, mengembang dan bertambah subur. Yang menghidupkan bumi dari kematiannya itu, benar-benar pantas untuk menghidupkan makhluk hidup yang telah mati. Dia benar-benar Mahakuasa atas segala sesuatu. (1).

(1) Ayat ini menerangkan bahwa unsur-unsur kosmos dan lapisan tanah yang mati, apabila disiram oleh air hujan akan larut bersama air hujan. Dengan demikian, tanah itu akan mudah bergerak hingga mencapai benih dan akar berbagai macam tumbuhan yang kemudian berubah menjadi sel-sel, jaringan-jaringan, dan akhirnya organisme yang hidup. Dan dengan meresapnya air dan tumbuhnya berbagai tumbuhan, bumi menjadi tampak hidup dan bertambah besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fussilat Ayat 37-39 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S